Rabu, 22 Februari 2017



Apakah Keadilan Itu?
Suatu sore saya menyaksikan acara televisi,  tentang ajang pencarian bakat menyanyi dengan peserta anak-anak. Semakin seru saja acara tersebut. Mengingat jumlah pesertanya yang semakin berkurang, dan sebentar lagi akan memasuki babak final untuk mencari siapa yang terbaik.
Beberapa saat kemudian berdasarkan hasil pengamatan, akhirnya saya berkesimpulan dan yakin,  jika  si A ini akan berlanjut ke babak selanjutnya. Pilihan saya pun tak bertepuk sebelah tangan,  ketika ternyata para juri, juga memiliki pendapat yang sama. Ya ampun, diam-diam ternyata saya juga berbakat menjadi juri. Hehe.
Setelah itu pembawa acara mengumumkan,  perolehan polling sementara pilihan pemirsa terhadap penampilan peserta. Terbukti bahwa si A tersebut,  rating pollingnya melebihi peserta lainnya. Sesaat kemudian tampillah si B sebagai  peserta kedua,   yang menurut saya penampilannya kurang memuaskan. Lagi-lagi para juri pun  sependapat dengan saya. Yakinlah saya bahwa si B ini akan pulang.
Namun, alangkah terkejutnya saya ketika fakta yang terjadi, si A dinyatakan pulang,  dan kalah dalam kompetisi tersebut. Sedangkan si B  yang tampil kurang memuaskan tadi, justru  berhasil lolos ke babak selanjutnya, dengan perolehan polling tertinggi di antara peserta lainnya.
Saya pun berpikir mengapa ini terjadi dan mulai menyadarinya. Mungkin hal ini,  akibat adanya pengumuman perolehan polling sementara,  yang pada awalnya menempatkan si B di posisi paling bawah. Namun karena ia lebih dikenal banyak orang dibanding peserta lain, entah  karena ketampanannya atau hal lain, sehingga membuat semua penggemarnya berlomba-lomba mengirimkan polling,  yang terbukti mampu menyelamatkannya,  dari kegagalan  menembus babak berikutnya. 
Apakah si A kecewa? Apakah dalam hal ini ia mendapat keadilan? Saya yakin si A  pasti kecewa. Ia juga pasti merasakan adanya ketidak adilan. Dalam hati pasti muncul suara-suara yang membuatnya sedih. “Tadi saya sudah berusaha. Juri juga berkata,  bahwa penampilan saya sangat bagus. Tapi mengapa saya harus pulang? Sungguh ini tak adil!”
Lalu apa akibatnya? Jika si A yang masih sangat muda ini, tak mendapatkan motivasi akibat kekalahannya, maka sudah pasti ia akan terpuruk, depresi, putus asa, tidak mau mencoba lagi,  dan banyak sekali bentuk demotivasi lain,  yang akan dialaminya. Dan sungguh sangat disayangkan,  jika dalam usia yang masih terbilang muda itu, ia sudah mengalami demotivasi, sedangkan perjalanan hidupnya,  masih sangat panjang untuk ditempuh.
