Sabtu, 30 September 2017

Tetangga Oh Tetangga (Bagian Kedua)


Masih berbicara tentang tetangga, saya pernah juga mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan. Ceritanya waktu itu saya menjadi bahan perbincangan tetangga. Dan jujur sedikit  terganggu juga dengan hal itu.


Sehari-harinya saya adalah seorang karyawati. Bekerja selama lima hari merupakan aktivitas yang harus saya lakukan, dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Alhasil setiap hari saya pun harus menitipkan anak semata wayang, kepada saudara ipar di rumahnya.


Kebiasaan itulah yang akhirnya membentuk image di mata tetangga, bahwa setiap hari anak saya diasuh oleh semua orang yang ada di rumah adik ipar. Termasuk ibu mertua. Dan saya tidak pernah mengasuh anak sendiri. Itulah pemahaman yang ada di semua kepala tetangga.


Pada malam kemerdekaan beberapa bulan  lalu, sudah menjadi agenda rutin di lingkungan warga, untuk mengadakan malam renungan dan doa bersama. Waktu itu saya merasa cukup lelah dengan kondisi pekerjaan kantor serta perjalanannya. Sehingga memutuskan untuk tidak menghadiri acara tersebut, dan beristirahat di rumah.


Tetapi karena merasa sungkan dan tidak enak hati, saya berusaha untuk menghadirinya. Di acara tersebut saya duduk di bagian belakang. Anak-anak beserta anggota keluarga lain sudah datang terlebih dahulu, dan menempati tempat duduk di depan, karena sangat ingin menikmati acara dari dekat. 


Sepulang acara tersebut, ibu mertua bercerita bahwa ada tetangga yang bersikap kurang menyenangkan. Si tetangga berkata kepada adik ipar "Annisa kok masih membuntuti kamu terus sih? Itu lho ibunya sendiri ada di belakang. Kok tidak sama ibunya? Apa ibunya keberatan mengurus anaknya sendiri?"


Ya ampun. Seketika itu juga telinga  terasa panas. Dalam hati saya berkata "Ini tetangga kenapa ya? Kok seenaknya saja ikut campur urusan orang lain. Padahal dia tidak tahu betul kondisi rumah yang sebenarnya. Sepulang kantor saya masih berusaha mengurus anak sendiri. Saya tidak pernah mau tahu dengan urusan keluarganya. Kok jadi dia dengan seenaknya ikut campur urusan orang lain?" Dan banyak lagi gerutuan yang ada di hati ini.


Entahlah. Pada awalnya saya tak bisa menerima perlakuan tetangga tersebut. Biar bagaimanapun saya adalah manusia,  yang terkadang merasa tidak nyaman, dengan perilaku kurang menyenangkan dari orang lain.


Tetapi setelah saya berpikir kembali, tetangga juga merupakan manusia,  yang memiliki sifat dan karakter berbeda. Bisa jadi ia khilaf, atau memang sudah merupakan sifatnya, yang selalu ingin mencampuri urusan keluarga lain. 


Namun sejatinya perlukah kita menanggapinya secara berlebihan? Perlukah larut dalam permainannya,  serta membiarkannya bersorak ketika mengetahui,  kita bersedih dan marah dengan perlakuannya?


Saya rasa kita seharusnya bersikap tenang,  dan tak perlu terpengaruh. Bukankah kita memenuhi kebutuhan keluarga dengan hasil kerja keras sendiri? Kita pasti selalu berusaha,  untuk tidak  mencoba meminta-minta bantuan pada tetangga. 


Biarkanlah ia bersikap kurang baik. Hal paling penting adalah, hanya kita sendiri yang mengetahui kondisi keluarga. Kita sendirilah yang paling paham niat baik untuk keluarga. Tugas kita hanyalah tetap bersikap baik, dan membantu orang lain yang membutuhkan. Termasuk tetangga. Agar hati tenang, dan pahala kebaikan tetap mengalir, sebagai bekal kehidupan di akhirat nanti. 
Yuk Lanjut

Tetangga Oh Tetangga (Bagian Pertama)

Suatu hari seorang teman baik memasuki ruangan kantor sambil menggerutu. Ketika saya bertanya ada apa gerangan, sontak ia menjawab "Gemes aku, Mbak. Aku tadi terlambat satu menit!" Saya heran karena terlambat sebenarnya bukan merupakan kebiasaannya.


