Kamis, 27 April 2017

Pemimpin Berkarakter Delapan Benda Langit itu Bernama Abdullah



Abdullah. Nama yang singkat namun penuh makna. Lima tahun yang lalu, kami pertama kali melihatnya. Saat beliau datang karena menjalankan surat keputusan perusahaan,  yang memutuskanya memimpin di unit kerja kami. Dari beberapa orang pimpinan yang silih berganti datang ke tempat ini, baru sekarang kami merasakan seuatu yang berbeda. 

Gaya kepemimpinannya sangat unik. Menurut pendapat kami, baru kali inilah ada seorang pemimpin yang sangat akrab dengan karyawannya. Tertawa bersama, kami bisa bebas berbicara apa saja,  dengan style kami masing-masing. Sampai-sampai, maaf,  seperti tidak ada jarak diantara kami. Atau dalam bahasa jawa “Ora Nyungkani.” Hehe.

Sekian lama bergaul dan bekerja sama, akhirnya kami baru menyadari,  bahwa beliau mempunyai kehebatan yang belum tentu dimiliki oleh pemimpin lainnya. Ya, bagi kami beliau adalah salah satu pemimpin, yang  berkarakter seperti delapan benda langit ciptaan Allah SWT.

Matahari. Matahari adalah benda langit yang selalu tepat waktu,  dan ikhlas dalam menyinari dunia. Matahari bermanfaat memberi kehidupan bagi setiap makhluk, tanpa mengharapkan balasan apapun. Pemimpin berkarakter matahari,  adalah pemimpin yang disiplin dalam setiap perbuatannya,  serta selalu memberikan ilmu dan bimbingan kepada karyawannya tanpa pamrih. Dalam bekerja,  kami benar-benar belajar dari Bapak Abdullah,  untuk selalu disiplin dalam segala hal. Entah kehadiran di kantor, juga dalam penyelesaian target pekerjaan. Beliau memberi contoh nyata,  sehingga pada akhirnya kami mengetahui,  bahwa betapa terbiasa disiplin,  akan memberikan banyak manfaat dalam kehidupan.

Bulan. Bulan adalah benda langit yang bersinar di malam hari,  dan memberikan penerangan bagi seluruh makhluk di dunia. Selayaknya bulan yang selalu muncul di malam hari, Bapak Abdullah selalu membimbing,  ketika kami mengalami kesulitan. Sering kali beliau bertanya,  apa saja kesulitan yang kami hadapi dalam bekerja, memberikan arahan dan petunjuknya. Lebih banyak berdiskusi, sehingga tak ada kesan menggurui. Pada akhirnya yang terlihat adalah sekumpulan orang dalam satu tim,  yang sedang duduk bersama menyelesaikan satu permasalahan. Sama sekali tak terlihat pemandangan seorang  bos yang sedang menyalahkan pegawainya.

Bintang. Bintang adalah benda langit yang berfungsi memberikan penerangan,  bagi nelayan yang sedang berlayar di tengah samudra. Nelayan yang kebingungan, seringkali mencari petunjuk arah dengan bantuan bintang ini. Bagaikan bintang di langit yang memberi petunjuk arah, Bapak Abdullah selalu memberikan petunjuknya,  ketika kami  mengalami kesulitan dalam hal pekerjaan. Beliau adalah orang yang konsisten dalam perkataannya,  sehingga selalu menjadi pedoman bagi kami semua. Jika ada perbedaan pendapat itu sebenarnya wajar adanya. Tetapi pada akhirnya berkat arahannya yang tak terkesan menyombongkan diri, membuat kami semua dapat  menerima semua masukan darinya,  tanpa harus berdebat lebih jauh. 

Awan. Awan adalah benda langit yang menakutkan jika berwarna hitam, namun ketika telah turun menjadi hujan, dapat membawa kehidupan bagi para petani dan sawahnya. Seorang pemimpin yang baik,  pada dasarnya memang memiliki kewibawaan di depan karyawannya. Namun kewibawaan sejati bukan hasil dari sifatnya yang keras dan ditakuti. Kewibawaan pada seorang pemimpin justru terlihat, ketika ia bermanfaat bagi karyawan dan perusahaan. Selalu memperjuangkan hak dan masa depan karyawan,  jauh sebelum memikirkan hak dan masa depannya sendiri. Dan seperti itulah yang terlihat pada diri Bapak Abdullah saat ini. Betapa kami menyaksikan sendiri,  beliau berlari kesana kemari, menghubungi siapa saja yang beliau kenal, memohon belas kasihan agar kami semua karyawannya,  dapat menempati posisi yang nyaman pasca perubahan struktur perusahaan ini.