Ada kalanya saya juga menyaksikan ketidak adilan di luar cerita si A tadi. Betapa saya miris mendengar seorang nenek, mendapat hukuman yang sangat berat,  akibat mencuri sepotong singkong,  yang ingin ia berikan kepada cucunya untuk dimakan. Sungguh perbuatan yang ia lakukan,  bukan karena  memiliki sifat sebagai pencuri. Ia hanya ingin agar sang cucu tidak merasakan kelaparan seperti dirinya.
Nah, mungkin selama ini kita pernah  merasakan ketidak adilan dalam hidup. Merasa sudah berusaha bekerja  dengan jujur, namun promosi jabatan belum diberikan. Merasa sudah banyak membantu sesama, tetapi rezeki belum juga menghampiri. Merasa sudah melakukan banyak ikhtiar untuk mendapatkan anak, tetapi belum juga diberi kepercayaan  memiliki keturunan. Merasa sudah memantaskan diri, namun jodoh pun tak kunjung datang dan entah perasaan apa lagi. Mayoritas dari kita akan langsung menghakimi,  dan menganggap bahwa Allah sungguh tak adil. Allah tak sayang lagi, karena tidak ada satu keinginan pun dari kita yang terkabul.
Namun, apakah kita pernah berpikir bahwa ternyata,  tak terkabulnya doa  adalah sesuatu yang terbaik untuk saat ini? Bayangkan saja apa yang akan terjadi, jika kita mendapat promosi jabatan di saat tidak siap mengemban amanah. Atau mendapat rezeki nomplok tapi akibat kurang ilmu,  akhirnya terkuras habis dalam sekejap. Diberi keturunan namun ternyata tak siap dengan kerepotannya, justru akan berpotensi salah dalam mendidik anak.  Atau asal menerima saja calon pendamping yang datang,  tanpa terlebih dahulu meminta petunjukNya. Tentunya hal ini akan berdampak sangat tidak baik,  bagi kehidupan kedepannya.
Nah, jika sudah begitu,  apakah masih menganggap,  bahwa Allah telah berlaku tidak adil atas  kehidupan kita? Tentunya jika kita menyadari,  bahwa apapun yang terjadi pada hari ini,  adalah yang terbaik menurut Allah, sudah pasti kita akan berkata,   bahwa sungguh Allah Maha Adil atas semua ini. Bahwa adil menurut Allah adalah, jika setiap manusia menerima apa yang sesungguhnya ia  butuhkan. Bukan sesuatu yang ia  inginkan.
Jadi, menurut sahabat seperti apakah keadilan  itu?
Yuk Lanjut