Seolah menjawab pertanyaan saya ia berkata lagi "Ini semua karena tetanggaku, Mbak. Tadi pagi dia berdiri di depan pagar rumahku. Aku jadi tidak bisa mengeluarkan motorku. Malah dia mengajak aku bergosip!"


Sejurus kemudian si teman bercerita,  bahwa mayoritas tetangga di rumah barunya, adalah orang-orang yang suka bergosip. Apa saja bisa menjadi bahan gunjingan. Lucunya mereka semua sering berkumpul di depan rumah si teman. Seolah tempat itulah yang paling pas untuk melaksanakan niat mereka.


Tetangga adalah kumpulan orang-orang yang ada di sekitar tempat tinggal. Kondisinya yang sangat dekat dengan rumah, membuat kita sangat membutuhkan mereka. Pergaulan dengan mereka yang terjadi sehari-hari, terkadang membuat hubungan menjadi seperti  saudara. Sehingga wajar saja jika ada yang mengatakan, bahwa tetangga adalah saudara yang terdekat.


Namun tetangga juga merupakan kumpulan orang berbagai karakter yang tidak sama dengan kita. Perbedaan karakter inilah yang membuat kita harus pandai-pandai bersikap. Sebab sekali kita salah berperilaku di depan tetangga,  maka justru akan timbul permasalahan. Bahkan ada yang berujung pada dendam pribadi.


Maka jika sekiranya ada tetangga yang memiliki perangai tak sesuai dengan kepribadian kita, maka sedapat mungkin ambillah yang baik-baik saja pada dirinya. Jangan menghindar atau menunjukkan sikap tidak suka. Jikalau si tetangga tersebut masih bisa diberi masukan, berikanlah dengan sopan dan tidak menggurui.

Pada akhirnya tetaplah membina hubungan baik dengan semua tetangga. Apapun sifat dan karakter  mereka. Sebab biar bagaimanapun semua orang pasti memiliki sisi baik, yang dapat  diambil sebagai pelajaran dalam hidup kita.
Yuk Lanjut

Jumat, 29 September 2017

Berdzikirlah, Maka Semua Akan Baik-baik Saja

                                                Sumber gambar : google.com



Tiga hari yang lalu saya sangat terkejut mendengar  bahwa suami mengalami kecelakaan motor. Di satu jalan yang selalu beliau lewati ada satu genangan oli motor,  yang menyebabkan empat motor bertabrakan beruntun. Punggung suami pun mengalami sedikit cedera,  akibat terjatuh dalam posisi duduk dan menahan motor.

Karena takut  cedera tersebut semakin parah, akhirnya saya membawa suami ke tempat tetangga,  yang kebetulan memiliki keahlian memijat. Saya pun menunggu proses pemijatan itu  dengan sabar. Sejurus kemudian suami keluar dari ruangan bersama si tetangga. Dan tak lama kami pun terlibat perbincangan yang seru. 

Dari perbincangan tersebut saya tertarik dengan salah satu ucapan si tetangga. Beliau berkata “Mbak, aku itu setiap kali naik motor, selalu berdzikir dan pasrah. Insya Allah hati tenang, selamat,  dan tidak terjadi apa-apa.” Saya pun mengangguk-angguk mendengar kata-katanya. 

Jujur dalam hati saya sepakat dengan pernyataannya. Teringat kembali  beberapa waktu   lalu saya mengalami suatu kejadian yang cukup mengerikan. Ceritanya saya berboncengan motor dengan seorang teman, melewati  jalan raya yang sangat ramai. Berbagai kendaraan ukuran kecil sampai besar, semua tumpah ruah di jalan tersebut. Dikemudikan dengan sangat cepat oleh pengemudinya. Seolah-olah masing-masing ingin berebut segera sampai di tempat tujuan.

