Rabu, 29 November 2017

Tragedi No Comment


Beberapa hari lalu saya cukup jengkel dengan suami, yang masih saja asyik dengan gadgetnya. Padahal saat itu ia sudah memasuki kawasan rumah, yang bagi saya haram hukumnya memegang gadget. Sebab saya sendiri sudah berkomitmen pada diri sendiri, untuk tidak mempedulikan gadget, pada saat berada di rumah. Bagi saya inilah waktu untuk menikmati kebersamaan dengan si buah hati,  setelah beberapa jam lamanya tak bertemu.

Tetapi dengan acuhnya suami menjawab alasan,  mengapa dia belum bisa terlepas dari gadget. Bahkan cenderung marah jika didengar dari nada suaranya. Suami berkata "Sebentar to, Nda. Ini lho ada chatting dari pimpinan. Ayah harus meresponnya, Nda. Kalau tidak, beliau akan marah besar pada Ayah." Dan di kakinya, anak semata wayang kami merengek meminta perhatian sang ayah.

Dalam hati merasa miris. Bertanya-tanya. Bukankah area rumah sudah menjadi tempat berkumpul dengan keluarga? Melepas rindu  setelah seharian tidak bertemu? Entahlah sampai dengan hari ini pun,  saya tak habis pikir dengan permasalahan itu.

Tetapi ternyata beberapa hari kemudian saya juga mengalami hal yang sama. Di hari itu saya ditegur oleh atasan, karena tidak pernah aktif berbicara di grup media sosial. Juga tidak pernah merespon ketika beliau menayangkan suatu berita. Dan parahnya hal itu mempengaruhi atau menjadi salah satu poin, yang bisa mengurangi performa kinerja saya di kantor. 

Astaghfirullah! Dan lagi-lagi hingga saat ini, saya tak sanggup mencari alasan pembenaran, bahwa penilaian performa kinerja seseorang juga ditentukan, dari seberapa aktifnya ia dalam merespon semua postingan yang ada di grup itu. 

Padahal menurut saya,  ada beberapa alasan yang bisa menjadikan seseorang tak merespon,  ataupun aktif dalam berinteraksi di suatu media sosial. Diantaranya :

1. Sedang berkendara. 
Bukankah sudah menjadi peraturan dari lembaga kepolisian, bahwa selama berkendara,  diharapkan pengemudi tidak menggunakan gadget atau asyik bermedia sosial? Tujuannya hanya satu. Demi keselamatan sang pengemudi itu sendiri. Coba saja bayangkan apa yang akan terjadi, ketika seseorang diharuskan segera merespon sesuatu yang ada di media sosial, sementara ia sedang dalam posisi berkendara? Kemungkinan besar ia akan celaka. Dan pastinya tak akan ada yang berempati padanya selain keluarganya sendiri.

2. Mengalami musibah.
Musibah adalah salah satu hal yang bisa terjadi kapan saja, di mana saja tanpa pernah kita duga sebelumnya. Pada saat mengalami suatu musibah, pastilah pikiran seseorang akan lebih fokus kepada permasalahannya sendiri,  dibandingkan dengan mengikuti setiap perbincangan yang ada di grup media sosial. Di mana letak hati nurani ini, ketika seseorang yang kita cintai mengerang kesakitan, namun kita lebih sibuk mengamati media sosial? Bukankah menjadi sesuatu yang aneh, ketika sibuk memberi jawaban kepada orang lain, sementara orang yang kita sayangi lebih membutuhkan doa kita?

3. Segi kepentingan. 
Ada beberapa hal atau postingan dalam media sosial yang seharusnya diperlakukan dengan cara  berbeda, tergantung dari segi tingkat kepentingan.  Sebagai contoh ada yang sifatnya bertanya atau sekedar memberi informasi. Jika postingan tersebut bersifat bertanya, maka sudah sepantasnya memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Namun jika sifatnya sekedar memberi informasi, bukan sesuatu yang salah ketika seseorang tidak meresponnya. Andaikata merasa ragu apakah si A sudah mengetahui informasi tersebut, maka hal itu sebenarnya bisa disiasati,  dengan menghubunginya secara pribadi. Sebab ada begitu banyak alasan yang menjadi penyebab, si A tersebut tidak memberikan responnya.

