Selasa, 31 Oktober 2017

Ikhlaskan Aku Pergi (Bagian Pertama)


Sang surya masih menggelayut manja, seolah tak mau menampakkan wujud indahnya. Namun Adrian sudah memulai perjalanannya menuju tempat tugas. Sembari berkonsentrasi mengemudikan mobil lawasnya, si dokter muda nan tampan  ini,  tak lupa mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Pria berhidung mancung dan berambut ikal ini berharap,  semoga hari ini dapat menyelamatkan nyawa dua orang manusia tanpa hambatan.


Namun seketika konsentrasinya terganggu tatkala telepon genggamnya berbunyi. Tanpa melihat ia langsung mengangkatnya. Dari seberang terdengar suara Shinta sang kekasih "Mas, kamu dimana sekarang? Jangan lupa pagi ini kamu sudah berjanji untuk menemaniku ke toko buku. Aku harus bisa dapatkan buku untuk referensi skripsiku!" 


Hmmm, Adrian sudah hafal sekali dengan nada suara kekasihnya, yang masih kekanakan dan manja ini. Itu tandanya ia harus bisa memenuhi janjinya tanpa alasan apapun. Dengan tenang Adrian menjawab "Sayang, mbok ya kasih salam dulu. Ingat lho, saling memberi salam itu berarti kita berdua sama-sama mendoakan." Dari seberang kembali terdengar suara Shinta "Aduh iya ya. Assalamualaikum. Pokoknya nanti jangan lupa ya. Mas harus antarkan aku!"


Kembali Adrian menjawab salam Shinta dengan lembut "Waalaikumsalam. Iya, Dik. Mas tidak lupa. Tapi maafkan. Ini Mas sudah di perjalanan menuju rumah sakit. Ada pasien yang hendak melahirkan. Sepertinya rumit dan butuh perhatian ekstra. Jadi Mas tidak tahu. Nanti siang bisa menemani atau tidak."


Dari seberang kembali terdengar suara "Lho, Mas ini bagaimana, sih? Kemarin kan sudah janji! Terus bagaimana caranya aku pergi?" Adrian menjawab kembali "Sayang, kan ada taksi. Atau minta antar adik Nita. Cobalah untuk mandiri, ya. Maaf  Mas terburu-buru. Nanti Mas telepon lagi, okey." Segera Adrian menutup teleponnya karena ingin fokus mengemudikan mobilnya. Dan di seberang sana, Shinta tak terima dengan perlakuan Adrian yang tak menghiraukannya.

**

Adrian dan Shinta adalah dua orang yang bersahabat sejak kecil. Mereka tinggal di dua rumah yang saling berdekatan. Setiap hari bermain dan belajar  bersama. Usia Adrian yang baru saja memasuki kepala tiga, terpaut tujuh tahun lebih tua menjadikannya sosok kakak bagi Shinta. Adrian adalah anak tunggal dari orangtua yang bekerja sebagai buruh pabrik. Sedangkan Shinta adalah anak dari seorang pengusaha kaya di bidang pertambangan,  dan memiliki seorang adik perempuan.


Kehidupan Adrian yang biasa saja, membuatnya selalu bekerja keras jika menginginkan sesuatu. Ia berprinsip tak ingin terlalu merepotkan orangtua. Ia menyadari kondisi orangtua hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehingga jika ingin mendapatkan sesuatu, ia harus berusaha sendiri. Itulah sebabnya demi keinginannya menjadi seorang dokter, ia berjuang mendapatkan beasiswa, agar beban orangtuanya sedikit ringan. Keuletannya dalam belajar dan menempuh pendidikan kedokteran, membuatnya lulus dengan nilai memuaskan, dan segera melanjutkan ke jenjang spesialis. Lagi-lagi kesempatan itu ia dapatkan dari beasiswa di kampusnya. Dan tak lama kemudian tercapailah gelar dokter spesialis kandungan tersebut. 


Sedangkan Shinta memiliki kehidupan yang jauh berbeda dengan Adrian. Kehidupan orangtuanya yang mapan membuatnya mudah mendapatkan keinginannya. Jika ingin sesuatu,  tinggal menyampaikan pada orangtua yang selalu langsung menuruti keinginannya. Itulah sebabnya perempuan mungil,  berwajah manis, dan berambut panjang ini menjadi sosok yang manja, mau menang sendiri, dan selalu marah jika keinginannya tak terpenuhi.


Namun demikian Adrian sangat menyayangi Shinta. Kehidupan sehari-hari yang selalu mereka jalani bersama,  sedikit demi sedikit telah merubah perasaan Adrian. Dari rasa sayang sebagai kakak, kini berubah menjadi perasaan cinta pria dewasa kepada seorang wanita.  Dan ternyata rasa cintanya ini tak bertepuk sebelah tangan. Shinta juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

Pria berkacamata ini  juga religius. Sehingga pada saat memutuskan menjajaki hubungan dengan Shinta, ia telah bertekad untuk melanjutkannya ke jenjang pernikahan, segera setelah Shinta lulus dari kuliah. Ia juga berharap dapat membuat kekasihnya ini, menjadi wanita yang lembut hati dan lebih empati. Untuk itulah bagaimanapun sifat dan perilaku Shinta, ia selalu berusaha memahaminya dengan sabar,  dan berharap suatu saat kekasihnya akan berubah menjadi wanita yang diidamkannya.

**

Hari itu proses persalinan  pasien Adrian berlangsung sangat rumit. Berkali-kali ia memanjatkan doa pada Yang Mahakuasa, agar membantunya melalui semua ini. Kondisi pasien yang memiliki penyakit komplikasi, membuatnya harus ekstra hati-hati dalam mengambil tindakan. Akhirnya setelah melewati proses panjang yang cukup melelahkan, lahirlah bayi mungil si pasien dengan sehat. Sang ibu  juga dalam kondisi baik-baik saja meskipun terlihat lemah. 


Adrian tak henti-hentinya bersyukur, karena Allah telah membantunya. Tak sadar ia meneteskan air mata, menyaksikan dua orang manusia yang sedang berbahagia itu. Suara lembut salah satu perawat dalam ruangan membuatnya segera tersadar,  dan cepat-cepat menyeka air matanya. Hati Adrian yang sangat lembut memang membuatnya mudah menangis, tatkala melihat kejadian mengharukan. Tak lama kemudian, ia pun segera beranjak dari ruangan, beristirahat sebentar, sebelum akhirnya meninggalkan rumah sakit.

**

Malam itu Adrian berkunjung ke rumah Shinta. Ibunda Shinta menyambut kedatangannya dengan ramah. Tak lama kemudian Shinta keluar dari dalam,  sesaat setelah sang ibu memanggil, dan langsung duduk di depan Adrian. Adrian sedikit resah melihat wajah kekasihnya. Beberapa saatnya mereka berdiam diri. Sejurus kemudian terdengar suara Adrian "Sayang, maafkan Mas. Mas tidak bermaksud mengingkari janji. Dokter Ilham hari ini ditugaskan menghadiri seminar. Jadi Mas ditunjuk untuk menggantikannya. Pasien tadi kondisinya sangat parah. Mas harap engkau  mengerti."


"Mas Adrian selalu seperti itu. Tidak peduli. Lha, kalau misalnya tadi aku naik taksi, terus terjadi apa-apa, bagaimana? Apa Mas tidak mengkhawatirkan aku? Sekarang kan orang jahat ada dimana-mana, Mas. Bisa terjadi kapan saja. Sepertinya Mas tidak sayang lagi padaku." Shinta seolah tak bernafas mengeluarkan segala keluh kesahnya.


"Sayang, Mas selalu peduli padamu,  menyayangimu, juga  selalu berusaha menjagamu. Tetapi coba lihat sekarang. Dan jawab pertanyaan Mas. Apakah engkau sudah mendapatkan buku yang kau maksud? Apakah tadi engkau celaka? Apakah tadi ada orang yang berbuat jahat kepadamu? Tidak, bukan? Engkau masih selamat. Bahkan kau ada di hadapan Mas sekarang. Kita berdua masih bisa bertemu. Jadi mengapa engkau masih saja memikirkan masalah yang sudah terlewat?"


Adrian menambahkan "Sayang, cobalah untuk tenang menjalani kehidupanmu. Jangan terlalu takut atau khawatir. Serahkan penjagaan dirimu pada Allah. Jika selalu berdoa memohon perlindunganNya, niscaya engkau akan selamat. Mas tak pernah lupa selalu mendoakanmu. Mas sayang padamu. Masihkah engkau meragukannya?"


Shinta duduk terdiam. Tetapi wajahnya masih menyiratkan amarah. "Tapi, kan tidak harus selalu  Mas yang menggantikan dokter Ilham. Kenapa sih Mas tidak mau menolak tugas satu kali saja?" Lagi-lagi Adrian menarik nafas panjang "Sayang, Mas harus berbuat yang terbaik. Ini menyangkut nyawa dua orang manusia. Tolonglah mengerti dengan pekerjaan Mas."


Dengan lembut Adrian menatap mata Shinta. "Sudahlah, jangan membicarakan masalah ini lagi. Kita lupakan saja. Mas datang kesini ingin bertemu dan menghabiskan waktu denganmu. Tolong, berikan Mas sebuah senyuman manis. Lalu kita akan berjalan-jalan sebentar ke taman. Masih mau kan menemani Mas?"


Mendengar suara lembut Adrian, Shinta tak dapat lagi mengelak. Ia tersenyum. Adrian membalas senyumannya, dan bahagia melihat kekasihnya sudah tak diliputi amarah. Dan sesaat kemudian, terlihat mereka berdua berjalan-jalan di taman di bawah naungan sinar rembulan. 


(Bersambung)
Yuk Lanjut

Senin, 30 Oktober 2017

Jangan Salah Berkomunikasi


Beberapa hari lalu, pimpinan di kantor kami marah besar. Masalahnya ada salah satu teman  yang tidak masuk kerja,  karena ada keperluan keluarga. Sebetulnya tidak ada masalah dengan hal tersebut. Hanya saja menurut pimpinan, si teman salah dalam menyampaikan permohonan izinnya.


Teman tersebut mengajukan izin setelah pelaksanaan. Dalam arti, ia meminta izin pada pimpinan untuk tidak masuk kerja,  setelah berada di luar kota. Pimpinan berpendapat jika caranya seperti itu, berarti si teman bukan meminta izin, tetapi memberitahukan posisinya sekarang. Sebab pada hakekatnya meminta izin itu seharusnya dilakukan sebelum pelaksanaan.


Begitulah. Komunikasi menjadi salah satu hal penting dalam kegiatan apapun juga. Entah pada saat bersekolah, bekerja, di dalam rumah, di lingkungan tempat tinggal. Juga berkomunikasi dengan orang berbagai usia dan status sosialnya. Sehingga ketika berkomunikasi, seseorang harus memperhatikan beberapa hal,  agar tidak terjadi salah paham yang dapat berujung pada perselisihan.