Namun tanpa terduga tiba-tiba motor yang kami kendarai mengenai sebuah paku dan memecahkan ban. Motor pun oleng dan kami hampir terjatuh di tengah jalan,  yang ramai oleh kendaraan besar seperti truk, bus dan kendaraan pribadi. Kami pun sudah tidak bisa berpikir,  apa yang terjadi setelah itu. Kami hanya bisa memejamkan mata,  dan membayangkan,  di belakang  ada sebuah truk besar yang siap menyambar tubuh kami. 

Tetapi setelah tersadar, kami akhirnya menemukan fakta,  bahwa kami sudah berada di pinggir jalan. Dan kami baik-baik saja. tanpa ada sedikit luka pun di tubuh kami. Kami masih bernafas dan bisa berjalan. Sejurus kemudian kamu bersyukur tiada henti, dan memuja kebesaranNya. Betapa tidak. Jika hari itu telah ditentukan sebagai takdir terburuk,  tentu kami sudah celaka. Tak dapat bertemu lagi dengan keluarga tercinta,  dan tak bisa melakukan apa-apa. 

Pada saat menunggu si bapak penambal ban yang baik hati memperbaiki motor kami, saya duduk termenung merenungkan kejadian yang baru saja terjadi. Saya masih bertanya-tanya, mengapa kami dalam kondisi baik-baik saja. Akhirnya saya baru menyadari,  bahwa sepanjang perjalanan tadi saya tak henti berdzikir dalam hati. Semasa kecil ayah saya pernah berkata,  bahwa setiap saat kita harus selalu berdzikir. Di mana saja dan kapan saja. Dan itulah yang selalu saya lakukan hingga saat ini. Syukur alhamdulillah. Saya yakin dan percaya,  itulah yang menjadi penyelamat dalam setiap perbuatan yang kita lakukan. 

Perbincangan dengan si tetangga pun akhirnya berakhir. Saya dan suami  pamit mohon diri. Sambil mengucapkan terimakasih  atas segala bantuannya. Terlebih atas ilmu yang telah beliau berikan. Bahwa setiap saat berdzikirlah, maka semua akan berjalan baik-baik saja.


Yuk Lanjut

Kamis, 28 September 2017

Saya Tak Suka Makan Sayur










Beberapa waktu  lalu, saya tergabung dalam komunitas menulis,  yang mengharuskan para anggotanya mengirim tulisan  setiap hari. Banyaknya peserta akhirnya membuat penanggung jawab komunitas tersebut,  mengelompokkannya dalam beberapa grup kecil,  agar mudah berkoordinasi dan belajar  bersama. Dan lucunya kelompok-kelompok tersebut,  diberi nama sayuran dan bahan makanan yaitu wortel, cabai merah, bawang merah dan kentang.

Pemberian nama yang unik dan lucu tersebut sempat membuat saya tertawa,  setiap kali melihat logo grup,  yang terpampang gambar sayuran. Membayangkan kita sekolompok manusia berkelompok dalam wadah sayuran. Hehehe. Juga sepintas teringat masa sekolah,  yang sering kali mengerjakan tugas secara berkelompok,  sesuai dengan nama unik yang diberikan. 

Berbicara masalah sayuran, saya adalah salah satu manusia aneh,  yang sangat tidak menyukai sayuran. Ketika makan sayur saya merasakan  lidah terasa pahit. Intinya bagi saya sayur itu rasanya tidak enak. Hanya sebagian kecil sayuran yang saya suka. Seperti bayam dan wortel, yang mayoritas kesukaan anak-anak. Orang lain yang mengetahui hal ini,  pasti tertawa dan berkata, jika sayuran yang saya konsumsi adalah sayuran anak-anak.

Sebenarnya orang lain sering menasehati,  jika  tidak suka makan sayur, maka saya akan sering sakit dan badan terlihat kurang segar. Bahkan yang lebih ekstrem, ada seorang teman yang berkata,  jika  tidak suka makan sayur, maka saya akan sulit hamil,  dan tidak bisa menyusui. Saya sempat ketakutan dengan ancaman tersebut, namun tetap saja  tidak berusaha untuk  mengonsumsi sayur.