4. Sudah beralih peran.
Ada beberapa orang yang pada saat sudah memasuki rumah, ia betul-betul melepas semua atributnya sebagai karyawan atau pekerja. Dan itulah saatnya beralih peran sebagai orangtua, yang fokus memperhatikan kepentingan anak dan keluarga. Hal ini pun semata-mata ia lakukan agar sang anak tetap merasa diperhatikan, sesaat setelah bekerja keras seharian. Ada pula yang merasa khawatir dengan perkembangan zaman,  yang menyebabkan anak memiliki kecenderungan lebih memperhatikan gadget daripada orangtuanya sendiri. Sehingga ia berupaya keras untuk tidak menggunakan gadget di hadapan anak.

5. Kelelahan.
Adalah menjadi satu hal yang wajar, jika seseorang merasa kelelahan setelah seharian penuh bekerja keras. Terlebih ketika setiap harinya ia harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai ke kantor dan sebaliknya. Akibatnya ia sering merasa lelah, tak sanggup membelalakkan mata, apalagi merespon semua hal yang   terjadi  di media sosial. Tujuannya hanya satu. Melepas penat dan beristirahat. Agar esok pagi lebih segar. Jika sudah demikian, apakah ia patut dipersalahkan pada saat tak merespon suatu berita?

Ya, begitulah. Setiap orang memiliki ciri khas masing-masing. Ada yang memang sangat ingin diperhatikan. Bentuknya harus  dengan merespon semua perkataannya. Tak peduli bagaimanapun caranya dan tanpa banyak alasan. Ketika semua orang yang ia harapkan merespon, maka disitulah letak penghargaan yang akan ia terima. Saat itulah ia merasa puas dan merasa dihargai. 

Namun ada pula yang tak terlalu memikirkan hal itu. Ia hanya berusaha bagaimana caranya  menyampaikan informasi kepada semua orang yang berkepentingan. Ia tak peduli seberapa banyak yang memberikan tanggapan. Dan siapa saja yang tidak menanggapinya. Baginya ia hanya wajib memberitahukan. Dan ia pun sudah cukup puas dengan hal itu.

Entahlah. Menurut saya, jika bentuk kemarahan seseorang hanya diakibatkan,  oleh tidak responnya orang lain terhadap sesuatu yang sudah ia bagikan, bisa jadi ia belum ikhlas dalam melakukan sesuatu. Terbukti orang lain harus melakukan komunikasi timbal balik sebagai bentuk kepeduliannya.

Tetapi sudahlah. Saya hanya seorang manusia biasa,  yang tidak memiliki kewenangan memutuskan ikhlas  atau tidaknya perbuatan seseorang. Tugas saya hanya berusaha menjadi orang yang baik. Orang yang belajar berbuat dan berperilaku baik kepada orang lain. 

Ketika seorang manusia  masih membutuhkan kehadiran orang lain, maka berbuat baiklah.  Bukankah sekali waktu,.  ada kalanya seseorang menjadi perantara jalan kesuksesan bagi manusia lainnya?
Yuk Lanjut

Sabtu, 25 November 2017

Kesatria Hati (Episode Tiga Belas)


Satu bulan telah berlalu setelah kepergian Satria. Ningsih masih terlihat sangat terpukul. Sering ia menyendiri dan menangis. Dalam beraktivitas pun ia sering kali tidak fokus.

Rahmat merasa sangat kasihan dengan isterinya ini. Ia paham jika Ningsih merasa sangat bersalah atas kepergian Satria. 

Suatu malam mereka berdua duduk di teras rumah mereka yang sejuk.

"Sayang, jangan bersedih terus menerus. Satria tidak ingin melihat ibu yang sangat mencintainya bersedih." Rahmat menggenggam tangan Ningsih.

"Iya, Mas aku tahu. Aku tidak bersedih. Aku sedang memanjatkan doa untuknya." Ningsih berkata sambil menghapus air matanya. 

"Alhamdulillah...Lebih baik begitu, Sayang. Doakan anak kita setiap saat. Yakinlah, suatu saat nanti kita akan bertemu lagi dengannya." Rahmat menatap dalam-dalam mata Ningsih.

"Mas.....aku ingin berterimakasih padamu."

"Untuk apa, Sayang?" 

"Engkau telah memberikan kasih sayang yang tak pernah pudar oleh apapun. Engkau selalu membelaku, juga menyayangiku dengan caramu yang indah. Engkau sudah menjadi pemimpinku yang terbaik dalam hidup ini. Engkau juga sudah membuatku berdamai dengan ibu. Rasanya ungkapan terimakasihku ini, tak sebanding dengan apa yang telah kau lakukan untukku." Ningsih kembali meneteskan air mata.