Ketika diajak berkomunikasi oleh orang lain, itu tandanya kita harus menjadi pendengar yang baik. Jadi berupayalah untuk memperhatikan setiap kalimat dari si lawan bicara. Hindari melakukan perbuatan yang merusak konsentrasi dalam mendengarkan, bahkan yang menyinggung perasaannya. Katakanlah seperti menyimak orang lain berbicara sambil bermain game online. Otomatis kita tidak fokus mendengarkannya. Bisa jadi orang lain pun tersinggung,  karena sikap kita yang seolah tak peduli.


Pada saat kita mengajak berkomunikasi orang lain, ada pula beberapa aturan yang harus dipahami. Antara lain harus memperhatikan berapa usia lawan bicara, serta bagaimana kedudukannya dalam masyarakat. Tentunya jika  berbicara dengan pejabat, pasti berbeda jika berkomunikasi dengan bawahan atau teman. Berbicara dengan orang yang lebih tua,  juga akan berbeda perlakuannya ketika mengajak komunikasi anak-anak. Sehingga kita perlu memahami bagaimana sebaiknya bersikap dalam berkomunikasi. Sikap yang salah akan menyebabkan terjadinya salah paham,  di antara semua orang yang melakukan komunikasi.


Hal ketiga yang harus diperhatikan adalah isi dari komunikasi itu sendiri. Seperti pada contoh di atas. Meminta izin tidak masuk kantor, sebaiknya dilakukan sebelum pelaksanaan. Sebab jika meminta izin setelah pelaksanaan itu sama saja artinya dengan pemberitahuan. Isi dari komunikasi sebaiknya juga harus disampaikan secara jelas, tidak berbelit-belit,  
sehingga semua pihak dapat mengerti apa yang dimaksud.


Berkomunikasi adalah sesuatu yang memiliki seni tersendiri dalam melakukannya. Dan kita harus pandai-pandai menyikapinya. Sebab salah sedikit saja dalam melakukan komunikasi, bisa berakibat fatal. Bahkan berujung pada perselisihan yang tak kunjung berakhir.


Yuk, belajar berkomunikasi!
Yuk Lanjut

Minggu, 29 Oktober 2017

Supervisor, Langkah Awal menjadi Seorang Pemimpin


Di unit kerja kantor kami terdapat sembilan orang supervisor yang masing-masing membawahi enam sampai dengan tujuh orang agen. Tugas mereka selain mencari produksi dan memberikan pelayanan kepada konsumen, juga diwajibkan untuk menambah jumlah agen,  dan membinanya sampai berhasil.


Selayaknya manusia yang memiliki beragam karakter, begitupun para supervisor tersebut. Masing-masing memiliki watak, kemampuan, dan sifat yang terkadang membuat saya harus pandai bersikap. Agar mereka semua nyaman bekerja sama dengan kami.


Dari semua supervisor itu, ada satu orang yang cukup unik. Sebetulnya ia berkarakter ulet dan pantang menyerah. Tiap bulan ia selalu mencapai hasil yang bagus dalam pekerjaannya. Namun ada satu yang menjadi kekurangannya. Ia sering mementingkan diri sendiri, dan sering lepas tangan terhadap semua agennya.


Seperti siang itu. Ia berkata bahwa salah satu agennya memperoleh satu nasabah, dengan jumlah nominal tabungan yang cukup besar, untuk ditabung di perusahaan kami. Agen tersebut  tergolong orang baru, sehingga otomatis masih membutuhkan bimbingan dalam beradaptasi, dan melakukan pekerjaannya. 


Si supervisor unik ini pada awalnya menemani si agen menghadap saya, untuk menyerahkan aplikasi nasabahnya tersebut. Setelah saya periksa, aplikasi yang ia serahkan masih memiliki banyak kesalahan. Namun saya memakluminya karena ia masih dalam tahap belajar. Saya berharap si supervisor bisa membimbingnya memperbaiki kesalahannya.


Tetapi tiba-tiba saja si supervisor ini melangkah pergi dan sambil lalu berkata "Mbak, tolong dia diurus ya. Aku mau pergi ke nasabah yang lain dulu." Saya terkejut. Namun saya langsung memanggilnya, dan meminta bantuannya untuk membimbing terlebih dahulu si agen ini, sebelum ia melangkah keluar kantor.


Pelan-pelan saya mencoba memberi masukan kepada si supervisor. Saya katakan bahwa tidak mudah mendapatkan bawahan yang sangat rajin dan pantang menyerah seperti si agen tadi. Sehingga alangkah baiknya jika si supervisor itu merawat agen tersebut agar betah, bersemangat dan berhasil dalam pekerjaannya.


Menjadi seorang pemimpin adalah pekerjaan yang tak mudah. Jangankan dalam lingkup besar. Dalam lingkup kecil seperti kelas pun,  sangat sulit bagi seseorang untuk memimpin teman-temannya. Sebab sebagai seorang pemimpin atau ketua kelas, ia harus memiliki keteladanan,  yang nantinya akan menjadi panutan teman-temannya.


Begitupun dalam bekerja. Ada seseorang yang memang ditunjuk oleh perusahaan untuk memimpin suatu unit kerja. Tentunya jika ia memiliki kompetensi dan kemampuan untuk memimpin,  entah dalam skala kecil maupun besar. Dan biasanya diawali dari skala kecil dengan posisi sebagai supervisor.


Dari langkah awal sebagai supervisor inilah, ia akan belajar bagaimana mengatur anak buah dalam jumlah kecil, serta dengan tanggung jawab sesuai yang menjadi tugasnya selama ini. Ia juga harus banyak belajar, bagaimana merawat anak buahnya, membimbingnya, hingga mampu berdiri sendiri,  dan suatu saat bisa dilepas untuk mengikuti jejaknya sebagai supervisor.


Namun ada beberapa orang yang tak berhasil dalam hal ini. Mungkin ada yang memang memiliki sifat yang egois, tak ingin anak buahnya lebih berhasil dari dirinya, atau memang tak memiliki kemampuan bagaimana menjadi pemimpin yang baik.


Entahlah, bisa jadi menjadi seorang pemimpin tak terlepas dari bakat kepemimpinan yang ada pada dirinya. Tapi setidaknya dengan menjadi seorang supervisor, itu adalah langkah awal,  belajar menjadi pemimpin dalam lingkup yang lebih besar. Jika memang berhasrat kuat dan siap mental,  dengan segala konsekuensi untuk  menjadi seorang pemimpin. 


Nah, siap menjadi pemimpin?
Yuk Lanjut

Jumat, 27 Oktober 2017

Salahkah dengan Pekerjaannya?


Saya menikah dengan seorang pria,  yang berpenghasilan sebagai pegawai di salah satu instansi pemerintahan. Banyak orang mengatakan bahwa saya sangat beruntung bisa menikah dengannya. Alasannya kehidupan ekonominya pasti terjamin dan katanya pasti kaya raya. Padahal belum tentu juga, tuh.


Saya hanya bisa tersenyum saja. Bagi saya semua itu tak terlepas dari takdir. Tak ada yang salah dengan ketentuanNya. Jika memang itu yang terjadi, semuanya pasti harus disyukuri. Tetap harus mengingat bahwa itu semua adalah titipan yang sewaktu-waktu bisa dicabut oleh pemiliknya.


Suatu ketika saya membaca status media sosial salah satu teman baik di masa sekolah. Dulu saya mengenalnya sebagai orang yang menyenangkan. Tetapi entah mengapa,  setelah bertemu kembali di dunia maya tanpa sengaja, saya merasa kurang nyaman. Masalahnya sekarang ia lebih banyak berbicara tentang keluhannya, dan menurut saya terlalu lebay dan berlebihan.


Dalam statusnya itu ia menulis " Pegawai Pemerintahan sekarang hanya bisa makan gaji buta. Makan uang rakyat,  tanpa menghasilkan sesuatu yang bisa berguna bagi rakyat." Sempat terkejut membaca status ini. Dan sedikit banyak tersinggung, karena tahu pasti bagaimana suami bekerja sehari-harinya. Sering tak mementingkan keluarganya demi pekerjaan, yang tiba-tiba saja menghendakinya ada di tempat tertentu.


Tanpa pikir panjang lagi segera saya memberi komentar di status tersebut. Saya berkata "Apa ada yang salah dengan pekerjaan sebagai pegawai pemerintahan? Suami saya juga bekerja di pemerintahan, lho." Tanpa terduga si teman sedang online. Dan saya lihat ia menjawab "Tidak semua, kok."


Dalam hati saya jengkel. "Eh, hanya begitu saja? Tanpa minta maaf atau berkata lainnya? Bukankah tidak hanya saya saja yang tersinggung? Orang lain pun yang berprofesi sama, bisa sakit hati karena membaca statusnya, yang tidak bermanfaat itu." Akhirnya saya putuskan untuk tidak memperpanjang lagi obrolan dengannya, karena sudah tak bermanfaat.


Ditakdirkan memiliki satu pekerjaan adalah mutlak kekuasaan Allah SWT. Tentunya disertai dengan seberapa keras usaha kita,  dalam berusaha dan berdoa memohon padaNya. Jadi menurut saya sungguh tidak pantas kita menghujat orang lain dan pekerjaannya, karena semua sudah ditentukan oleh Yang Mahakuasa.


Tak hanya orang yang memiliki pekerjaan mapan saja. Bagi  yang berpenghasilan dari berjualan, menarik becak, sebagai pemungut sampah, petugas kebersihan, atau pekerjaan lain yang memiliki penghasilan,  tak sebesar pegawai pemerintahan dan  pengusaha,  juga semuanya tak ada yang salah. Tak pernah ada yang salah dengan ketentuanNya. Apapun pekerjaannya, Ia sudah pasti akan menjamin rezeki masing-masing orang, dari arah manapun yang Ia kehendaki.


Satu-satunya yang salah adalah perilaku manusia. Bagaimana cara ia mencari rezeki dari pekerjaan yang sudah diberikan untuknya. Jujurlah ia? Halalkah uang yang ia dapatkan? Apakah ia bekerja dengan segala cara,  untuk mendapatkan posisi jabatan yang lebih tinggi? Bahkan rela menyakiti orang lain? 


Ataukah ia bekerja dengan tulus ikhlas dan apa adanya? Bekerja hanya dengan niat memberikan rezeki halal bagi keluarga? Sehingga terus berusaha untuk jujur pada diri sendiri,  dan berupaya tidak tergiur godaan setan,  yang berpeluang menutup mata hatinya dari mencari rezeki  halal.


Tak ada yang salah dengan sebuah pekerjaan. Yang salah hanyalah perilaku manusia,  dalam hal bagaimana cara mencari rezekinya. Serta bagaimana ia memanfaatkan rezeki yang  didapatkannya. Karena seyogyanya apapun pekerjaannya, ia harus tetap bersyukur, dan selalu membelanjakan rezekinya di jalan Allah SWT. 
Yuk Lanjut

Yang Butuh Siapa?


Suatu hari seorang teman memasang wajah cemberut, dan itu berlangsung seharian. Ketika ditanyakan masalah apa yang membuatnya seperti itu, ia menjawab bahwa pada hari itu ia bertengkar dengan adiknya.