Memang sih, saya beberapa kali merasakan sendiri  beberapa dampak,  akibat tidak makan sayur. Sistem pencernaan saya tidak teratur, sulit menurunkan berat badan, sering terserang flu, mata pun kurang sehat. Terbukti saat ini mata saya minus lima sejak sekolah dasar. Alhasil saya sering tidak bisa melakukan beberapa kegiatan seperti berolahraga, menonton televisi atau berkendara. Bahkan lucunya pernah saya berpapasan dengan teman baik, tetapi si teman tersebut tidak saya sapa,  karena mata ini tidak jelas melihat. 

Meskipun saya sering merasakan dampak, akibat tidak makan sayur,  terlebih bagi kesehatan tubuh, tetapi sampai dengan saat ini saya tetap saja tidak suka makan sayur. Entahlah. Tetapi biar bagaimanapun setidaknya saya tetap berusaha,  memakan sayur bayam dan wortel yang saya suka. Juga menggantinya dengan banyak mengonsumsi air putih dan buah-buahan. Semoga dengan cara ini, saya tetap bisa mendapatkan tubuh yang sehat.
Yuk Lanjut

Rabu, 27 September 2017

Si Pisces yang Lembut Hati




Namaku Nining Prasetyaningtyas. Aku terlahir dari keluarga sederhana. Dari ayah seorang penegak hukum,  dan ibu rumah tangga biasa. Aku memiliki dua orang saudara laki-laki yang mengapitku. Sehingga bisa dikatakan,  akulah anak yang paling cantik di keluargaku. Hehe.
Ayah, ibu dan kedua saudaraku sangat menyayangiku. Sebagai anak perempuan satu-satunya, alhasil aku sangat dimanja. Bahkan mereka semua sangat over protective kepadaku. Kemana-mana selalu ditemani, tidak boleh pergi seorang diri. Sampai aku teringat betul, di masa sekolah menengah atas, ayah pernah menemaniku menonton bioskop. Padahal teman-teman yang lain,  pergi dengan sahabatnya masing-masing.
Aku lahir di bulan Maret. Di bawah naungan zodiak Pisces,  yang mayoritas mengatakan ia adalah seorang yang tertutup. Lemah lembut, penyayang, penyabar, perasa,  dan sedikit banyak romantis. Katanya. Hehehe. Entahlah. Tetapi sepertinya benar. Terkadang aku memang suka berkhayal yang indah-indah.
Menurut sebagian besar teman-teman, aku  adalah orang yang sabar. Biarpun orang lain berkata,  atau melakukan perbuatan yang menyakitkan, aku hanya diam saja. Tidak pernah membalas. Biasanya aku hanya menangis,  karena sudah terlalu lelah menahan emosi. Sampai-sampai mereka berkomentar,  bagaimana aku mampu bersabar sejauh itu. Kalau orang lain pastilah sudah teriak-teriak, atau memaki-maki.
Aku adalah orang yang perasa. Ketika orang lain berteriak kasar, marah-marah,  atau berkata sedikit keras di hadapanku,  aku pasti langsung  gemetar. Hatiku juga langsung menciut,  jika mendengar sebuah pertengkaran. Entahlah. Tetapi  hati ini seolah seperti tidak bisa menerima, melihat,  atau mendengar segala sesuatu yang berbau kekerasan.
Ada yang mengatakan,  jika seseorang  memiliki sifat perasa,  biasanya tidak mudah menerima  kritik atau saran. Selalu merasa bersalah jika orang lain memberikan masukan, padahal masukan tersebut sangat bermanfaat untuk perbaikan. Akhirnya merasa pesimis,  dan tak bisa memberikan yang terbaik.
Tetapi aku bukanlah sosok yang demikian. Sejatinya aku senang sekali jika menerima kritik dan saran,  tentang apapun yang kuperbuat. Bagiku kritik dan masukan itu,  adalah sarana untuk memperbaiki diri. Aku menganggap bahwa siapapun yang mengoreksi perbuatanku,  adalah termasuk salah satu orang yang menyayangiku. Dan aku akan sangat menghargainya.
Aku juga orang yang suka belajar. Aku suka membaca. Aku juga suka menulis. Percaya atau tidak. Setiap tiba waktunya menerima gaji bulanan aku selalu ke toko buku,  untuk membeli buku apapun yang kuinginkan. Juga mendaftar berbagai training tentang menulis,  untuk menambah pengetahuan. Dan syukurlah, suamiku sangat mengerti hasratku ini dan bersedia mendukungnya.
Itulah aku. Dan semoga aku tetap menjadi diriku. Dengan segala kelebihan dan kekuranganku.
Yuk Lanjut