Rahmat terharu mendengar kata-kata isteri tercintanya ini. Perlahan ia menghapus air mata Ningsih.

"Sayang, sudah cukup. Jangan kau katakan apa-apa lagi. Aku bukan manusia yang sempurna. Aku masih harus banyak belajar dalam hidup ini. Dan aku ingin sekali belajar kehidupan ini hanya denganmu, Sayang. Bersediakah engkau belajar kehidupan bersamaku?" Tatapan cinta Rahmat membuat Ningsih terharu.

"Iya, Mas. Mulai saat ini aku ingin menjadi isteri yang baik untukmu. Dan menjadi menantu yang baik untuk ibu. Aku tidak akan berjanji, Mas. Tapi aku akan berusaha melakukan apapun yang terbaik." 

Rahmat sangat bahagia mendengarnya. 

"Alhamdulillah." Kedua insan manusia itu berpelukan kembali dengan penuh cinta.

"Oh iya, Sayang. Bagaimana jika kau mulai menyibukkan diri lagi dengan aktivitas di kantor. Atau ikuti kegiatan apapun yang kau sukai?" Rahmat bertanya pada Ningsih.

Ningsih melepaskan pelukannya dan menghela nafas.

"Tidak, Mas. Aku sudah memutuskan untuk tidak lagi bekerja. Aku akan beralih peran sebagai isteri dan ibu rumah tangga biasa. Bukankah menurutmu, seorang wanita yang sukses adalah yang berhasil membahagiakan suami, dan mendidik anaknya menjadi orang yang baik?" Ningsih menjawab sambil tersenyum.

"Sayang, apakah engkau yakin dengan keputusanmu ini?" 

"Iya, Mas. Aku sangat yakin. Aku telah melakukan kesalahan di masa lalu. Kesatria hatiku telah pergi untuk selamanya. Semua karenaku. Aku telah banyak berdosa kepada Allah." 

Ningsih terdiam sebentar. Lalu ia melanjutkan perkataannya.

"Dulu aku sangat memaksa Allah untuk memberikanku anak. Ternyata setelah Ia mengabulkannya, justru aku tidak mencintainya. Terbukti dengan kepergian Satria yang terjadi akibat kelalaianku. Aku lebih percaya kepada orang lain untuk menjaganya daripada diriku sendiri. Aku tak mendengarkan nasehat suamiku yang lebih peka dengan hal ini."

"Kesalahan itulah yang akhirnya membuatku berpikir." Aku harus memperbaiki kesalahanku. Aku tak ingin melakukan kesalahan kembali. Kesalahan ini sangat fatal dan tak bisa diampuni. Jadi aku akan memperbaiki diriku. Aku tak ingin berpikir macam-macam. Tujuanku memperbaiki diri hanya supaya Allah mengampuniku." Ningsih berkata panjang lebar.

"Sayang, sudahlah jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Kesalahan terbesar ada pada diriku. Apapun kesalahan  yang terjadi dalam keluarga kita,  semuanya adalah tanggung jawabku  sebagai pemimpin. Tetapi alhamdulillah jika engkau sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu. Apapun yang telah kau putuskan, aku akan mendukungnya, Sayang. Asalkan engkau bahagia dengan itu." Rahmat kembali memeluk Ningsih.

**

Empat tahun telah berlalu. Ningsih sudah mulai terbiasa dengan aktivitas sebagai ibu rumah tangga. Pada awalnya memang terasa sangat sulit untuk menyesuaikan diri. Tetapi dukungan dan cinta dari Rahmat beserta keluarganya menjadi penyemangat hidupnya. 

Hingga akhirnya.......

Sudah hampir satu bulan ini, Ningsih terlambat datang bulan. Sebenarnya ia tak ingin mencari tahu apa yang menjadi penyebabnya. Tetapi entah mengapa dorongan dalam hatinya terlalu kuat untuk memintanya mengetahui, apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.

Tanpa ragu-ragu Ningsih memberanikan diri membeli alat tes kehamilan, dan mengeceknya.  Mencoba pasrah dengan hasil tes alat tersebut. Diam-diam ia membuka mata. 

Dan.......

"Maaassss........ Maaassss !!!!!!