Setelah mendengarkan duduk permasalahannya, saya katakan kepadanya untuk mengalah,  dan mendatangi adiknya. Sebab jika semuanya merasa menang, pastilah permasalahan tidak akan selesai. Tetapi si teman membantah dengan berkata "Emoh! Lha Sopo Sing Butuh!" Yang artinya "Tidak Mau,  Sebenarnya Siapa yang Butuh?"


Nah, pernahkah teman-teman mendengar kata-kata seperti itu, ketika terjadi pertengkaran antar dua orang manusia? Pasti pernah. Pada intinya masing-masing ingin menunjukkan dirinya yang paling benar, sehingga wajib bagi si lawan bicara untuk tunduk padanya. Jika tidak, ia akan berkeras hati untuk tetap berpegang pada prinsip  yang menurutnya benar.


Padahal tidak selamanya prinsip atau perbuatan yang ia yakini selalu benar. Tetapi rasa ego yang cukup besarlah,  yang membuat seseorang gengsi untuk menyatakan kekalahannya. Sehingga sering terucap dari mulutnya kata-kata "Siapa Sebenarnya yang Butuh" sebagai alasan pembenaran.


Tetapi betulkah setelah  mengucapkan itu, ia sanggup untuk benar-benar tidak membutuhkan orang lain? Sanggupkah ia untuk hidup sendiri, tanpa ada manusia lain disekitarnya? Sanggupkah ia mengerjakan semua sendiri, tanpa bantuan orang lain?


Jika ada yang mengatakan sanggup, maka sudah pasti ia adalah manusia yang teramat sombong,  dan merasa paling segala-galanya di dunia ini. Padahal sejak masih dalam kandungan ibu hingga akhir hayat nanti, sesungguhnya tidak ada satu hal pun yang sanggup ia lakukan sendiri.


Ketika dalam kandungan kita dibesarkan dengan kasih sayang ibu, yang berjuang menjaga kita agar bisa selamat lahir ke dunia. Setelah lahir memasuki masa kanak-kanak, kita dirawat oleh orang tua. Pada masa sekolah kita bisa mendapatkan ilmu bermanfaat karena ajaran guru-guru.


Ketika dewasa dan sudah menikah, masih saja merepotkan orangtua, dengan menyuruhnya mengasuh anak-anak. Dalam hidup bertetangga, pada saat kesusahan, tetanggalah yang pertama kali datang. Saat sakit, saudara dan teman masih saja memperhatikan kondisi kita. Bahkan sampai akhir hayat, kita tak bisa lepas dari membutuhkan bantuan orang lain.


Jadi, mengapa hanya karena emosi dan tak bisa mengendalikan diri,  lantas berucap "Siapa yang Butuh?" atau "Aku Tidak Butuh Kamu!" Itu sama saja dengan menunjukkan sikap arogansi kita, yang sanggup membuat jalinan pertemanan tidak nyaman, bahkan berujung pada hancurnya persahabatan.


Yuk teman, sadarilah. Bahwa manusia adalah makhluk lemah. Masih membutuhkan kehadiran orang lain, untuk membantu kita tumbuh dan berproses menjadi lebih baik. Jangan sia-siakan persahabatan yang terjalin rapi,  hanya karena emosi, hingga keluar sebuah arogansi berbentuk ucapan "Siapa yang Butuh."


Sebab sesungguhnya itu adalah perbuatan manusia sombong yang sama sekali tidak disukai. Tidak disukai oleh orang lain dan terlebih  oleh Sang Mahakuasa.
Yuk Lanjut

Kamis, 26 Oktober 2017

Berikan Kasih Sayang dengan Kritik


Tadi malam saya mendapatkan pengalaman seru. Ceritanya saya menjadi bintang tamu, dalam acara bedah tulisan di komunitas One Day One Post. Saya telah menyetujui menyajikan tulisan, untuk dapat dibedah bersama teman-teman.


Pada awalnya sempat ragu tulisan mana yang akan saya beberkan. Namun karena admin meminta genre  fiksi, dengan rasa kurang percaya diri, saya sajikan saja tulisan yang menjadi tugas minggu lalu.


Sesaat setelah saya paparkan tulisan, terasa sunyi tidak ada yang memberikan komentarnya. Tetapi lima menit kemudian, muncullah suara teman-teman grup. Dan rata-rata mereka semua memberikan kritik yang cukup pedas atas tulisan tersebut.


Perlahan saya baca dan renungkan semua masukan mereka. Setelah saya rasakan memang banyak pendapat diantaranya yang benar. Dalam arti saya mengakui, bahwa ada beberapa hal yang harus diperbaiki dalam tulisan itu. Dan sejurus kemudian kami semua saling memberi masukan dengan santai, bahkan bersenda gurau.


Kritikan adalah  cara dari seseorang untuk memberikan nasehat,  atau saran bagi perbaikan satu kegiatan,  yang dilakukan orang lain. Selain itu kritik juga merupakan tindakan untuk mengoreksi perbuatan orang lain,   agar ke depannya tidak melakukan kesalahan yang sama.


Namun ada beberapa orang yang enggan memberikan kritik kepada teman, sahabat, anggota keluarga,  atau orang lain di sekitarnya. Alasannya macam-macam. Ada yang takut, sungkan, bahkan masa bodoh. Terkadang ada yang berpikir tak perlu memberikan kritik, karena menganggap orang tersebut sudah dewasa, serta mampu membedakan mana yang benar dan salah.


Jika ditanya tentang kritik, jujur saya katakan bahwa bisa menerimanya. Dengan kata lain saya tidak alergi kritik. Karena saya selalu beranggapan bahwa kritik akan sangat bermanfaat bagi perkembangan diri sendiri. Sehingga jarang sekali saya merasa marah, kurang enak hati, atau tidak mau lagi berteman dengan si pengkritik.


Ketika ada teman, sahabat atau orang lain yang melakukan kesalahan, saya juga tak ragu memberikan kritik. Tak peduli apakah ia bisa menerimanya dengan baik ataukah tidak.  Ini semua saya lakukan agar orang lain, tidak terus menerus berbuat kesalahan. Juga agar ia dapat memperbaiki diri menjadi lebih baik. Bisa dikatakan itulah salah satu cara saya mencintai mereka. 


Jadi kesimpulannya, menyayangi orang lain tak hanya dilakukan dengan cara memberinya berbagai hadiah, atau membantunya mengatasi kesulitan. Berikanlah pula kritik yang membangun, ketika ada yang harus disempurnakannya. Juga koreksilah perbuatannya yang salah. Karena dengan cara itu, mereka akan belajar untuk menjadi lebih baik, jika mereka mampu menerimanya.
Yuk Lanjut

Rabu, 25 Oktober 2017

Akhirnya Saya Bisa Menulis Hari Ini

Bergabung dengan komunitas One Day One Post, sempat membuat saya ngos-ngosan. Bayangkan saja. Komunitas ini mengharuskan para anggotanya untuk menulis setiap hari, dan mempostingnya di blog pribadi. Tanpa jeda satu hari pun. Alhasil, kita semua harus memiliki ide-ide kreatif,  agar bisa memenuhi semua tugas yang diberikan.


Pada awalnya mungkin mudah dilakukan. Tetapi semakin mendekati akhir, saya merasakan sedikit keteteran. Ditambah dengan aktivitas harian sebagai karyawan. Pulang kantor pun masih disibukkan dengan beralih peran,  sebagai ibu rumah tangga.


Saya biasanya menulis setelah menyelesaikan aktivitas kantor, atau sampai di rumah. Tetapi sudah beberapa hari ini saya harus menggantikan teman yang sedang cuti. Akibatnya saya harus berjuang menulis malam hari,  dan itupun setelah anak tertidur. Sehingga memposting di blog pribadi, juga hampir mendekati batas waktu yang telah ditentukan.


Seperti hari ini. Saya masih menggantikan tugas teman. Membayangkan banyaknya tugas yang akan dikerjakan hari ini, ditambah kesibukan nanti sore menemani anak sepulang kantor, serta fakta bahwa belum menulis satu kata pun, membuat saya merasa panik seketika. Dan ups, ternyata hari ini giliran saya menjadi bintang tamu, dalam kegiatan bedah tulisan di komunitas ini. Oh, tidak! Kepanikan jadi semakin bertambah.


Sebenarnya saya sudah mempunyai satu tema yang bisa ditulis. Hanya saja topiknya agak sedikit berat, sehingga saya putuskan berganti haluan. Saya mencoba mencari topik tulisan yang ringan. Dan ahaaaii, saya sudah menemukannya.


Akhirnya dengan membaca Bismillah, saya tuntaskan semua pekerjaan kantor. Lalu meraih handphone kesayangan. Dan mengalirkan tulisan sederhana ini, yang berjudul "Akhirnya Saya Bisa Menulis." 


Berawal dari rasa pesimis, apakah bisa menuliskan satu tulisan hari ini dan mempostingnya di blog pribadi, ataukah benar-benar tidak terlaksana. Hore Alhamdulillah. Ternyata kekhawatiran saya tak terbukti. Akhirnya saya benar-benar bisa menulis. Dan semuanya berawal dari kuatnya tekad. Tak lupa awali semua dengan Bismillah.
Yuk Lanjut

Selasa, 24 Oktober 2017

Pelajaran dari Si Masa Bodoh

                      Sumber gambar : www.google.com

Siang itu ruangan kantor terlihat sunyi. Sesekali terdengar suara mesin pencetak sedang mengeluarkan hasil cetakannya. Atau suara musik lirih dari salah satu meja. Maklumlah. Ruangan auditor seperti ini mayoritas berisi orang-orang yang serius bekerja dan tanpa banyak cakap, karena harus benar-benar teliti dalam memeriksa laporan keuangan.


Namun sepuluh menit kemudian terdengar dering telepon. Lama sekali. Dan tidak ada satu pun yang berinisiatif bergerak mengangkatnya. Bahkan seorang teman laki-laki,  yang posisinya sangat dekat dengan pesawat telepon.


Tiba-tiba teman perempuan yang duduk di barisan paling belakang berdiri, berjalan menuju pesawat telepon. Terdengar sejenak suaranya berbicara dengan seseorang di seberang. Sejurus kemudian menutup telepon dan kembali ke tempat duduknya.


Tak lama kemudian ia berseru "Teman, lain kali kalau ada telepon, tolong angkat ya. Terutama yang posisinya dekat." Ia bermaksud menegur teman laki-laki yang duduk dekat telepon. Tetapi saya lihat teman laki-laki ini sikapnya biasa saja. Seolah tidak mendengar dan terjadi apa-apa.  Terlihat jelas ia bersikap masa bodoh.


Masa bodoh. Adalah perilaku tidak peduli dengan kondisi sekitarnya. Ia hanya memperhatikan keasyikannya sendiri. Tidak melihat, mendengar atau merasakan apa yang sedang terjadi. Biasanya ketika ditegur pun ia tidak akan terlalu ambil pusing.


Sehingga kebanyakan orang lain merasa terganggu dengan sikapnya ini. Terutama jika si masa bodoh ini berada di lingkungan yang penuh dengan kepedulian. Coba bayangkan saja, ketika ada salah satu yang sedang sakit atau kesulitan,  dan semua teman datang membantu. Hanya ia sendiri yang tak tampak batang hidungnya. Pasti akan menjadi bahan pembicaraan yang kurang menyenangkan.