Angin. Angin adalah benda langit yang mampu berada di segala ruangan, entah lebar maupun sempit. Selayaknya angin, pemimpin yang baik adalah orang yang mampu berkomunikasi dengan siapa saja di sekitarnya. Komunikasi yang nyaman, akrab dab tanpa jarak. Hal itu pula yang menjadi kelebihan Bapak Abdullah. Beliau mampu berkomunikasi dengan siapa saja,  tanpa melihat perbedaan yang ada di antara kami. Pandai menyesuaikan diri, sehingga kami pun menjadi nyaman berkomunikasi setiap hari. 

Samudra. Pernahkah teman melihat samudra? Ya, samudra adalah tempat tertampungnya air dari segala penjuru. Pemimpin yang baik adalah pemimpin  yang dapat menerima semua ilmu dan pendapat,  dari segala arah termasuk dari karyawannya sendiri. Tak pernah menolak dengan mengedepankan alasan “Aku yang lebih tau masalah ini.”  Begitupun Bapak Abdullah. Pada saat beliau menyampaikan pendapat yang menurut kami salah, beliau tidak pernah menolak untuk mendengarkan semua argumen kami. Semua pendapat kami beliau tampung, dan baru setelah itu kami berusaha untuk sama-sama menyamakan persepsi. Alhasil, pekerjaan pun menjadi terselesaikan dengan cepat, tanpa perselisihan yang cukup berarti. 

Bumi. Seperti  sifat bumi yang mampu menyangga semua makhluk yang ada di atasnya, seorang pemimpin hendaknya kuat, tidak cengeng,  dan dapat menghadapi semua persoalan dengan baik. Itulah yang terihat dalam diri Bapak Abdullah. Beliau adalah pemimpin yang ada kalanya membantu mempermudah pekerjaan kami, karena menyaksikan sendiri betapa kami susah payah dalam menyelesaikan target pekerjaan. Sering terlihat pula betapa   beliau selalu menjadi yang terdepan,  dalam menjawab setiap permasalahan pekerjaan.  

Api. Api adalah benda langit yang mampu membakar semua barang yang ada di sekitarnya. Pemimpin berkarakter api,  adalah orang yang mampu bersikap adil terhadap seluruh karyawan tanpa kecuali. Kami ingat betul betapa Bapak Abdullah,  pernah memarahi dan mengingatkan kami semua, hanya karena satu orang yang terlambat datang ke kantor. Awalnya kami menggerutu, namun pada akhirnya kami menyadari,  bahwa ada hikmah yang baik di balik kemarahannya waktu itu. 

Kini tanpa terasa, setelah lima tahun berlalu, di hari ini kami akan berpisah dengan Bapak Abdullah. Pemimpin yang terbukti berkarakter seperti delapan benda langit. Tugas  baru telah menantinya di kota metropolitan,  yang  tak pernah beliau bayangkan sebelumnya. 

Selamat jalan Bapak Abdullah. Tetaplah menjadi pemimpin seperti matahari, bulan dan bintang yang menyinari. Seperti awan yang berwibawa karena bermanfaat. Seperti angin dan samudra yang mampu berkomunikasi,  dan menerima ilmu dari siapa saja. Juga seperti bumi yang mampu menjadi tempat bersandar,serta seperti api yang sanggup untuk bersikap adil.

Percayalah. Salah satu hal terindah dalam hidup kami, adalah saat kami dipertemukan dan belajar banyak hal dari Engkau. Tak banyak yang dapat kami lakukan untuk membalas segala kebaikanmu. Selain seuntai doa kepada Sang Maha Kuasa, agar selalu memberikan keberkahanNya dalam setiap perjalanan hidupmu.  
Yuk Lanjut

Selasa, 18 April 2017

Takdir Manusia Antara Diuji dan di Ujung




Dulu saya mempunyai sahabat baik. Sepasang suami isteri yang ramah, lembut,  dan baik hati. Persahabatannya sangat luar biasa. Pandai berbaur dengan siapapun termasuk yang berusia muda. Kami saling mengenal saat dipertemukan dalam satu komunitas olahraga. Dari sepasang suami isteri ini saya belajar banyak hal. Terutama tentang bagaimana menjadi orangtua yang baik,  dan selalu rukun dalam membina rumah tangga. 