Selasa, 26 September 2017

Mobil Box



Saya adalah seorang karyawati di sebuah perusahaan swasta. Mobilitas pekerjaan yang tinggi,  membuat saya harus berangkat pagi-pagi, dan pulang kantor menjelang adzan Maghrib. Semuanya harus saya lakukan dengan hati-hati, dan memperhatikan manajemen waktu,  agar tidak terlambat melakukan aktivitas.

Selama ini saya selalu berangkat ke kantor bersama suami,  yang kebetulan tempat kerja kami berdua searah. Namun lima bulan lalu saya dimutasi ke tempat kerja baru,  yang menyebabkan kami berdua tidak bisa pulang pergi bersama lagi. Alhasil saya pun harus membiasakan diri, melakukan perjalanan sendiri dengan Si Orens, yaitu si motor matic kesayangan. 

Ketika melakukan perjalanan tersebut, saya tak pernah terburu-buru atau ngebut di jalan. Jujur saya takut jika mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Saya berusaha menikmati setiap perjalanan. Sambil memperhatikan begitu banyaknya ragam dan jumlah kendaraan,  yang ada di jalan waktu itu, serta uniknya tingkah laku para pemakai jalan.

Dari sekian macam kendaraan, ada satu macam kendaraan yang paling saya takuti sepanjang perjalanan. Yup, mobil box. Mobil berbentuk kotak yang biasanya menjadi kendaraan wajib  untuk mengantar barang. Mengapa  saya selalu takut jika berurusan dengan mobil box ini di jalan? 

Karena banyak kejadian yang saya alami, rata-rata mobil box ini dikemudikan oleh seseorang dengan cara yang ugal-ugalan. Dikemudikan dengan kecepatan tinggi,  bahkan terkesan tidak peduli dengan dengan pengguna jalan yang lain. Mungkin karena kegunaannya untuk mengantar barang agar sampai tepat waktu di tempat tujuan, sehingga sudah menjadi kewajaran jika ia dikemudikan dengan cepat.

Dan saya pernah mengalami satu kejadian, dimana pada saat akan berbelok di tikungan yang tajam, tiba-tiba dari arah belakang melaju mobil box dengan kecepatan tinggi, dan  mendahului motor saya. Saya pun terdesak, motor berjalan oleng,  dan saya hampir celaka masuk selokan akibat terserempet mobil box itu. 

Siapapun yang mengalami kejadian seperti tadi, tentunya mengumpat dalam hati, mengomel sepanjang jalan tiada henti. Dan ada kalanya jika si korban tak mampu mengendalikan emosi, mobil box itu akan ia kejar sampai dapat, dan meminta pertanggungjawaban atas kejadian tersebut.

Namun meskipun pernah mengalami kejadian yang tak menyenangkan dengan mobil box, saya juga pernah menemukan fakta, ada mobil box yang peduli dengan pengguna jalan lainnya. Pernah suatu ketika saya kesulitan menyeberang jalan yang begitu ramai. Seolah-olah tak ada satupun kendaraan yang peduli. Tetapi ternyata ada mobil box yang tiba-tiba menghentikan laju kendaraannya, dan memberikan kesempatan pada saya untuk menyeberang jalan. Dan hal tersebut tak hanya sekali saya alami.