Dan yang lebih menjengkelkan, ia sama sekali tidak merasa tersinggung atau terketuk hatinya untuk memperhatikan kondisi sekitar. Padahal orang lain selalu mempedulikannya. Ia tak peduli ada yang terpuruk, tidak ambil pusing juga jika ada orang lain yang sedang bahagia. Hanya memikirkan dirinya sendiri. Kata-kata andalannya "Dia mau ngapain kek, aku enggak peduli. Asalkan jangan sampai dia menggangguku."


Mungkin sebagian orang tak ingin berteman dengan si masa bodoh ini,  karena sikapnya yang kurang menyenangkan. Tetapi ada beberapa hal yang bisa kita ambil pelajaran dari sikapnya ini.


Bahwa ketika berteman dengan si masa bodoh, kita bisa belajar untuk peduli dan empati kepada orang lain. Belajar mendengar dan merasakan. Pada saat orang lain bersedih kita belajar untuk merasakan kesedihannya, dan jika bisa membantu meringankan bebannya. Namun ketika orang lain berbahagia, kita belajar bersyukur, dan  ikut merasakan kegembiraannya.


Pada akhirnya, cobalah untuk berteman dengan siapa saja. Meskipun ia memiliki sifat yang kurang baik dan menyenangkan. Karena sesungguhnya di balik itu ada pelajaran penting yang bisa kita ambil, untuk lebih memperbaiki sikap dan perilaku diri sendiri.
Yuk Lanjut

Senin, 23 Oktober 2017

Aidh Al Qarni, Sang Penulis Inspirasi


Beberapa tahun lalu, seorang teman   pernah membaca buku yang sangat bagus. Buku sederhana, namun mampu membius pembacanya, hingga terinspirasi oleh kalimat-kalimat di dalamnya. 


Mendengar kata buku jujur saya merasa kalap dan ingin juga memilikinya. Setelah menyusuri toko buku, akhirnya saya menemukannya. Buku itu berjudul "La Tahzan" atau "Jangan Bersedih." Ditulis oleh seorang jenius bernama Aidh Al Qarni. Dan kebahagiaan saya semakin bertambah, ketika di hari ulang tahun, si teman menghadiahkan buku dari pengarang yang sama, dengan judul "Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia."


Setelah membaca kedua buku tersebut, saya merasa sangat terinspirasi. Sehingga akhirnya sampai sekarang, saya menjadikan Aidh Al Qarni sebagai penulis favorit. Nah,  siapakah Aidh Al Qarni ini? 


Aidh Al Qarni adalah seorang pria yang terlahir di desa Qarn, suatu daerah di  selatan Arab Saudi. Lahir di tahun 1379 H atau 1960 M, dimana nama beliau diambil dari desa kelahirannya.


Adapun jenjang pendidikan perguruan tinggi yang pernah ditempuhnya adalah, meraih gelar sarjana tahun 1404 H dari Fakultas Ushuluddin, di Universitas Imam Muhammad bin Sa'id al-Islamiyah. Berlanjut mendapatkan gelar magister hadist empat tahun kemudian. Tak hanya itu. Gelar doktor pun beliau peroleh di tahun 1422 H.


Latar belakang kehidupannya yang berasal dari keluarga ulama, membuat Aidh Al Qarni sangat dekat dengan aktivitas di masjid, seperti shalat berjamaah. Kegiatan membaca dan menulis pun tak pernah lepas dari kesehariannya.


Aidh Al Qarni adalah seseorang yang berani mengungkapkan kebenaran. Akibat keberaniannya ini, beliau harus masuk penjara, selama sepuluh bulan  di tahun 1966. Namun, hal itu sama sekali tak menyurutkan niatnya untuk menyuarakan kebenaran. Alhasil pada saat di penjara pun, menulis masih tetap menjadi kesibukannya.


Nilai plusnya sebagai seseorang yang menguasai hafalan Al-Qur'an, kitab Bulughul Maram, serta hadist, membuat beliau menjadi penulis produktif, serta penceramah terkenal.


Dari sekian banyak buku hasil karyanya, harus diakui La Tahzan menjadi yang paling fenomenal, dalam sejarah penerbitannya. Buku ini mampu terjual 120 eksemplar, dan sudah diterjemahkan dalam 29 bahasa. Di Indonesia juga menjadi buku terlaris sepanjang masa. Dan buku ini lahir dari perenungannya selama dalam penjara,  setelah merenungkan kejadian di sekitarnya.


Dalam buku La Tahzan ini beliau mengajak semua orang,  untuk selalu hidup bahagia. Menyingkirkan semua kesedihan agar hidup menjadi berkualitas, bermanfaat,  dan tidak sia-sia. Bahkan saya ingat satu ungkapan yang ada di dalam buku tersebut. "Hiduplah hanya untuk hari ini, karena hari kemarin sudah tidak ada, hari esok masih misteri." 


Dari ungkapan tersebut, beliau mengingatkan, agar melakukan apapun yang terbaik dalam hidup, hanya di hari ini. Jangan pernah melihat masa lalu, karena sudah lewat, dan hindari mencari apa yang akan terjadi di masa depan. Sebab itulah sebenarnya,  penyebab hidup kita rumit dan tidak bahagia.


Namun, di  tanggal 1 Maret 2016, takdir mempertemukannya dengan maut. Beliau wafat di Filipina setelah ditembak oleh orang tak dikenal,   pada saat usai berceramah tentang eksistensi Syiah, di Mindanau Barat. Banyak dugaan bahwa negara Iran berada di balik peristiwa ini.


Itulah sekilas tentang Aidh Al Qarni. Penulis favorit yang saat ini tetap menginspirasi hidup saya. Semoga apapun yang beliau perbuat untuk setiap insan manusia, berbuah pahala kebaikan baginya. Meskipun hanya berupa tulisan.
Yuk Lanjut

Sabtu, 21 Oktober 2017

Adik Kecilku


Tiga hari lalu adik kecilku bertambah usia. Terlahir di tahun 1978 melalui proses melahirkan normal. Memiliki berat badan lahir 4,75 kilogram pada saat itu, memang membuat ibu kami sangat susah payah melahirkannya.


Sempat teringat cerita ibu  pada saat melahirkan adik. Tubuh adik yang besar di dalam, membuatnya sulit keluar dari tubuh ibu. Kepalanya sudah tampak,  namun bahunya tak bisa keluar. Di zaman dahulu masih belum mengenal yang namanya operasi Caesar seperti sekarang. Sehingga semua tergantung pada kepandaian sang bidan.


Waktu itu sang bidan berkata kepada ayah dan ibu, jika ini adalah proses melahirkan yang sangat beresiko. Bidan memberi pandangan bahwa ayah dan ibu harus siap,  jika adik tidak bisa diselamatkan, karena ia berpendapat bahwa menyelamatkan ibu menjadi prioritasnya. Tetapi ayah meminta bidan untuk berusaha menyelamatkan keduanya.


Setelah melalui proses melahirkan yang cukup panjang, akhirnya adik kecilku dengan jenis kelamin laki-laki,  terlahir ke dunia dengan selamat. Ibu bidan yang baik hati itu sempat pingsan,  karena kelelahan membantu proses persalinan. Adik kecilku sendiri yang  bobotnya cukup besar, membuatnya terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Bahkan suami sang bidan yang pada awalnya kurang menyukai anak kecil, seketika itu juga merasa gemas dengan adikku.


Terlahir dengan proses persalinan yang sangat sulit, membuat adikku tidak bisa jauh-jauh dari ibu. Di dalam pikirannya sudah terbentuk pola,  bahwa ia berbagi nyawa dengan ibu saat lahir ke dunia. Itulah yang membuatnya selalu membantu, berkeluh-kesah, bercerita, dan berbagi kebahagiaan, dan ingin selalu dekat dengan ibu. Itulah yang terjadi pada saat ia sudah menginjak usia dewasa.


Tak hanya dengan ibu. Ia juga termasuk orang yang sangat dekat denganku. Dari kecil kami selalu bersama. Jarang sekali terlihat kami berdua bertengkar. Karena selalu bersama, lucunya kami memiliki kebiasaan dan barang yang sama.  Kami memiliki satu tujuan yang sama ketika bersekolah,  hingga  melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bahkan kami pun bekerja di satu perusahaan yang sama, meski berbeda bidang pekerjaan.


Akhirnya banyak teman yang menyarankannya untuk menikah mendahului aku. Dengan alasan, siapa tahu setelah itu aku yang menyusulnya menikah. Memang saat itu adik kecilku telah membina hubungan dengan seorang gadis, dalam waktu hampir sebelas tahun. Daripada menjadi fitnah aku memaksanya untuk segera menikah. Aku yakinkan kembali kepadanya tentang keikhlasanku.  Dan benarlah. Setahun setelah ia menikah, aku akhirnya menyusulnya.


Setelah bertahun-tahun bersama, beberapa bulan lalu adikku ini mendapatkan tugas dari perusahaan untuk bekerja di ibukota.  Sedih sekali membayangkannya jauh dari aku. Tetapi aku ikhlas melepasnya. Aku hanya berpikiran semoga kepindahannya ini membuatnya semakin maju dan berkembang.


Tiga hari lalu ia bertambah usia. Tak banyak yang aku harapkan selain ia selalu sehat, beroleh rezeki yang berkah dan berbahagia bersama keluarga kecilnya. Dan semoga ia selalu mengingat perjalanan hidupnya bersama ayah, ibu, kakak dan semua saudara yang sangat menyayanginya.


Selamat ulang tahun adikku. Kakakmu ini akan selalu menyayangi dan merindukanmu. Semoga Allah SWT melindungimu kapan saja dan dimanapun. Wish you all the best, my little brother.
Yuk Lanjut

Bantulah yang Terdekat



Saya mempunyai saudara sepupu yang super kaya. Terlahir dari orangtua yang juga kaya raya. Akan tetapi kekayaan mereka sekeluarga, murni hasil dari kerja keras, dan tingkat pendidikannya yang tinggi.


Suatu kali si sepupu ini ingin membagikan sebagian penghasilannya,  untuk pembangunan masjid yang ada di kota tempat tinggalnya. Namun mendengar hal ini, orangtuanya memberi nasehat. Bahwa boleh-boleh saja menyumbang untuk keperluan tersebut. Tetapi sebelumnya,  disarankan terlebih dahulu melihat ke sekeliling. Adakah sekiranya orang lain,  atau bahkan saudara terdekat yang membutuhkan bantuan.


Mendengar hal itu, saudara sepupu ini akhirnya memahaminya. Lalu tak lama kemudian ia pun mendatangi semua saudaranya, untuk berbagi rezeki. Sedangkan bagi keluarga lain yang berada jauh di luar kota, ia bagikan rezeki itu dengan cara mentransfernya.