Sang suami berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta. Kecintaannya  akan belajar,  membawanya mencapai gelar tertinggi dalam bidang akademik. Sedangkan sang isteri hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, dan sehari-harinya mengurus dua putra putri  yang sudah menginjak dewasa.

Seminggu dua kali kami bertemu dan berolahraga bersama. Keduanya terlihat sehat dan bahagia. Sampai suatu saat saya melihat sang isteri mulai mengeluh kesakitan. Ternyata baru saya sadari,  jika beliau telah menderita penyakit kanker rahim sejak lama. Hanya saja beliau masih berjuang untuk tetap sehat. Dalam hati saya merasa sedih. Penyakit yang diderita beliau,  sama dengan penyakit yang merenggut nyawa ibu saya beberapa tahun silam. 

Beberapa waktu berlalu. Mereka berdua mulai jarang menampakkan diri di komunitas olahraga kami. Setelah bertanya sana sini, akhirnya saya mengetahui bahwa sang isteri telah dirawat di sebuah rumah sakit. Menunggu waktu operasi,  untuk membuang penyakit ganas yang bersarang di tubuhnya. 

Atas dasar pertemanan yang sudah seperti keluarga, saya menemaninya menjalani masa-masa berat itu. Dua hari kemudian sang isteri dijadwalkan operasi. Saya pun masih ada di sana, memberi semangat dan mendoakannya. Waktu terasa begitu lama berlalu. Sang isteri pun telah selesai menjalani operasinya. Tak henti saya mengucap syukur padaNya atas kelancaran proses operasi tersebut. 

Di ujung selasar rumah sakit itu, saya diam-diam menangis. Teringat kembali perjuangan mendiang ibu,  untuk bisa sembuh dari penyakit mematikan ini. Diam-diam terdengar langkah mendekati,  dan tangan lembut menyentuh pundak. Terdengar suara lembut sang suami “Mbak, jangan bersedih. Takdir manusia  memang seperti itu. Manusia itu kalau tidak diuji ya di ujung.”

Tercekat saya mendengar kalimat itu. Kalimat yang bermakna sangat dalam tentang takdir manusia.  Merenung cukup lama. Mengingat kembali perjalanan hidup saya. Saya pun mulai mengamati satu per satu sosok yang lalu lalang. Mereka adalah manusia-manusia yang sedang diuji oleh PenciptaNya. Termasuk saya. Dan mereka tidak mengetahui ujung dari perjalanan hidupnya. Termasuk saya.

Seminggu kemudian terdengar berita duka itu. Teman baik saya telah kembali kepadaNya. Meninggalkan keluarga tercintanya termasuk saya sahabat baiknya. Tak kuasa lagi rasanya meneteskan air mata. Sang teman yang penuh cinta itu,  telah pergi meninggalkan kenangan indah,  di hati orang-orang yang mencintainya.

Akhirnya ia telah sampai pada ujung perjalanannya sebagai manusia. Yaitu kembali kepadaNya dengan membawa semua amal baiknya.
Yuk Lanjut

Minggu, 16 April 2017

Kehilangan





Suatu hari saya mendengar dua berita kehilangan sekaligus. Sama-sama berasal dari dua orang sahabat baik. Sahabat pertama harus merelakan komputer dan laptop kesayangannya diambil oleh manusia keji. Dan sahabat kedua harus merelakan calon buah hatinya,  diambil oleh Sang Maha Kuasa.


Sahabat pertama menceritakan bagaimana proses kehilangan itu. Di saat kondisi rumah sepi,  hanya ada putra semata wayangnya dan  seorang asisten rumah tangga yang sudah tua, tiba-tiba saja si manusia kejam itu masuk ke dalam rumahnya. Meyakinkan bahwa ia adalah utusan sang sahabat untuk memperbaiki komputer dan laptopnya. Asisten rumah tangga yang tanpa curiga membiarkan saja perbuatannya, dan manusia itu pun bebas melangkah keluar rumah,  tanpa rasa takut dan bersalah.


Sahabat kedua seorang perempuan yang sedang menantikan calon buah hati yang pertama. Mendengarkan ceritanya setiap hari tentang kehamilannya,  sungguh membuat hati ini bahagia. Karena disitulah saya bisa mengingat kembali,  betapa saya dulu pernah berjuang untuk mengandung, dan melahirkan seorang anak. Dan tiba-tiba saja di hari itu ia berkisah,  bahwa sang calon buah hati sudah tidak terdeteksi lagi  detak jantungnya. Hati pun semakin miris mendengar curahan hatinya,  bahwa dokter harus mengambil tindakan untuk menggugurkannya.