Selasa, 14 Februari 2017


Wujud Cinta
Zaman dahulu ketika saya masih muda,  serta dengan pengetahuan agama yang pas-pasan (dan sampai sekarang pun masih pas-pasan hehe), paling bahagia rasanya,  ketika pada saat bulan telah menunjukkan Februari. Sahabat tahu mengapa? Ya, karena bulan Februari  sangat terkenal dengan fenomena kasih sayangnya.
Pada waktu itu saya sempat terhanyut karenanya. Eits,  bukan dengan pacaran atau memadu kasih yang berlebihan, ya. Sekali lagi saya berkata jujur. Saat itu saya tidak punya pacar, memang tidak ingin berpacaran,  dan ayah juga melarangnya, karena tak ingin pelajaran sekolah terganggu. Selain itu agama sudah pasti melarangnya, dan saya sangat takut untuk melanggarnya.
Lalu apa yang membuat saya tertarik,  dengan euforia bulan kasih sayang? Sejatinya hanya karena film saja,  hehehe. Sungguh, di hari kasih sayang itu mayoritas semua stasiun televisi,  banyak menayangkan film-film cinta nan romantis. Film yang membuat saya berpikir. Oh,  romantis itu seperti ini. Cinta itu ternyata sangat indah dan membuat hati bahagia.
Hmmm, fenomena hari kasih sayang saat ini, pada faktanya semakin memprihatinkan. Betapa banyak pusat perbelanjaan yang seolah berlomba-lomba,  menunjang keberadaan hari kasih sayang ini, dengan menjual aneka bunga, coklat, boneka serta pernak-pernik lainnya. Lihat saja betapa banyak pula  anak-anak usia sekolah,  dan pasangan belum menikah,  yang terpengaruh dan ikut merayakannya. Terlebih yang paling membuat saya miris, hari kasih sayang membuat mereka dengan mudahnya,  mencurahkan kasih sayang dan mengorbankan kehormatan,   pada pasangan yang belum resmi menikahinya.
Namun seiring perjalanan waktu, di saat saya semakin dewasa (baca menua),  dan telah dipertemukan dengan pasangan hidup, saya baru menyadari bahwa cinta itu lebih dari sekedar romantisme. Cinta ternyata adalah ujian, perjuangan, pengorbanan, ketulusan,  dan keikhlasan untuk selalu bersama pasangan di sepanjang sisa usia.
Ketika menikah, kita telah memutuskan sendiri,  dengan siapa akan mengarungi bahtera rumah tangga. Pada waktu itu kita telah berjanji,  untuk menjalani hari-hari dengannya,  dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Termasuk siap untuk menerima seluruh keluarganya,  dengan segala perilakunya.
Tetapi ternyata tak selamanya perjalanan rumah tangga,  selalu terisi dengan hal-hal yang indah. Di sana ada pertengkaran, perdebatan, kemarahan, amarah, air mata. Betapa tidak? Ada kalanya pasangan diuji dengan sakit,  yang membutuhkan perjuangan serta  kesabaran seorang isteri. Diuji dengan kebangkrutan,  yang memerlukan  ketulusan dan keikhlasan isteri,  untuk tak terlalu menuntut pada suami.  Diuji dengan perubahan perilaku pasangan, yang dulu tak pernah terlihat di awal-awal pernikahan. Diuji dengan  campur tangan saudara yang terkesan ikut campur dalam urusan rumah tangga.  Bahkan diuji dengan hadirnya orang ketiga,  yang bila tak mampu menghadapinya,  berppotensi memporak porandakan mahligai pernikahan.
Dan jangan salah. Bagi pasangan yang belum menikah, cinta sejatinya juga merupakan ujian. Di manakah letak ujiannya? Yaitu ketika ia harus mampu mempertahankan harga diri dan kehormatan,   dari godaan untukmenyerahkannya,  pada pasangan yang belum resmi menghalalkan hubungannya dalam ikatan suci pernikahan.
Pada akhirnya saya punmulai menyadari,   bahwa tidak ada cinta yang paling abadi,  selain cinta Allah SWT kepada hambaNya, dan cinta Rasulullah SAW kepada umatnya. Terkadang tanpa kita sadari, Allah SWT selalu  mengabulkan semua permintaan kita, memberikan kebahagiaan, kesehatan, perlindungan dan rezeki yang berkah,  di saat kita tidak pernah sekali pun mengingatNya. Sedangkan Rasulullah SAW telah menuntun kita untuk mengenal kebesaranNya, menunjukkan jalan yang benar untuk meraih ridhoNya.