Membantu orang lain yang membutuhkan dalam bentuk financial, adalah satu hal yang sangat baik dilakukan. Pahalanya pun akan terus mengalir kepada kita. Bahkan doa dari orang yang dibantu, akan selalu terpanjat untuk kebaikan hidup kita. Maka berbahagialah jika diberi kesempatan untuk bisa membantu orang lain, dan ikhlaslah dengan semua itu.


Akan tetapi membantu orang lain pun,  juga tetap harus memperhatikan beberapa hal.  Pertama, sesuaikan dengan kondisi diri sendiri. Dalam arti apakah saat ini kita memiliki rezeki berlebih,  yang bisa diberikan kepada orang lain? Jika memang belum, tetap niatkan hati. Yakinlah bahwa entah kapan,  niat tersebut pasti akan terwujud.


Lalu tanyakan pada diri sendiri juga,  apakah masih mempunyai kebutuhan mendesak, yang harus dipenuhi. Misalnya keperluan anak sekolah, perawatan kesehatan, renovasi rumah dan lain-lain. Jika masih membutuhkan dana untuk kebutuhan penting diri sendiri, maka alangkah baiknya didahulukan. Apalah artinya membantu orang lain,  tetapi di kemudian hari justru berhutang. Alhasil akan semakin merepotkan.


Membantu orang lain juga perlu menyesuaikan dengan kondisi yang dibantu. Ketika yang membutuhkan pertolongan  adalah seorang lanjut usia, maka memberikan sejumlah dana menjadi wujud bantuan yang tepat. Namun pada saat ia adalah seseorang yang masih muda usia, memiliki kekuatan lahir dan batin untuk melakukan suatu pekerjaan, maka memberikan bantuan berupa modal usaha,  atau lapangan pekerjaan akan lebih bermanfaat.


Sudah menjadi fitrahnya bahwa setiap manusia saling membutuhkan. Tetap niatkan hati untuk membantu orang lain. Selama semua dilakukan dengan ikhlas, maka niscaya pahala kebaikan akan selalu kita dapatkan.
Yuk Lanjut

Jumat, 20 Oktober 2017

Friday is Not Free Day



Hari Jumat adalah waktu yang paling baik dan tepat untuk melakukan kebaikan. Itulah yang selalu saya dengar dari ceramah ulama dan tokoh agama. Bahkan menyebutnya sebagai hari raya umat muslim.


Berkenaan dengan itu, maka alangkah baiknya jika di hari Jumat,  setiap orang berlomba dalam kebaikan. Seperti mengaji, melakukan shalat Jumat dan shalat Sunnah lainnya, bersedekah, berdzikir, juga membantu kesulitan orang lain. Dan hal ini tak hanya berlaku bagi kaum pria. Tetapi kaum wanita pun sedapat mungkin berbuat yang sama.


Tetapi mayoritas orang berpendapat, bahwa keistimewaan hari Jumat terletak pada pendeknya waktu, untuk melakukan aktivitas. Sebab seringkali saya mendengar ungkapan seperti ini "Ayo, cepat selesaikan semua urusanmu. Sekarang hari Jumat. Hari pendek. Nanti enggak keburu." Hari Jumat juga identik dengan semakin dekatnya waktu untuk berakhir pekan. Hari yang sangat dinantikan oleh semua orang untuk melepas penat,  setelah seminggu sibuk beraktivitas.


Lain lagi dengan pendapat kaum wanita. Jumat adalah waktu yang sangat tepat untuk berjalan-jalan dan berbelanja. Saya pun memiliki pendapat yang sama. Itulah sebabnya di hari Jumat, ketika kaum pria menunaikan ibadah shalat, saya dan teman-teman wanita,  lebih memilih mendatangi pusat perbelanjaan atau cafe untuk bersantai.


Padahal sekali lagi, sebenarnya hari Jumat sangat baik dan dianjurkan,  untuk banyak melakukan kebajikan. Sebab pahala yang akan didapatkan, buah dari perbuatan baik tersebut akan berlipat ganda. Allah SWT sendiri telah menjanjikannya.


Namun begitulah. Belum banyak manusia yang menyadari keistimewaan hari Jumat. Termasuk saya. Entahlah. Masih saja berpikiran hari Jumat,  adalah waktu yang sangat menyenangkan. Membayangkan esok hari libur dan waktunya bersantai. Alias Friday is Free Day.


Tetapi ketika manusia menyadari, bahwa hari Jumat sangat tepat,  untuk banyak melakukan amal baik, maka tentunya ia akan cukup sibuk. Untuk apa? Pastinya sebanyak-banyaknya melakukan kebaikan. Entah bersedekah, mengaji, berdzikir, melakukan shalat, membantu orang lain dan lain-lain. Karena ia merasa pahala di hari Jumat sangat layak dikejar, demi meningkatkan kualitas hidup.  Dalam arti Friday is Not Free Day.


Jika belum sanggup melakukannya, minimal menahan diri dari berkata-kata kasar atau menghujat orang lain. Sebab pastilah perbuatan ini akan sanggup menyakiti hati. Akibatnya bukan tidak mungkin jika tali silaturahmi dan pertemanan menjadi terputus, hanya karena tidak sanggup menjaga lisan.


Jadi marilah kita semua menyibukkan diri,  dengan banyak melakukan amal baik ketika datang hari Jumat. Tujuannya tak lain demi mendapatkan pahala kebaikan, seperti yang telah dijanjikanNya. Friday is Not Free Day. Setuju?


Ups, sepertinya tadi siang saya menghujat salah satu teman. Semoga menjadi pengingat diri untuk tak melakukannya lagi. Happy Friday.
Yuk Lanjut

Rabu, 18 Oktober 2017

Degradasi Hati


Beberapa waktu lalu saya bekerja di perusahaan sebagai seorang auditor. Memeriksa laporan keuangan perusahaan,  sudah menjadi tugas dan tanggung jawab. Tak jarang saya harus keluar kota meninggalkan keluarga demi tugas ini. 


Menjalani pekerjaan sebagai auditor tidaklah mudah. Saya harus memiliki keberanian,  untuk mengungkapkan yang salah. Ada kalanya harus berselisih paham dengan pihak yang diperiksa,  demi mendapatkan kebenaran.


Alhasil semua perasaan berbaur dalam hati. Antara senang ketika mendapatkan fakta yang benar. Juga sedih jika ada pihak  yang harus dipersalahkan. Tak jarang pula merasa superior, karena sudah bukan rahasia lagi jika seorang auditor itu ditakuti. Padahal wajah saya ini sama sekali tidak menakutkan. Hehe.


Enam bulan lalu semuanya berubah. Keputusan perusahaan yang terbaru mengisyaratkan, untuk mengurangi beberapa orang auditor. Dan tanpa terduga, saya termasuk dalam kelompok tersebut. Terdegradasi dari seorang auditor,  dan menempatkan saya pada unit kerja di kantor cabang. Hanya sebagai staf administrasi biasa pula.


Kecewa? Tentu. Sedih? Iya. Malu? Apalagi. Terlebih ketika saya ingat lagi masa-masa menjadi auditor,  dan kini hanya sebagai staf administrasi biasa saja. Ibaratnya dulu semua orang menurut pada saya, dan kini harus mengalami situasi sebaliknya.


Tetapi, alhamdulilah saya bisa menyikapi hal ini. Berusaha sedapat mungkin untuk tetap bekerja sebaik-baiknya,  dan tidak terpengaruh dengan kondisi degradasi ini. Jujur awalnya sempat kurang nyaman karena beberapa teman bersorak. Namun saya tetap berpikir bahwa itu semua tiada artinya,  dibandingkan rasa syukur masih diberikan kesempatan bekerja.


Memang saat ini bisa dibilang saya mengalami degradasi. Degradasi hanya karena jabatan. Tetapi hati saya sama sekali tidak merasakan degradasi. Jika iya, maka sudah tentu saya akan bersedih terus sepanjang hari, mengutuk atau memprotes keras keputusan perusahaan, dan bisa jadi tidak ingin bekerja lagi.


Tidak, saya tidak melakukannya. Bagi saya jabatan hanyalah sebuah titipan. Perantara bagi seorang manusia untuk mendapatkan peningkatan rezeki. Tetapi apalah gunanya jabatan tinggi , namun tidak bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Pemberi Rezeki. Semuanya akan sia-sia saja.


Pada akhirnya saya belajar, bahwa kehidupan manusia selalu berubah setiap saat. Kita tidak akan tahu kapan saatnya berada di atas,  atau terjungkal ke bawah. Namun satu hal yang harus disadari. Jangan pernah merasa bangga diri atau memperbesar kesombongan. Karena seorang manusia sesungguhnya tak pantas menyombongkan diri. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata.
Yuk Lanjut

Susahnya Mendidik Anak Perempuan


Pada saat putri kecil saya lahir, semua orang menyambutnya dengan gembira. Terlebih teman-teman di kantor. Menurut mereka bertambah lagi satu anggota keluarga baru yang berjenis kelamin perempuan. Maklumlah mayoritas anak-anak kami adalah perempuan.


Bagi saya, memiliki seorang anak perempuan sangat menyenangkan. Hal ini disebabkan banyak atribut lucu-lucu dan menggemaskan,  yang bisa dipakainya. Katakanlah seperti bandana, topi, jilbab, rok, pakaian, bahkan alas kakinya. Itulah sebabnya saya selalu lupa diri jika harus berbelanja pakaian,  atau atribut untuk anak kami. Hehe.


Namun tidak demikian halnya dengan teman saya di kantor. Ia memiliki dua prang putra yang sangat tampan. Ketika ditanya kapan ingin punya anak perempuan, ia menjawab “Enggak, Mbak. Mendidik anak perempuan itu susah.”
Terkejut juga mendengar penuturannya. Tetapi biarlah itu semua menjadi keputusannya. Lalu sebenarnya apa yang membuat si teman berkata demikian?


Sebenarnya mendidik seorang anak entah laki-laki atau perempuan sama saja. Pada dasarnya setiap orangtua pastilah menginginkan anaknya, menjadi manusia yang pandai, baik hati, bermanfaat bagi agama dan sesama. Hanya saja setiap orangtua memiliki seni masing-masing,  dalam menerapkan pola asuh pada anak. 


Tetapi tak bisa dipungkiri,  bahwa mendidik seorang anak perempuan memerlukan satu perhatian khusus, dibandingkan dengan anak laki-laki. Hal ini disebabkan :



  1. Peran dalam keluarga. Seorang anak perempuan nantinya akan tumbuh menjadi wanita dewasa, dimana sejalan dengan hal tersebut, ia akan memiliki peran yang cukup penting dalam keluarga. Ketika menikah ia bertugas mengatur semua kebutuhan dalam rumah tangga, juga mengurus suami dan anak. Tak hanya itu. Ia juga bertanggung jawab mengatur keuangan dan ekonomi keluarga. Sehingga jikalau ia tak mampu menjalankan tugasnya ini, maka kemungkinan besar rumah tangga yang dibinanya, tidak akan berjalan harmonis.
  2. Calon isteri dan ibu. Seorang perempuan akan menjadi calon isteri dan ibu di masa depan. Ketika menikah ia akan menjadi seorang isteri, dari pria pendamping hidupnya. Isteri yang mampu memberikan kedamaian pada keluarganya. Juga menjadi ibu dan guru bagi anak-anaknya. Ia akan menjadi seseorang, yang harus memberikan banyak ilmu kehidupan kepada anak-anaknya, sebagai sosok yang paling dekat dengan keluarga. Maka untuk itulah ia harus banyak belajar dari orangtua dan lingkungannya, tentang kehidupan dan semua hal yang bermanfaat.
  3. Perbedaan karakter. Yang menjadikan orangtua memiliki kesulitan tersendiri, dalam mendidik anak perempuannya adalah, perbedaan karakter yang mencolok dengan anak laki-laki. Karakternya yang lembut, menjadikan orangtua harus ekstra hati-hati dalam mendidiknya. Katakanlah jika ingin memberikan teguran atas kesalahannya,  atau ketika ia sedang menghadapi masalah. Disinilah orangtua harus pandai menyikapi, agar teguran dan nasehat bisa diberikan, namun anak masih dapat menerimanya, bahkan semakin mengeratkan hubungannya dengan orangtua.