"Sayang, kau mengagetkanku saja! Ada apa?" Rahmat tergesa-gesa penuhi panggilan isterinya.

"Hmmm apa Mas ingin tahu??" Ningsih mengedipkan mata menggoda suaminya.

"Memangnya ada apa sih? Buruan dong, Sayang! Aku harus buru-buru, nih." Rahmat semakin tidak sabar.

"Oke. Baiklah. Ini... Lihatlah." Ningsih menyerahkan hasil tes alat kehamilan tersebut.

Mata Rahmat terbelalak melihatnya.

"Sayang, kau serius?? Kau hamil lagi???" Rahmat mengguncang tubuh Ningsih.

Ningsih mengangguk dan tersenyum.

"Ya, Allah alhamdulilah. Terimakasih ya, Allah....Engkau memberikan kesempatan kedua pada kami, untuk menjadi orangtua yang baik." 

Tiba-tiba Rahmat menarik tubuh Ningsih dan memeluknya erat. Menciumnya dengan penuh kelembutan. Ningsih balas memeluknya. Air mata bahagia menetes di pipi keduanya.

"Sayang, ayo kita shalat bersama. Sujud syukur pada Allah atas kebahagiaan ini. Kita juga kabarkan berita ini pada orangtua kita. Kita akan banyak meminta doa dari mereka." 

Ningsih tersenyum dan mengangguk.

Dan alam di luar sana pun terasa ikut bergembira atas kebahagiaan yang mereka rasakan. 
Yuk Lanjut

Jumat, 24 November 2017

Kesatria Hati (Episode Dua Belas)



"Tidak...!! Tidak..!! Ini tak boleh terjadi! Maaassss, ada apa dengan anak kita?? Ia tadi membuka mata lho, Mas! Lalu mengapa sekarang ia menutup matanya lagi?" Ningsih mengguncang lengan Rahmat.

"Oh, aku tahu. Anak kita pasti lelah, Mas..Menunggu kita yang lama tak datang menjemputnya. Sepertinya ia tertidur, Mas." 

Rahmat tak tahan lagi. Segera ia meraih Ningsih, dan  memeluknya erat. 

"Tidak, Sayang. Anak kita telah pergi. Ia tak akan bertemu kita lagi. Ia dipanggil oleh Allah, karena Allah sangat menyayanginya." Rahmat menangis.

"Apa kau bilang, Mas? Maksudmu Satria tidak akan bersama kita lagi? Aku tidak bisa bermain bersamanya lagi? Apa aku tidak akan bisa memandikannya lagi? Atau tidur bersama kita lagi?? Apa maksudmu, Mas? Kau jangan berkata sembarangan!!!" Ningsih meronta, memukul dada Rahmat.

"Sayang, tenanglah....! Ikhlaskan anak kita pergi. Jangan takut. Ia sudah bahagia bertemu dengan Allah. Ia akan dijaga oleh Allah. Ikhlaskan ia pergi!" Rahmat masih berusaha memeluk Ningsih yang terus meronta.

Di sudut ruangan, ayah dan ibu Ningsih menangis tersedu melihat anaknya,  yang sangat terpukul kehilangan buah hatinya.

Tak lama kemudian, seorang dokter dan suster memasuki ruangan. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter itu berkata.

"Pak Rahmat, kami ikut berduka atas meninggalnya putra bapak. Semoga putra bapak diberikan tempat yang indah di sisi Allah. Aamiin."

" Dokter, terimakasih banyak atas perhatian anda kepada putra saya. Semoga Allah membalasnya. Oh iya, saya akan segera membereskan administrasinya." Rahmat bersalaman dengan dokter itu.

"Silahkan, Pak." Tak lama dokter itu keluar.

"Ayah, ibu. Rahmat titip Ningsih dulu ya. Rahmat mau membereskan administrasi rumah sakit ini dulu."

"Iya, Nak. Pergilah. Kami akan menjaga Ningsih."

Beberapa saat menunggu, akhirnya jenazah Satria dalam perjalanan menuju rumah duka. 

**

Di depan rumah Rahmat terlihat banyak sekali tetangga datang melayat. Mereka adalah tetangga-tetangga yang baik. Saling akrab dan bantu membantu dalam setiap kesulitan. Dan memang benar, semua hal terkait persiapan pemakaman sudah mereka lakukan dengan sempurna.

Para tetangga pun satu persatu bersalaman,  dan mencoba menghibur Rahmat dan Ningsih. Suasana haru menyelimuti rumah itu. Dari dalam ruangan terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an.