Nah, apakah arti cinta bagi sahabat?
Yuk Lanjut

Sabtu, 11 Februari 2017



Dimanakah Letak Kelembutan dan Kekuatan Terbesar yang Sesungguhnya?
Malam itu saya menyaksikan sebuah tayangan televisi. Program yang bercerita tentang suka duka penegak hukum,  dalam memelihara ketertiban di masyarakat.  Awal program  terlihat biasa-biasa saja. Namun beberapa menit kemudian, kisah berikutnya menjadi sesuatu yang paling menarik di hati saya.
Diceritakan sekelompok polisi menyusun rencana, untuk  menangkap komplotan  pencuri motor yang sangat  meresahkan masyarakat. Dimulai dengan penggerebekan salah satu pelaku,  dalam rumahnya  di gang yang sempit, sampai akhirnya pencarian berlanjut  di tempat kedua, dan disinilah  polisi berhasil menangkap ketua kelompok komplotan  tersebut.
Dengan tubuh penuh tato dan wajah tak berdosa,  akhirnya si pelaku berhasil  ditaklukkan polisi. Namun sejurus kemudian saya melihat  di balik tubuh polisi,  ada seorang wanita lanjut usia, yang diketahui sebagai orangtua pelaku, keluar dari kamar tidur  dengan wajah penuh tanda tanya.
Polisi berusaha  memberi penjelasan,  bahwa anak mereka adalah target pencarian  karena  perbuatannya selaku komplotan pencuri motor. Ketika hendak membawa si pelaku ke kantor polisi,  sang ibu mencegahnya.  Wanita lanjut usia itu, meminta tolong  untuk memakaikan baju pada anaknya, karena tak ingin sang anak kedinginan. Sang ibu menghadapi kejadian tersebut tanpa menangis.
Diam-diam air mata saya menetes. Saya tak bisa membayangkan betapa sakitnya hati ibu tersebut, melihat sang anak tumbuh menjadi seorang penjahat,  yang selalu menyakiti hati orang lain. Betapa hancur hatinya, ketika mengetahui sang anak yang sedari kecil dirawatnya,  dengan harapan menjadi orang yang berguna, ternyata telah berubah menjadi monster yang meresahkan. Namun betapa luar biasanya keteguhan hatinya,  yang mampu menutupi sakit hati dan menunjukkan bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja. 
Setiap ibu yang melahirkan anaknya ke dunia,  termasuk saya, sejatinya sejak dalam kandungan selalu berdoa agar anaknya tumbuh sehat, cerdas, bermanfaat dan berakhlak baik. Apapun rela ia lakukan agar sang anak menjadi kebanggannya. Seorang ibu rela berkorban materi, tenaga, waktu, bahkan impian terbesarnya,   hanya untuk keberhasilan sang anak. Selalu menumpahkan air mata di saat sang anak berbahagia atau sedang dalam masalah. Bahkan rasa sakit yang mendera fisiknya pun,  tak pernah ia hiraukan, hanya demi bisa menemani dan mendengarkan semua celoteh anak.
Bagaimana dengan sang anak? Tak banyak anak yang mampu menyayangi  ibunya  dengan baik. Jangankan merawatnya, mendengarkan perkataan orangtuanya pun tak mau. Terlebih di zaman sekarang ini. Jika diamati seorang anak terlampau sering membantah orangtua, tak menghormatinya, berbicara dengan  kata-kata kasar, mengabaikan nasehatnya, bahkan menelantarkannya ketika kesuksesan telah diraihnya. Dan lagi-lagi orangtua menerima semua perlakuan anaknya, tetap tersenyum, dan sangat kuat menahan rasa sakit di hatinya. Rasa sayangnya pada sang anak tak pernah luntur sedikitpun dari hatinya.
Dalam hati saya berusaha mengingat kembali, seberapa besar kasih sayang yang sudah  tercurah untuk orangtua. Sudah sepadankah, masih kurang, atau berlebih? Dan pada akhirnya setelah  benar-benar diberikan kepercayaan untuk menjadi orangtua, saya telah menemukan jawabannya.
Betapa sebagai seorang ibu, saya setiap hari harus melakukan aktivitas mengurus, merawat dan memperhatikan anak sepanjang hari. Belum lagi ditambah dengan aktivitas saya sebagai karyawan. Dan seringnya pula harus rela mengorbankan waktu, tenaga, kesenangan dan membiarkan impian pergi demi anak tercinta. Tetapi anehnya semua itu saya lakukan dengan ikhlas, bersyukur dan sangat bahagia.
Dari sanalah akhirnya saya menyadari bahwa kasih sayang orangtua akan terus tercurah kepada anak selagi  masih ada di dunia ini. Bahwa apapun yang telah anak berikan kepada orangtua, selamanya  tak akan sepadan jika diperhitungkan dengan rasa cinta orangtua semasa hidupnya.
Dalam hati saya kembali terdiam. Betapa sampai dengan detik ini, saya masih merasa bersedih, karena  sudah  tak dapat lagi secara nyata, memberikan rasa bakti pada orangtua yang telah berpulang  kepadaNya beberapa tahun yang lalu. Tetapi setidaknya saya masih bisa berharap.  Semoga doa yang terpanjatkan setiap saat, akan membuat kedua orangtua saya,  mendapat tempat yang indah di sisiNya. Sebagai balasan telah mendidik titipan amanahNya dengan ikhlas sepanjang usia. 