Pada akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan. Bahwa mobil box hanyalah sebuah benda mati. Tak memiliki akal, perasaan dan hati. Ia hanya berjalan jika dikendalikan oleh manusia yang berada di dalamnya. Manusia yang telah dikaruniai akal, pikiran dan hati oleh penciptanya. 

Tinggal sekarang bagaimana si pengemudi memutuskan. Apakah ia ingin berkendara dengan aman, selamat dan tidak merugikan orang lain. Ataukah ia memilih demi mementingkan kepentingan diri sendiri, lalu mengendalikan kendaraannya sesuai keinginannya . Tanpa peduli orang-orang sekitar, yang sejatinya juga memiliki kepentingan yang sama. Sekali lagi pada akhirnya, semua kembali kepada keputusan manusia yang mengendalikannya.
Yuk Lanjut

Senin, 25 September 2017

HSG, Ketakutan Terbesarku di Kala Ingin Hamil




                               Sumber gambar : google.co.id

Jujur harus saya akui,  jika saya adalah seorang penakut. Terlebih pada saat pemeriksaan kesehatan. Khususnya lagi,  pemeriksaan kesehatan dimana ada satu keharusan bagi seorang dokter,  untuk memasukkan tangannya, atau alat tertentu ke dalam (maaf) lubang-lubang yang ada di tubuh saya. Dan ternyata memang itulah yang harus saya alami,  ketika berkeinginan untuk memiliki keturunan.

Tanpa diduga sebelumnya, jika keinginan memiliki keturunan tidak berjalan semulus yang saya bayangkan. Umumnya dari beberapa orang di sekitar saya, bahwa hanya selang waktu sebentar setelah menikah, mereka langsung mengalami kehamilan dan mendapatkan keturunan. Namun hal itu tidak terjadi pada diri saya. Sehingga akhirnya saya harus melakukan serangkaian pemeriksaan,  untuk mengetahui bagaimana kondisi tubuh yang sebenarnya. 

Dan salah satu tes yang harus saya jalani adalah HSG,  atau bahasa kerennya Histerosalpingografi. Pemeriksaan rongga rahim  dengan cara memasukkan cairan kontras,  ke dalam saluran telur serta menggunakan sinar X. 

Ketika mengetahui bahwa saya harus melakukan pemeriksaan ini, jujur berbagai bayangan menyakitkan sudah ada dalam pikiran. Ditambah dengan seringnya saya  mendengarkan cerita dari teman-teman perempuan. Ada yang mengatakan tes ini menakutkan dan menyakitkan. Tetapi ada pula yang berkata sebaliknya, asalkan memiliki ketenangan hati dalam menjalaninya. 

Sayangnya ketakutan yang saya rasakan, jauh lebih besar sehingga mampu mengalahkan ketenangan yang susah payah saya bangun. Alhasil tes itu berakhir dengan kegagalan. Saya yang sudah terlanjur panik, melalui tes tersebut seorang diri tanpa ada yang menemani. Stress pun meningkat seiring dengan si dokter yang menangani tak mampu memanage emosi saya. Si dokter hanya bisa marah dan menyalahkan saya atas kegagalan tes pada hari itu. 

Sesungguhnya saya menyesal atas kejadian ini. Keesokan harinya mau tak mau saya harus mengulanginya kembali. Rasa takut kembali menghantui. Namun ternyata ketakutan saya tak terbukti. Di hari itu alhamdulilah pemeriksaan ditangani oleh dokter baru. Seorang dokter wanita paruh baya yang lembut, sabar, dan pandai sekali menstabilkan emosi saya. Alhamdulillah pemeriksaan pun berjalan lancar, dan hasilnya menyatakan bahwa saluran telur dalam kondisi sehat.

Tak hanya melakukan pemeriksaan saja. Tapi si dokter yang baik hati itu,  banyak memberikan nasehat seputar mendidik anak,  dan membina rumah tangga  bahagia dan penuh berkah. Sungguh, itu adalah salah satu pengalaman berharga dalam hidup saya. Dari pengalaman itu saya mendapatkan banyak pelajaran.