Hmmm, akhirnya saya memahami apa yang menjadi penyebab si teman berbicara demikian. Tetapi semuanya kembali kepada pendapat masing-masing pihak. Yang jelas seorang anak entah laki-laki atau perempuan,  tetap menjadi kewajiban orangtua untuk membesarkan dan mendidiknya dengan baik, karena kelak akan dipertanggungjawabkan kepada pemiliknya.
Yuk Lanjut

Selasa, 17 Oktober 2017

Semipro, Festival Lokal Tahunan yang Membuatmu Betah di Probolinggo


Sumber gambar : www.google.com

Saya lahir di kota bernama Probolinggo. Meski saat ini sudah hijrah ke Surabaya, saya tetap  tak bisa melupakan kota ini. Sebuah kota kecil di provinsi Jawa Timur, yang sering  membuat saya tertawa ketika berjalan-jalan. Bayangkan saja, jika pada awalnya kita memulai perjalanan dari alun-alun kota, tak lama kemudian pasti sudah sampai kembali ke tempat asal. Akibat sangat kecilnya kota tersebut.


Tetapi meskipun kecil, harus saya akui kota ini aman, damai dan tenang. Hawanya sangat panas karena berdekatan dengan laut, yang memungkinkan banyak nelayan,  menjual ikan hasil tangkapannya di pasar tepi pantai. Inilah yang menjadi daya tarik bagi penggemar ikan seperti saya,  untuk datang ke Probolinggo. Hehe.


Nah, beberapa tahun lalu saya baru mengetahui, bahwa ada satu festival lokal  tahunan yang selalu digelar. Bernama SEMIPRO atau singkatan dari SEMINGGU DI PROBOLINGGO. Sebuah festival yang menggelar berbagai potensi semua daerah yang ada di Probolinggo. Dengan tujuan tak lain ingin meningkatkan kualitas dan daya tarik kota Probolinggo,  sebagai rujukan bagi wisatawan,  tentunya dengan jadwal yang sudah dipastikan.


Awal penyelenggaraan Semipro ini digelar di tahun 2009. Saya ingat betul ketika itu saya menikah, dan rombongan calon suami sempat terlambat, akibat macetnya jalan raya dikarenakan adanya Semipro ini. Hehe.


Dan kini,  penyelenggaraan Semipro telah memasuki tahun ke sembilan,  sejak pertama kali digelar. Jika di tahun 2009 hanya menyajikan pementasan seni dan budaya, perlombaan olahraga dan festival, kini event Semipro memberikan lebih banyak kegiatan.


Seperti pada penyelenggaraan tahun 2017 ini, Semipro dibuka di alun-alun kota Probolinggo pada tanggal 28 Agustus,  yang kemudian berlanjut dengan beberapa kegiatan, selama satu minggu lamanya.



Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah Sapi Brujul. Lomba karapan sapi sama seperti dengan yang sering digelar di Madura. Bedanya jika di Madura balapan sapi tersebut dilakukan di lahan sawah kering, sedangkan Sapi Brujul diselenggarakan di tanah yang penuh lumpur dan berair. Alhasil perlombaan ini semakin seru dan menarik perhatian. Juga sangat menarik jika bisa didokumentasikan.


Selain kompetisi Sapi Brujul, Semipro juga diisi dengan berbagai kesenian lokal seperti Tari Lengger, dan  Tari Jaran Bodhag. Ada juga kesenian ludruk, campursari, keroncong dan seni musik lainnya. Tak hanya itu. Semipro juga menampilkan berbagai kesenian dan budaya beragam etnis,  dari daerah lain di luar kota Probolinggo. Hmmm,  saya bisa bayangkan betapa kemeriahan luar biasa terjadi,  manakala festival Semipro ini digelar.


Lebih seru dan menyenangkan lagi, terdapat pula stand pameran dari UMKM, gabungan beberapa hotel, juga sajian macam-macam  kuliner yang tentu saja menggugah selera. Nah, ini nih yang bisa membuat seseorang penasaran untuk mencicipinya.


Pada akhirnya,  sebagai seseorang yang pernah merasakan masa kecil di kota Probolinggo, saya berharap event ini akan berlangsung rutin setiap tahun. Tak lain agar supaya kota ini semakin dikenal,  sebagai salah satu tujuan wisata yang ramah dan menyenangkan. Selain itu juga sebagai wujud perhatian pemerintah, terhadap kesenian dan kebudayaan yang ada. Dan secara tak langsung, dapat pula meningkatkan perekonomian masyarakat Probolinggo pada umumnya.


Hmmmmmm, kapan ya saya  bisa datang lagi ke Probolinggo?
Yuk Lanjut

Senin, 16 Oktober 2017

Merasakan Sensasi Protes Anak


Saya mempunyai putri kecil berusia hampir empat tahun. Putri semata wayang yang sudah mulai mengerti kondisi sekitarnya. Bahkan sudah berani memprotes, ketika ayah bundanya tak ada di sampingnya.


Saya adalah seorang karyawati,  yang sudah tentu lima hari dalam seminggu penuh harus bekerja di kantor. Begitupun dengan suami,  yang jauh lebih lama menghabiskan waktu di tempat kerjanya.


Sedangkan si anak sendiri, dalam seminggu tiga hari ia harus  bersekolah. Pada saat ia bersekolah, suasana masih dapat dikendalikan. Namun ketika tiba saatnya libur, mulailah protes ala anak-anak keluar dari mulut mungilnya. Seperti biasa ia akan berujar "Ayah sama Bunda kerja lagi, kerja lagi! Aku sendirian!"


Awalnya saya hanya  tersenyum dan menikmati. Protes tersebut terdengar lucu di telinga. Apalagi ia ungkapkan dengan ucapan yang tidak jelas. Hehe. Namun setelah beberapa lama hal itu terjadi, saya mulai berpikir. Ada rasa dimana saya mulai terganggu dengan protes ini.


Terganggu bukan dalam arti tidak senang ketika anak memprotes. Tetapi mulai bertanya-tanya dalam hati. Apakah iya,  saya sedemikian sibuknya sehingga melalaikannya? Sehingga ia merasa sendirian? Protes inilah yang membuat saya bekerja keras untuk melakukan koreksi diri.


Terlebih pada saat ada acara sekolah yang mengharuskan orangtua menemani. Tetapi alangkah sedihnya hati ini, ketika  saat itu, saya harus menggantikan tugas teman yang sedang cuti. Alhasil tidak bisa menemaninya dalam acara tersebut. Sekali lagi perasaan bersalah mulai menghantui,  dan siap mengaduk hati.


Begitulah. Tetapi anehnya pada saat orangtuanya berada di rumah, putri kecil saya ini terlihat sangat manja, dan selalu mencari perhatian. Terkesan agak rewel. Semua permintaannya harus dikabulkan. Jika tidak akan menangis sejadi-jadinya atau cemberut seharian. Mungkin ini sebagai pelampiasannya,  akibat hampir seminggu lamanya merasa sendirian.


Memang sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja, hal ini tidaklah mudah. Betapa setiap hari, saya harus mulai  membiasakan diri menerima semua protesnya. Menyaksikannya bermain seorang diri,  atau membayangkannya tidak bisa mencurahkan isi hati, jika ada yang menyakitinya, sungguh membuat saya bersedih.


Namun sekali lagi, tetap harus ada solusi untuk menghadapi permasalahan ini. Paling tidak,  saya harus bisa merelakan waktu istirahat sepulang kantor untuk memperhatikannya. Ikhlas melepaskan gadget dan teknologinya,  untuk mendengar cerita dan keluh kesahnya,  serta menemani bermain hingga tiba waktu untuk terlelap.


Ya, saya harus bisa melakukan hal ini. Setidaknya sampai tiba waktu bagi saya nanti, untuk berani mengambil satu keputusan besar dalam hidup. Ketika saya benar-benar berani memutuskan,   lebih memilih dan mendahulukan kepentingannya,  dibandingkan kebahagiaan diri sendiri dalam mencari penghasilan.
Yuk Lanjut

Minggu, 15 Oktober 2017

Bijaklah Memilih Topik Pembicaraan


Hari  itu seperti biasa saya santap siang bersama teman sekantor di ruang makan. Kami semua sangat akrab satu sama lain, sehingga selalu melakukan apapun bersama-sama. Termasuk makan siang seperti ini,  sudah menjadi kebiasaan yang selalu kami lakukan.


Selama makan siang kami saling bertukar cerita. Hal apa saja bisa menjadi topik pembicaraan yang seru bagi kami. Tak jarang  terbahak-bahak, ketika mendengar cerita salah satu teman yang pada dasarnya suka bercanda.


Namun di hari itu saya rasakan suasana makan siang kurang menyenangkan. Entah mengapa tiba-tiba menjadi kehilangan selera makan, dan rasanya ingin cepat-cepat meninggalkan ruangan itu.


Ya, karena topik pembicaraan kami saat itu adalah, tentang hubungan suami isteri. Berawal dari teman yang baru saja menikah, dimana tentu saja topik yang seru seputar pengantin baru,  adalah tentang malam pertama. Jadilah si teman ini, diminta untuk menceritakan pengalaman malam pertamanya.


Saya pun merasa risih ketika pembicaraan sudah mengarah pada topik tersebut. Apalagi ketika mereka semua kemudian menyuruh saya, untuk bercerita tentang hal yang sama. Tanpa berlama-lama lagi, saya mencoba untuk tersenyum, menghindar,  dan segera beranjak dari ruangan itu.


Entahlah. Menurut saya ada beberapa hal yang dapat dibicarakan di depan umum. Namun ada pula yang seharusnya menjadi rahasia, dan tak semestinya orang lain mengetahuinya. Dalam hal ini jika kita tak pandai memilahnya, sudah pasti akan menjadi bumerang bagi kehidupan kelak.


Ada beberapa hal yang tak patut menjadi bahan perbincangan untuk umum. Katakanlah seperti masalah keuangan keluarga. Sebagai contoh isteri yang berpenghasilan lebih besar daripada suami. Jika hal ini sampai terdengar oleh orang lain, bukankah akan menjadi satu hal yang merendahkan martabat suami sebagai pemimpin keluarga?