Kehilangan. Saya rasa setiap orang pernah merasakan kehilangan. Kehilangan orangtua, anggota keluarga, kehilangan teman karena salah paham, kehilangan benda kesayangan. Ketika mengalami kehilangan, mayoritas manusia tak mampu menghadapinya. Ada yang menangis meratapi, bersedih hati sepanjang hari, tak bersemangat lagi menjalani hidup, merasa paling sial di dunia ini. Bahkan yang paling menakutkan adalah ingin mengakhiri hidupnya sendiri.


Ketika seseorang mengalami kehilangan, banyak orang disekelilingnya memberi nasehat. Jangan terlalu memikirkan kehilangan yang baru saja terjadi. Ingatlah  bahwa harta benda, anggota keluarga dan teman adalah titipan dariNya. Jangan disimpan dalam hati. Agar selalu ikhlas ketika mengalami kehilangan. Tetap bersyukur bahwa Yang Maha Kuasa masih melindungi,  dan pasti akan memberikan pengganti yang lebih baik. Itu pula yang selalu saya katakan pada semua teman yang mengalami kehilangan.


Bagi orang yang mengalami sendiri kehilangan tersebut  pasti berpikiran, mudah saja memberi nasehat seperti itu. Sangat mudah mengucapkannya. Namun bagaimana ketika mengalaminya sendiri? Jujur sampai dengan detik ini, saya pun ternyata hanya bisa berucap saja. Dan akhirnya merasakan sendiri bahwa  tak mudah untuk melewatinya,  ketika harus  kehilangan orangtua tercinta.


Hmmmm, mungkin benar adanya. Bahwa kehilangan harta benda atau sesama manusia,  adalah satu hal yang seharusnya bisa disikapi dengan baik. Dalam arti bersedih sewajarnya,  setelah itu bangkit untuk menjalani hidup yang sudah ada di depan mata. Berusaha tak  terlalu larut dalam kesedihan,  yang hanya semakin membuat mata dan hati buta. Berusaha menempatkan semua milik kita hanya sebagai titipan,  yang sewaktu-waktu dapat diambil olehNya dengan berbagai cara.  Agar ikhlas menghadapinya.


Namun pada suatu saat saya pernah mengalami suatu kehilangan yang sangat berbeda. Ya, saya pernah merasakan hilangnya keyakinan dan kepercayaan,  bahwa Allah SWT adalah Maha Segala-galanya dalam hidup ini. Saya pernah meragukanNya sebagai satu-satunya penolong,  dan pemberi solusi masalah yang terbaik. Saya pernah tidak percaya bahwa Ia adalah The Only One,   yang sanggup melindungi diri ini. Saya juga pernah mengabaikanNya bahwa Ia adalah The Only One yang selalu memberikan kebahagiaan,  dan karunia tak terhingga dalam hidup saya. Saya lupa bahwa saya banyak mengalami kejadian indah atas ijinNya. Dan juga mengalami hal menyedihkan,  karena kasih sayangNya yang begitu besar kepada saya.


Sehingga akhirnya saya sering menggerutu, menghujat, meremehkan, dan meragukanNya. Dan parahnya,  hal itu justru berujung pada kurang istiqomahnya saya dalam berbicara kepadaNya. Ibadah menjadi berantakan. Jarang merenungkan,  mengapa saya sering menjadi kurang mampu mengendalikan diri.  Lebih sering mengandalkan bantuan orang lain,  daripada mengandalkan pertolonganNya. Lebih senang mencari seseorang sebagai tempat mencurahkan isi hati, dibanding berkeluh kesah padaNya. Padahal sekali lagi,  Ia Maha Segalanya dalam hidup manusia.
 
Dari pelajaran itulah saya akhirnya menyimpulkan. Bahwa setiap orang boleh merasakan kehilangan. Jangan terlalu bersedih,  ketika harus kehilangan sesuatu yang hanya bersifat titipan. Tetapi bersedihlah dengan amat sangat,  ketika mendapatkan kenyataan,  bahwa kita telah kehilangan keyakinan dan kepercayaan kepadaNya. Karena ketika kita sudah benar-benar kehilanganNya, maka kehancuran dan perjalanan tak tentu arahlah,  yang akan selalu menemani hari-hari kita. Dan sanggupkah kita untuk menghadapinya? 


Yuk Lanjut

8 Manfaat Ngeblog bagi Ibu Rumah Tangga, No 8 Asyik Banget

                                                                               Pexels Menekuni dunia menulis di media blog sejak lima tahun ...