Seperti yang beliau sampaikan, bahwa hidup sepenuhnya harus diisi dengan kepasrahan, dan keikhlasan pada Sang Maha Kuasa. Tak perlu ada yang dikhawatirkan selama kita bersandar padaNya. Apapun yang terjadi semua atas izinNya. Ketakutan yang berlebihan hanya akan mendatangkan kegagalan demi kegagalan. 

Kala itu memang hasil pemeriksaan tidak serta merta membuat saya hamil. Dalam hati saya sudah berniat untuk tetap ikhlas dengan segala ketentuanNya. Saya hanya bisa berusaha yang terbaik. Dan alhamdulilah di puncak kepasrahan, tanpa saya perkirakan sebelumnya akhirnya dokter menyatakan saya positif hamil. Sungguh keberkahan luar biasa yang pernah terjadi dalam hidup saya. Alhamdulillah.
Yuk Lanjut

Sabtu, 16 September 2017

ODOP, Sarana Tepat Goreskan Pena




Menulis adalah salah satu bentuk upaya seseorang, untuk mengenang apa yang pernah dilakukannya,  dan apa yang telah terjadi di sepanjang hidupnya. Bahkan bagi beberapa orang, menulis adalah media untuk menumpahkan isi hati ketika sedang bersedih, cemas memikirkan sesuatu, marah, atau pada saat mengalami kebahagiaan.

Bagi saya pribadi, menulis pernah saya lakukan secara sederhana pada masa-masa sekolah. Dimana pada saat itu,  saya seringkali menuliskan apa yang saya alami , dalam sebuah buku diary yang memiliki kertas berwarna-warni. Entah ketika memperoleh nilai terburuk di salah satu pelajaran, mendapat amarah guru, atau pada saat mengalami jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Namun pada akhirnya, kegemaran menulis tersebut tidak berlanjut sesuai harapan. Semuanya disebabkan karena  kesibukan yang tak kunjung henti, kurang fokus dan serius untuk mengembangkan kemampuan menulis. Selain itu belum adanya pemahaman tentang ilmu, serta  sarana ataupun komunitas menulis,  yang mampu memberikan kesempatan kepada seseorang, untuk menyalurkan kegemarannya menulis.

Tak pernah saya kira sebelumnya, beberapa waktu yang lalu hasrat menulis kembali menggugah hati.  Saya pun mulai mengasah kemampuan. Dimulai dengan mengikuti berbagai training kepenulisan,  serta bergabung dengan beberapa komunitas. Hingga pada akhirnya saya mengetahui ada salah satu komunitas menulis bernama ODOP,  dari colekan beberapa sahabat di media sosial yang saya miliki. 

Sepengetahuan saya ODOP memiliki kepanjangan One Day One Post. Dimana setiap anggotanya berkewajiban untuk menulis setiap hari, dan mempostingnya di blog pribadi. Tujuannya tak lain adalah agar ketrampilan menulis yang telah dimiliki semakin terasah, sehingga menghasilkan tulisan yang berkualitas.

Sebagai salah satu komunitas yang bertekad menjadi komunitas penulis terbesar di Indonesia, tentunya saya berharap agar komunitas ini adalah salah satu tempat yang saya cari untuk mempertahankan semangat  dalam menulis. Selain itu tentunya menjadi sarana yang tepat  untuk menambah ilmu tentang menulis, serta memperluas jalinan pertemanan dengan sesama penulis. 

Sehingga pada akhirnya besar harapan saya agar komunitas ODOP,  berkenan memberikan kesempatan kepada saya khususnya, untuk dapat lebih mengasah ketrampilan menulis, mencari ilmu tentang dunia kepenulisan   sehingga saya terus bersemangat menulis,  dan mampu menghasilkan tulisan yang berkualitas dan bermanfaat bagi sesama. Semoga.
Yuk Lanjut

8 Manfaat Ngeblog bagi Ibu Rumah Tangga, No 8 Asyik Banget

                                                                               Pexels Menekuni dunia menulis di media blog sejak lima tahun ...