Contoh lain jika kita memiliki hutang piutang yang masih belum terselesaikan, dan kesulitan bagaimana mengatasinya. Bukan tidak mungkin orang lain akan menjauh, karena takut kita meminjam uangnya.


Dan yang paling beresiko adalah ketika kita menceritakan tentang kehidupan pribadi, terutama hubungan suami isteri kepada teman. Selain bersifat pribadi, agama pun juga melarangnya. Sebab topik ini sangat mudah dijadikan bahan olok-olok,  dan yang pasti akan menyakiti hati. 


Apakah kita tidak merasa malu,  jika orang lain mengatakan bahwa suami atau isteri adalah orang yang bernafsu besar, hanya karena kita pernah bercerita, bagaimana perilaku selama berhubungan?


Apakah tidak merasa malu,  jika ada teman yang mengatakan kita memiliki perilaku seks menyimpang, hanya karena pernah bercerita,  tentang posisi aneh dalam bercinta yang pernah dilakukan?


Sungguh, hal tersebut sama sekali tak patut untuk dijadikan tema,  dalam pembicaraan dengan teman. Ketahuilah bahwa  itu akan menjadi permasalahan terbesar,  yang akan muncul di kemudian hari,  jika kita tak pandai menyikapinya.


Salah satu hal penting,  dalam membina hubungan baik dengan teman adalah saling tukar pikiran, berbincang hangat, dan berbagi pengalaman. Namun bijaklah. Ada beberapa hal yang sebenarnya tak patut dibicarakan di depan umum,  dan seharusnya menjadi rahasia. Jika tidak menyadarinya, yakinlah bahwa kehancuran besar akan terjadi, dalam kehidupan kita di masa depan.


So, be wise guys!
Yuk Lanjut

Sabtu, 14 Oktober 2017

Dia Juga Butuh Perhatian


Saya mempunyai teman yang sering menjengkelkan. Berusia paruh baya,  dan aktif sebagai tenaga pemasaran di kantor kami. Entahlah. Setiap kali si teman datang kehebohan sering terjadi,  karena perbuatannya atau perkataannya.


Saya sendiri sudah maklum dengan semua ini. Dalam arti sangat mengerti sekali tentang sifat beliau , dan bagaimana harus memperlakukannya. Sehingga biasanya saya bersikap hanya berbicara jika ditanya, membantunya secepat mungkin,  dan tidak akan memulai pembicaraan sebelum beliau memulainya.


Di luar sikapnya yang kurang menyenangkan, ternyata beliau memiliki keahlian , yang semua orang belum tentu bisa melakukannya. Beliau ahli merajut, dan harus diakui hasilnya cukup bagus. Terbukti saya pernah membeli salah satu hasil karyanya. Dan keahliannya ini beberapa waktu yang lalu,  sempat membuat beliau diberi kesempatan oleh pemerintah setempat, untuk menggelar produk hasil karyanya.


Dua hari lalu beliau datang ke kantor seperti biasa dengan kagaduhannya. Setelah mengurus keperluannya, beliau terlihat terburu-buru hendak meninggalkan kantor. Sambil menunggu taksi yang hendak menjemputnya, beliau bercerita sedikit tentang pameran produk yang digelarnya.


Beliau bercerita dengan antusias dan semangat. Seolah-olah ingin mencurahkan segala kebahagiaannya. Hati saya pun mulai tersentuh mendengarnya, dan mulai berpikir apakah pantas mengabaikannya  yang sedang bersemangat saat ini.


Sedikit demi sedikit saya mulai mendengarkannya. Menanggapi ceritanya, dan juga bertanya tentang pamerannya. Terlihat  beliau sangat senang dan bahagia melihat saya memperhatikannya. Alhasil pembicaraan menjadi semakin seru. 


Tak lama kemudian taksi online pun datang. Bergegas mengambil tas dan perlengkapannya , beliau mohon pamit untuk menuju tempat pamerannya kembali. Sebelumnya beliau mengundang saya untuk datang ke stand pamerannya,  dan kalau bisa membeli produknya. Hehe.


Setelah beliau berlalu, saya merenung. Ternyata meskipun memiliki sifat  yang menjengkelkan, di balik itu beliau juga seorang manusia. Membutuhkan perhatian dari orang lain. Ingin ceritanya didengarkan, dan tidak ingin orang lain bersikap tak acuh padanya. 


Jadi ketika seseorang memiliki sifat yang menjengkelkan dan kurang menyenangkan, biarkanlah. Pada saat ia menyakiti hati, lupakan dan maafkanlah. Kewajiban kita hanya terus berbuat baik kepadanya. Tak peduli apakah nanti mendapatkan balasan yang sama ataukah tidak. Percayalah kebaikan yang kita tanam suatu saat akan berbuah. Entah kita nikmati sendiri. Ataukah dinikmati oleh keluarga dan anak cucu nanti.
Yuk Lanjut

Jumat, 13 Oktober 2017

Berapa Assetmu?





Suatu hari seorang teman berkisah. Ia marah besar dan kecewa dengan sepupu iparnya. Awalnya  pada saat bertemu, mereka berdua hanya saling menanyakan kabar. Tiba-tiba sepupu tersebut bertanya,  tentang kondisi rumah si teman di kampung halaman. Si teman dengan santainya menjawab, bahwa rumah masa kecilnya itu sudah lama dijual,  karena orangtuanya telah  meninggal dunia beberapa waktu lalu.


Namun tiba-tiba sepupu ini bertanya lagi kepada si teman, apakah ia mempunyai asset lagi di kampung halaman,  selain  rumah tersebut, ataukah hanya itu yang tersisa.  Jujur teman saya terkejut mendengarnya. Mengapa si sepupu ini bertanya tentang asset yang dimilikinya? Apa maksudnya? Apa kepentingannya dengan pertanyaan itu? Apakah ingin mengetahui seberapa kayakah si teman? Atau ingin menghinanya? Menurut si teman sungguh ini bukan satu pertanyaan yang pantas untuk dipertanyakan. 


Akhirnya karena si teman sudah semakin marahnya  ia menjawab,  bahwa selain rumah, ada lagi asset yang masih dimilikinya. Yaitu makam kedua orangtuanya. Akhirnya si sepupu tadi terdiam mendengar perkataan si teman. 


Asset adalah kekayaan atau harta benda yang dimiliki oleh seseorang. Biasanya didapatkan dari hasil kerja keras, menabung,  atau merupakan harta warisan orangtua. Dengan asset ini seseorang dapat memenuhi semua kebutuhannya. Katakanlah jika  memiliki sebuah rumah, maka ia dapat mempergunakannya untuk mendapatkan penghasilan,  misalnya dengan menyewakannya kepada orang lain. 


Tetapi selain asset dari hasil kerja keras, menabung,   atau harta warisan orangtua,  ada pula yang diperoleh dari jalan  tidak benar. Sebagai  contoh asset yang didapat dari korupsi,  atau mengambil yang bukan haknya. Dan orang yang terbiasa mendapatkan asset dengan cara seperti ini, seringnya merasa terlena dan selalu tidak puas. Alhasil ada keinginan untuk terus menambah jumlah asset,  tanpa peduli cara yang digunakannya benar atau tidak.


Fakta yang  terjadi selama ini, asset yang dimiliki seseorang,  sering dijadikan sebagai tolok ukur kedudukan dan kehormatannya. Dalam arti semakin banyak assetnya, maka semakin terhormat pula kedudukannya dalam masyarakat. Tanpa melihat bagaimana caranya  mendapatkan asset  tersebut.  


Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Banyaknya harta atau asset tidaklah menjamin  kehormatan seseorang. Apalah artinya memiliki banyak kekayaan, jika semuanya didapat dari cara yang tidak halal. Lantas menyombongkan diri, bahkan menghina orang lain. Terlebih  jika sedetik pun tidak berusaha  mengingat,  bahwa harta tersebut harus dibersihkan,  dengan cara digunakan di jalan Allah SWT


Boleh-boleh saja mengumpulkan asset sebanyak-banyaknya. Hanya saja gunakan cara yang bersih, jangan lupakan kondisi masyarakat sekitar, dan hindari menyombongkannya. Karena kebahagiaan dalam hidup ini, sejatinya tidak bisa diukur dengan uang. Melainkan seberapa besar keberkahan  dari setiap harta yang ada. 


Jadi, masihkah menilai asset sebagai ukuran kehormatan seseorang?
Yuk Lanjut

Kamis, 12 Oktober 2017

Beratnya Berqurban


Beberapa hari yang lalu seorang teman mengusulkan membuat sebuah tabungan bulanan. Tabungan bulanan ini memiliki nominal yang sama setiap bulannya,  dan nantinya akan diperuntukkan,  untuk membeli hewan qurban sapi atau kambing, di hari raya Idul Adha tahun depan. Si teman  beralasan, jika tidak membuat tabungan seperti ini, dikhawatirkan ia tidak sempat, atau lupa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk keperluan berqurban.


Hari raya Idul Adha adalah waktu yang sangat istimewa bagi umat Islam. Selain adanya kesempatan beribadah haji bagi yang mampu, dianjurkan pula untuk dapat berqurban sapi atau kambing. Hewan qurban tersebut nanti akan disembelih,  dan dibagikan kepada masyarakat yang kurang mampu.


Terkait niat berqurban ini, alhamdulilah sudah  saya lakukan,  setelah menabung melalui pengurus masjid beberapa waktu lamanya, dengan nominal sama tiap bulannya. Lalu  ketika tiba waktunya berqurban, saya langsung menyerahkannya pada pengurus masjid, untuk membeli hewan qurban tersebut. Saya lakukan cara seperti itu, karena memiliki pemikiran yang sama dengan teman. Yaitu takut lupa atau tidak sempat menabung membeli hewan qurban.


Memiliki niat untuk berqurban, adalah sesuatu yang sangat mulia namun  berat dilakukan. Mengapa? Karena godaan untuk menghambat,  atau menghindari terlaksananya niat ini sangatlah besar. Apalagi niat berqurban ini sejatinya untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain.


Itulah sebabnya demi bisa menyembelih hewan qurban, mayoritas orang melakukannya,  dengan cara menabung sedikit demi sedikit. Entah dikumpulkan dalam tabungan di rumah  atau menitipkannya pada pengurus masjid. 


Namun herannya, mengapa pada saat ingin membeli keperluan yang bersifat duniawi, seseorang bahkan saya sendiri, sangat mudah mengeluarkan uang untuk mewujudkan keinginan tersebut. Padahal seringnya barang yang diinginkan itu, lebih mahal bila dibandingkan harga hewan qurban. 


Katakanlah seperti gadget. Coba ingat kembali, betapa kita sangat mudah mengeluarkan uang jutaan rupiah, untuk membeli gadget inovasi terbaru. Dan itu semua kita lakukan tanpa pikir panjang. Sedangkan untuk membeli hewan qurban, kita masih berpikir seribu kali untuk melakukannya. Ujung-ujungnya kadang-kadang batal berqurban. Andaikan terlaksana, harus diwujudkan dengan cara menabung. Bukan langsung mengeluarkan sejumlah nominal harga hewan qurban sekaligus.