Sementara itu, Rahmat berusaha menghubungi ibunya dengan telepon genggamnya. Tetapi tak aktif. Berkali-kali mencoba hasilnya sama saja. Ia bertanya-tanya dimanakah gerangan sang ibu. Ia ingin memberi tahukan kabar duka ini.

Seolah menjawab pertanyaannya, tiba-tiba ia mendengar suara seorang wanita. "Mana cucuku? Dimana dia?" Ternyata ibunya telah sampai. Terlihat sekali ibunya terburu-buru memasuki ruangan. Rahmat pun langsung menyambutnya.

"Rahmat, ada apa ini? Mengapa rumahmu ramai sekali, Nak? Mana cucuku? Dimana dia?" Ibu Rahmat berusaha mencari dimana cucunya.

Dan betapa terkejutnya wanita itu tatkala melihat jenazah terbaring di ruang keluarga itu. Di sampingnya 
melihat  ayah ibu Ningsih,  juga tetangga yang membacakan doa. Ningsih sendiri tak terlihat.

Rahmat memeluk ibunya sambil menangis.

"Ibu, Satria sudah pergi. Ikhlaskan Satria, Bu." 

"Apa maksudmu?? Tidak...!!! Cucuku baik-baik saja, bukan? Jawab ibu!!" Ibunya panik.

"Satria tak bisa tertolong, Bu. Pendarahan di kepalanya cukup parah. Dokter sudah menyerah. Kami tak bisa berbuat apa-apa...." Rahmat berkata lirih.

"Lalu jika sudah tahu dokter di rumah sakit itu menyerah, mengapa tak kau pindahkan saja Satria ke rumah sakit lain? Yang lebih bagus, profesional, dan lebih canggih???? Kalian berdua memang tidak bisa menjadi orangtua yang baik!!" Ibu Rahmat masih saja tak mampu menerima kenyataan ini.

"Ibu, ini semua sudah takdir Sang Mahakuasa. Kumohon, Bu. Ikhlaskan Satria pergi. Doakan Satria, Bu." Rahmat memohon.

"Sekarang mana Ningsih?"

"Ada di kamar, Bu. Ningsih sangat terpukul dengan kejadian ini."

Ibu Rahmat langsung menuju kamar Ningsih. Rahmat mengikuti ibunya dari belakang. Dengan kasar, ibu Rahmat membuka pintu kamar. Terlihat Ningsih duduk di tepi tempat tidur. Wajahnya basah oleh air mata. Matanya sembab akibat terlalu banyak menangis. Ningsih terkejut melihat ibu mertuanya yang tiba-tiba memasuki kamar.

Ningsih mendekat dan hendak mencium tangan mertuanya. Tetapi.....

"Tak perlu kau mencium tanganku!! Tidak ada gunanya!! Engkau sudah membunuh cucuku!!! Kebanggaanku yang paling aku sayangi!! Mengapa kau tega lakukan semua ini???" Ibu Rahmat berteriak pada Ningsih.

Mendengar kegaduhan dalam kamar, ayah ibu Ningsih ikut memasuki kamar. Dan mereka berdua sangat cemas dengan kejadian yang ada di depan mata. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi anaknya. Mereka sepenuhnya sadar bahwa Ningsih telah menjadi tanggung jawab Rahmat suaminya.

"Ibu, Ningsih mohon...Maafkan Ningsih... Ningsih bukan orangtua yang baik, Bu..." Ningsih bersimpuh di kaki ibu mertuanya.

"Memang..!! Kau memang bukan orangtua yang baik...!! Kau itu jadi isteri tidak becus! Sekian lama tak bisa berikan keturunan untuk anakku. Eeehh, setelah diberi keturunan, juga tidak bisa jadi ibu yang baik untuk anaknya sendiri..!! Kau bisanya hanya membuatku dan anakku sakit hati!!!" Sang ibu mertua berkata sambil terengah-engah.

"Padahal engkau harusnya bersyukur!! Engkau bisa  dapatkan suami sebaik anakku!!" Ibu Rahmat terlihat sangat kesal dengan Ningsih. Kekesalannya memuncak hingga membuatnya tidak menyadari kehadiran orangtua Ningsih,  yang  sudah berada dalam ruangan itu.