Sahabat, orangtua adalah kelembutan dan kekuatan terbesar di dunia ini. Sayangi dan jangan sia-siakan, selama mereka masih mampu menemani hidup kita. Ketahuilah bahwa selalu ada doa terbaik dan sangat luar biasa,  yang selalu terucap demi kebahagiaan hidup anak-anaknya.  
Yuk Lanjut

Rabu, 08 Februari 2017

Prestasi Terbaik




Sore itu saya tercengang,  melihat status media sosial suami,  yang berbunyi “Prestasi Terbaik.” Dalam hati saya beryanya-tanya,  ada apakah gerangan. Apakah suami tadi pagi mendapat promosi jabatan? Jika hal itu benar adanya, maka saya adalah orang pertama yang akan bersyukur,  dan memberikan ucapan selamat padanya.
Akhirnya dengan rasa ingin tahu yang memuncak, saya bertanya tentang maksud status tersebut. Sang suami bercerita sambil tersenyum. Ternyata hari itu pada saat selesai mengerjakan tugasnya, suami beranjak ke masjid, menunggu waktu sholat,  dan mendengarkan ceramah. Suami sangat tertarik  dan terkesima,  dengan  tema yang diberikan oleh sang ustad.
Ustad memberikan ceramah dengan tema prestasi terbaik. Dikisahkan bahwa pada zaman dahulu,  banyak figur-figur pahlawan yang sangat berjasa bagi negara, gugur dalam membela kehormatan bangsa, diusia yang terbilang masih muda. Tetapi dengan segudang prestasi dan jasanya,  mampu membuatnya dikenang sepanjang masa.
Notabene sangat berbanding terbalik dengan kondisi saat ini, dimana banyak orang bahkan sampai dengan lanjut usia, belum pernah sekalipun menorehkan prestasi,  yang mampu  membuat orang lain, untuk selalu teringat padanya. Suami pun mengakhiri kisahnya sambil tersenyum dan berucap,  bahwa ia berkeinginan pula memiliki prestasi,  yang dapat diingat orang lain sepanjang masa. Itulah asal muasal sebenarnya status di media sosialnya hari itu.  
Prestasi terbaik. Sebenarnya semua manusia yang hidup di dunia ini,  sejak kecil sejatinya ingin dikenal dan berprestasi. Maka bukan suatu hal yang aneh, jika banyak sekali ajang pencarian bakat,  yang melibatkan peserta dari kalangan anak-anak hingga dewasa. Atau ada pula lomba di bidang akademik, olahraga atau seni, yang semuanya bertujuan mencari figur-figur berprestasi. Tak bisa dipungkiri, bahwa prestasi yang didapat, akan efektif mendatangkan ketenaran, kebahagiaan, sekaligus limpahan materi  yang tak sedikit.
Ketika  seseorang berhadapan dengan pertanyaan,  apa yang telah menjadi prestasi terbaiknya saat ini, tentu beragam jawaban mereka ungkapkan. Ada yang merasa bangga,  karena pernah berprestasi di bidang pendidikan, olahraga, seni atau ketrampilan. Ada pula yang berujar bahwa,  mendapatkan promosi sampai  puncak karir,  adalah suatu prestasi tertinggi dalam hidupnya.
Nah, bagaimana jika pertanyaan tersebut ditujukan kepada saya? Hmmm, jujur sedari kecil saya tidak pernah berprestasi. Juara kelas selalu terlewatkan, tak pernah menang lomba olahraga ataupun seni. Saya tak pernah mengenal bagaimana rasanya menjadi juara, naik ke podium dan mengangkat piala.
Tetapi, setelah merenung  kembali, saya baru ingat,  bahwa sudah tiga tahun ini, meskipun masih harus terus memperbaiki diri, saya telah berusaha belajar,  menjadi ibu dan isteri yang baik. Saya tak pernah berhenti mencari ilmu, selalu belajar bersyukur, berusaha untuk bahagia, dan ikhlas dalam menjalani hidup, serta sedapat mungkin bermanfaat bagi orang lain.
Dan saya pun tersenyum ketika pada akhirnya, telah menemukan prestasi terbaik dalam hidup yang sesungguhnya. Menjadi pribadi yang penuh syukur,  dan berusaha bermanfaat bagi sesama. Memang prestasi ini tidak akan membuat saya terkenal seantero dunia. Tetapi setidaknya saya masih bisa  berharap,   menjadi seorang manusia yang dikenal olehNya.