Sehingga pada akhirnya, patut dipertanyakan kembali. Sebenarnya bagaimana sejatinya niat kita untuk berqurban. Betul-betul ikhlaskah demi Allah SWT, ataukah masih ada ganjalan di hati? Jika semuanya dilakukan dengan ikhlas,  tentunya kita tidak akan berpikir berulang kali,  untuk sekaligus mengeluarkan uang demi seekor hewan qurban. Kita akan melakukannya sama seperti ketika hendak membeli sebuah gadget tercanggih.


Jadi mulai sekarang yuk ubah pola pikir. Bahwa membuang uang untuk dibelanjakan di jalan Allah, tidak akan membuat kita jatuh miskin ataupun berkurangnya harta. Justru kekayaan kita akan bertambah. Hal ini akibat banyaknya doa yang tercurah. Doa dari orang-orang yang kita bahagiakan,  karena kita telah ikhlas membahagiakan mereka. 
Yuk Lanjut

Rabu, 11 Oktober 2017

Si Bawang Putih yang Tak Lagi Putih


                             Sumber gambar : www.google.com

Alkisah di sebuah kota kecil yang indah dan damai, hiduplah  satu keluarga bahagia dan berkecukupan. Beranggotakan  ayah, ibu, dan putri semata wayang mereka yang  bernama Bawang Putih. Bawang Putih adalah seorang putri yang sangat cantik. Tak hanya cantik. Ia juga seorang yang baik hati, ramah, dan suka membantu siapa pun yang membutuhkan. Maka tak heran jika orang-orang di lingkungan sekitar sangat menyukainya. 


Tak jauh dari rumah mereka, ada pula sebuah keluarga kecil,  yang hanya beranggotakan seorang ibu dan anak gadisnya. Gadis tersebut bernama Bawang Merah. Berusia sama dengan Bawang Putih. Hanya saja si Bawang Merah  ini mempunyai sifat, yang sangat bertolak belakang dengan si Bawang Putih. Ia adalah seorang yang berpengarai buruk. Mungkin perangai ini ia warisi dari sang ibu yang juga memiliki sifat buruk. Kehidupan keluarga mereka pun serba kesulitan, karena di masa lalu pernah berfoya-foya dengan kekayaan.


Bertahun-tahun si Bawang Putih dan keluarganya hidup dalam kebahagiaan. Hingga suatu saat kebahagiaan itu terenggut dari mereka. Sang ibu dipanggil oleh Yang Mahakuasa. Alhasil sang ayah dan Bawang Putih mulai menjalani kehidupan baru, tanpa kehadiran sang ibu yang sangat mereka cintai. 


Berita wafatnya ibu si Bawang Putih, akhirnya terdengar juga oleh ibu si Bawang Merah. Akal jahat pun merasuk dalam hatinya. Si ibu ini mulai berpikir, seandainya saja ia bisa menikah dengan ayah si Bawang Putih, tentulah kehidupan keluarganya tidak sesulit ini. Maka jadilah ia memikirkan bagaimana cara untuk mendekati keluarga si Bawang Putih.  Akhirnya si ibu menemukan cara itu.


Esoknya si Bawang Merah bersama ibunya berkunjung ke rumah si Bawang Putih. Kunjungan itu berlangsung terus menerus, hingga ayah si Bawang Putih  merasa bahagia. Apalagi selama berkunjung tersebut, si Bawang Merah dan ibunya  menunjukkan sikap yang sangat baik. Hingga pada akhirnya ayah si Bawang Putih luluh hatinya karena  mendapatkan perhatian mereka berdua. Tak lama kemudian ayah si Bawang Putih dan si Bawang Merah menikah.


Namun tanpa disangka, setelah menikah si Bawang Merah  dan ibunya menunjukkan perubahan sikap. Sifat asli mulai mereka tampakkan. Setiap hari mereka memperlakukan si Bawang Putih dengan tidak baik. Dipaksa bekerja mencari nafkah setiap hari. Sehabis bekerja pun masih harus membersihkan rumah. Hasil kerja kerasnya selalu dirampas oleh si Bawang Merah dan ibunya. Belum lagi ditambah dengan kata-kata kasar yang harus ia dengar setiap saat. 


Bawang Putih selalu mencoba bersabar menghadapi kenyataan ini. Sekuat tenaga ia mencoba bertahan untuk bersabar. Namun ada kalanya kesabaran dalam dirinya mulai habis. Ia mulai tidak tahan mendapatkan perlakuan buruk dari saudara tirinya. Sering ia dengar ajakan setan dalam hatinya,  untuk membalas semua perlakukan buruk si Bawang Merah dan ibunya. Lagi-lagi ia mencoba menahan diri untuk tidak membalasnya.


Beberapa tahun kemudian, ketika si Bawang Merah dan Bawang Putih beranjak dewasa,  kota kecil mereka kedatangan satu keluarga baru,  yang baru saja pindah dari daerah  lain. Keluarga baru ini sangat kaya dan terpandang. Dan sesuai tradisi yang ada selama ini, mereka mulai  berkenalan dan bersilaturahmi dengan tetangga sekitarnya. Termasuk kepada keluarga si Bawang Merah dan Bawang Putih. 


Ternyata keluarga ini memiliki satu anak laki-laki bernama Bawang Bombay yang sangat tampan. Ketampanannya sanggup meruntuhkan hati wanita yang memandangnya. Si Bawang Putih dan Bawang Merah juga terpesona olehnya. Mereka pun mulai merasakan jatuh cinta padanya. 


Namun ternyata si Bawang Bombay ini, hanya terpesona pada si Bawang Putih. Terkagum-kagum dengan wajah cantiknya. Disamping tutur katanya yang lembut dan ramah. Ia pun juga mulai jatuh cinta pada si Bawang Putih. Alhasil ia perlahan-lahan mulai mendekati si Bawang Putih dan mencoba mengenalnya lebih dekat. Alangkah bahagianya si Bawang Putih,  mendapatkan cintanya tak bertepuk sebelah tangan. 


Melihat fakta yang menunjukkan,  bahwa si Bawang Bombay menaruh hati pada si Bawang Putih, Bawang Merah pun mulai panas hati. Ia tak rela jika si Bawang Bombay jatuh dalam pelukan si Bawang Putih. Ia  ingin si Bawang Bombay hanya mencintainya. Mulailah ia menyusun rencana untuk merebut si Bawang Bombay dari Bawang  Putih. 


Esok harinya si Bawang Merah mengajak Bawang Bombay berjalan-jalan ke taman. Sebenarnya Bawang Bombay sudah menolaknya dengan halus, karena telah berjanji pada si Bawang Putih untuk mengunjunginya. Namun dengan liciknya si Bawang Merah mempengaruhinya. Ia berkata bahwa akan bunuh diri, jika Bawang Bombay menolak  ajakannya. Bawang Bombay akhirnya tak bisa menolaknya lagi, karena takut si Bawang Merah benar-benar melaksanakan niatnya itu. 


Bahagia tak terhingga si Bawang Merah ketika akhirnya mengetahui, bahwa Bawang Bombay akhirnya menuruti permintaannya. Ia pun mulai bersiap-siap, berdandan secantik-cantiknya. Tak lupa ia mengundang Bawang Putih untuk datang juga ke taman. Tentunya dengan dalih bahwa di taman ada pertunjukan seni yang menarik. 


Beberapa saat kemudian berangkatlah si Bawang Merah dan Bawang Bombay ke taman. Selama perjalanan dan berada di taman,  si Bawang Merah tak henti-hentinya merayu.   Mencoba menarik perhatiannya agar Bawang Bombay jatuh cinta padanya. Ia juga menebar fitnah, bahwa Bawang Putih bukanlah wanita baik-baik,  karena  sering menjalin hubungan dengan banyak laki-laki. Termasuk ketika bersama dengan si Bawang Bombay.


Pada awalnya Bawang Bombay tidak percaya dengan semua kata-kata si Bawang Merah. Namun Bawang Merah terus mempengaruhinya,  sehingga pelan-pelan mulai tergoda dan  mempercayainya. Bahkan sudah luluh hatinya,  dan perlahan sikapnya terlihat mulai bisa menerima keberadaan  si Bawang Merah. Sejurus kemudian si Bawang Putih datang ke taman,  dan mendapati pria yang dicintainya tengah menghabiskan waktu,  dan bermesraan dengan saudaranya si Bawang Merah. 

Terkejut ia melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Tak terasa air matanya mulai mengalir deras. Sakit hatinya melihat semua ini. Tak pernah dibayangkannya  ternyata si Bawang Merah merebut semua yang menjadi miliknya. Bahkan mengambil kekasih hati yang sangat dicintainya.
Sungguh ia tak ingin melihat semua ini. 


Perlahan tanpa ingin mengganggu dua orang yang telah menyakiti hatinya itu, si Bawang Putih membalikkan badannya,  dan berjalan kembali menuju rumahnya. Sesampainya, ia menangis sejadi-jadinya. Selama ini ia selalu bersabar menghadapi kejahatan si Bawang Merah. Berusaha bertahan untuk tidak pernah membalasnya. Namun apa hasilnya? Lagi-lagi si Bawang Merah menyakitinya seperti sebelumnya. 


Ia sangat mencintai si Bawang Bombay. Setiap hari ia berharap Bawang Bombay menjadi pria yang akan mendampingi hidupnya kelak. Tetapi hatinya yang terlampau sakit telah memburamkan akal sehatnya, ketika mengetahui kekasihnya itu tak lagi mencintainya,  dan lebih memilih saudara tirinya.


Akal sehat dan hati nuraninya pun mulai tertutup awan tebal. Awan kemarahan yang menjurus pada keinginannya untuk membalas dendam. Bisikan setan pun sedikit demi sedikit mulai ia dengarkan. Sampai pada akhirnya ia memutuskan harus mengakhiri semua ini. 


Esok harinya tanpa sengaja si Bawang Putih mengetahui,  bahwa si Bawang Merah dan Bawang Bombay akan melakukan perjalanan ke luar kota untuk berlibur. Ia pun mulai berpikir, sepertinya ini saatnya untuk bertindak. 


Diam-diam ia mengamati mobil yang ada di depan rumah. Tanpa bersuara ia mendekati mobil itu. Perlahan mengendap dan memutus tali remnya. Dan si Bawang Putih pun tersenyum puas. 


Sore itu hujan turun dengan derasnya. Sambil menyeruput segelas teh hangat, Bawang Putih menyaksikan televisi, yang menayangkan berita tentang  kecelakaan mengerikan,  dan  merenggut nyawa dua orang manusia. Ia pun tersenyum puas. 

Akhirnya pembalasan dendamnya terbayarkan sudah.
Hatinya sudah terkotori oleh perbuatan jahat yang selama ini berusaha ia hindari. Dan kini si Bawang Putih itu tak lagi putih.
Yuk Lanjut

8 Manfaat Ngeblog bagi Ibu Rumah Tangga, No 8 Asyik Banget

                                                                               Pexels Menekuni dunia menulis di media blog sejak lima tahun ...