Yuk Lanjut

Senin, 06 Februari 2017




Dulu dan Sekarang

Enam tahun yang lalu, sebelum diizinkan memiliki keturunan, saya memutuskan memilih  berkarir di bagian internal audit perusahaan. Sebuah profesi yang menuntut  selalu bepergian ke berbagai daerah, membutuhkan fisik dan mental baja, serta merasakan dahsyatnya pergolakan batin,  antara bertugas atau meninggalkan keluarga.
Enam tahun yang lalu, sebelum diizinkan memiliki keturunan,  yang saya pikirkan hanya bagaimana caranya dapat berkarir di sana dan menjalaninya. Terbersit dalam pikiran menjadi seorang auditor itu enak. Bisa berjalan-jalan gratis (dibiayai perusahaan),  ke daerah yang belum pernah dikunjungi, melakukan wisata kuliner (ini yang paling saya suka), bertemu dengan orang-orang baru, dari berbagai daerah di Indonesia, senangnya mempelajari bahasa dan budaya selain suku Jawa, berburu oleh-oleh cantik dan masih banyak lainnya. 
Namun bagaimana dengan sekarang? Saya telah memiliki seorang gadis kecil yang manis. Malaikat kecil  yang  sangat saya nantikan dalam hidup ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya,  ia akan hadir dalam kehidupan pernikahan kami. Sungguh kehadirannya mampu  merubah pola pikir dan keseharian kami.
Pada awalnya sering berjalan-jalan berdua bebas sesuka hati, kini hanya dilakukan jika cuaca sedang cerah. Hanya karena satu alasan. Takut putri kecil kami sakit. Melakukan wisata kuliner pun sudah jarang. Apalagi menonton bioskop. Berangkat ke kantor yang biasanya langsung berangkat, kali ini harus mengajaknya berkeliling terlebih dahulu. Pulang kantor pun harus rela untuk mengajaknya bermain, di saat kantuk dan lelah melanda. Sekali lagi hanya karena satu alasan, demi anak.
Lalu bagaimana dengan aktivitas sebagai internal auditor? Dalam hal ini saya pun  harus rela  mengubur dalam-dalam,  semua keinginan yang terbayangkan sebelumnya. Kini setiap akan ditugaskan berangkat keluar kota, harus ikhlas ketika tidak diijinkan suami. Dengan satu alasan, demi anak.
Pada saat itulah untuk pertama kalinya,   saya juga merasakan rasa iri yang teramat dalam,  kepada teman-teman yang berkesempatan menjalankan tugas mulia itu. Untuk pertama kalinya saya bersedih, membayangkan  betapa bahagianya mereka,  ketika  bercerita tentang pemandangan indah di luar sana. Juga menelan ludah,  pada saat mereka berkisah,  lezatnya masakan khas daerah yang baru dikunjungi. Dan betapa saya juga ingin,  memiliki rezeki tambahan seperti yang mereka terima, hasil dari kerja keras selama bertugas.
Ya, saat ini saya terlihat kurang mensyukuri hidup. Saya telah  melupakan, bahwa ada banyak hal dalam hidup, yang patut untuk disyukuri. Memiliki pasangan hidup yang sabar, putri kecil yang manis, kesehatan jasmani dan rohani, kesempatan mendapatkan rezeki yang berkah, serta kehidupan bahagia yang belum tentu dirasakan orang lain.
Dulu dan sekarang sejatinya terus menerus berubah sepanjang waktu. Tiada yang abadi selain perubahan. Seiring dengan perjalanan waktu, seyogyanya rasa syukur pun harus selalu bertambah, karena nikmat Sang Maha Kuasa tak akan pernah berhenti menghujani kehidupan.
Antara dulu dan sekarang......Bagaimana kisahmu, sahabat?
Yuk Lanjut

Kamis, 02 Februari 2017


Tentang Kekerasan

Berita selebriti beberapa waktu lalu,  sungguh membuat hati saya miris. Berkisah tentang adik perempuan artis  ternama di tanah air, yang mengalami penyiksaan fisik tak berperikemanusiaan,  dari seorang pria tak dikenal. Berdalih hanya ingin melihat properti rumah yang dijual oleh si korban, namun ternyata ada rencana sangat keji di baliknya. Rencana yang mampu memporak porandakan masa depan cerah korban dari perilaku biadabnya. 
Alangkah kejam perbuatannya, hingga mampu meninggalkan trauma seumur hidup bagi sang korban. Pelaku melakukannya seolah-olah tidak ingat lagi,  bahwa ia masih memiliki saudara perempuan dan  anak perempuan. Bahkan terlahir dari seorang perempuan, yang telah mengandungnya dengan susah payah,  selama sembulan bulan lamanya. Penuh perjuangan, pengorbanan, dan tetesan air mata,  demi melahirkannya dan tumbuh di dunia. 
Teringat kembali dua hari yang lalu, seorang teman baik bercerita,  bahwa sampai-sampai ia membawa gunting kemana-mana, terlebih pada saat mengendarai motornya di malam hari.  Tanpa menghiraukan bahwa bisa saja,  justru ia yang akan berurusan dengan pihak berwajib,  karena membawa senjata tajam. Semua itu dilakukan, karena ia begitu takut jika ada pelaku kejahatan mendekatinya,  dan berusaha merampoknya. Dan entah gambaran kengerian apa lagi yang ada di kepalanya. 
Banyak  yang beranggapan,  kejadian kekerasan pada perempuan,  mayoritas disebabkan oleh dirinya sendiri. Seperti mengenakan pakaian dan perhiasan yang mengundang kejahatan, atau emosi berlebihan,  yang memancing kemarahan di pihak lawan bicara. Jarang sekali menyinggung kaum  pria,  sebagai pihak yang faktanya lebih mampu melakukan aksi kejahatan tersebut.
Pro dan kontra serta saling menyalahkan  terhadap suatu permasalahan,  tetap menjadi suatu keniscayaan,  dalam kehidupan di dunia ini. Namun bagi saya,  adalah suatu keharusan untuk mengevaluasi diri, serta lebih memikirkan, solusi apa yang bisa dilakukan, demi terhindar dari suatu kejahatan. Seperti halnya sedia payung sebelum hujan, maka alangkah baiknya seorang wanita,  untuk selalu berhati-hati dan lebih menjaga kewaspadaan. 
Kenakanlah pakaian yang menutup aurat, hindari berbusana berlebihan dengan segala asesorisnya,   kendalikan emosi, hindari bersikap terlalu kasar,  pada pasangan atau lawan bicara. Bagi yang telah  menikah, bersyukurlah, berusaha berikan pelayanan yang terbaik kepada pasangan dan tetaplah setia.  
Namun terlebih dari semua itu,  bekali diri dengan kekuatan doa. Awali dan akhiri hari dengan berdoa. Berdoalah memohon perlindunganNya. Yakinlah bahwa tidak ada penjagaan yang paling baik selain dari penjagaanNya. 



Yuk Lanjut

8 Manfaat Ngeblog bagi Ibu Rumah Tangga, No 8 Asyik Banget

                                                                               Pexels Menekuni dunia menulis di media blog sejak lima tahun ...