Sedih sekali rasanya orangtua Ningsih,  melihat ibu Rahmat murka kepada anaknya dengan membabi buta. Mereka mencoba bersabar sekaligus berdoa yang terbaik untuk Ningsih.

Dan alangkah terkejutnya Rahmat ketika ia melihat sang ibu sepertinya hendak menampar Ningsih. Reflek ia berlari, menabrak tubuh Ningsih dan memeluknya. Alhasil seketika tamparan sang ibu tepat mengenai punggungnya. Sakit rasanya.

"Ibu, aku mohon...Jangan tampar Ningsih, Bu..Tamparlah akuuu...Aku yang paling bersalah dalam hal ini, Ibu...Pukullah aku sebanyak yang ibu mau..Biar hati ibu lega...Ayo, Bu lakukan saja..." Rahmat memejamkan mata.

Hening seketika dalam ruangan itu. Tiba-tiba terdengar suara tangis. Ibu Rahmat terduduk di lantai sambil menangis.

Rahmat sangat kasihan melihat ibunya. Dalam hati ia memahami apa yang dirasakan wanita kebanggaannya itu. Sekian lama mendambakan seorang cucu,  namun ia hanya bisa menikmatinya dalam waktu singkat.

Diam-diam Rahmat mendekat. Duduk di hadapan ibunya. Ia peluk ibunya. Sementara orangtua Ningsih berjalan perlahan mendekati,   dan mencoba menenangkan putrinya.

"Ibu, aku sangat mengerti apa yang ibu rasakan. Aku  bahagia melihat ibu sangat mencintai Satria. Tetapi untuk saat ini ada yang lebih mencintainya, Bu. Allah SWT. Pemilik Satria yang sesungguhnya." Rahmat berkata kepada ibunya. Tetes air mata mulai membasahi pipi tua itu.

"Ibu boleh melampiaskan kemarahan pada kami berdua. Bahkan ibu berhak membunuh kami demi meluapkan amarah. Tetapi apakah hal itu akan membuat Satria terbangun dari tidur abadinya? Apakah itu akan membuatnya kembali pada kita? Tidak, Ibu. Ia tidak akan kembali. Ia tidak suka melihat ini semua, Bu. Ia saat ini hanya membutuhkan doa kita. Dan ketegaran kita menerima kepergiannya." Ibu Rahmat semakin tak kuasa menahan tangisnya.

"Ibu adalah wanita terhebat yang pernah aku miliki. Dari ibulah aku belajar menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Inilah bentuk tanggung jawabku sebagai pria, suami dan kepala keluarga. Aku menerima dengan ikhlas,  bahwa semua yang terjadi pada Satria, adalah sepenuhnya kesalahanku. Bahwa aku belum bisa menjadi suami yang baik. Aku belum bisa menjadi pemimpin yang baik dalam keluargaku." Rahmat masih memeluk ibunya.

"Jadi kumohon, Ibu. Maafkanlah kami berdua. Doakan kami, agar kuat dalam menerima semua ini. Doakan semoga ujian ini menjadi pelajaran hidup terbaik dalam hidup. Maukah ibu memaafkan kami?" Rahmat memandang kedua mata ibunya yang sembab itu.

Mata teduh Rahmat dan semua kata-katanya seketika membuka mata hati sang ibu.

"Iya, Nak. Ibu memaafkan kalian. Ibu juga minta maaf karena...."

"Sudah, Ibu.. Hentikan..Kami berdua sudah sangat bahagia,  ibu sudah mulai ikhlas menerima kejadian ini." Rahmat memeluk sang ibu.

"Ningsih, kemarilah Nak. Peluklah ibu." Ibu mengisyaratkan pada Ningsih untuk mendekat.

Ningsih tak kuasa lagi menahan air matanya. Ia mendekat dan langsung memeluk ibu mertuanya. Kedua wanita itu berpelukan. Tanpa kata tapi dengan penuh kasih sayang. Segala dendam sudah musnah. Yang ada hanya kasih sayang ibu dan anak demi menatap masa depan. Orangtua Ningsih bersyukur. Pada akhirnya dua manusia yang sedang berseteru ini mampu berdamai.

"Sayang, ayo kita ke ruang tengah. Kita harus segera mengantar anak kita ke tempat peristirahatannya." Rahmat membantu Ningsih dan juga ibunya untuk berdiri.

Dan tak lama mereka pun bersiap melakukan prosesi pemakaman Satria.
Yuk Lanjut

Kamis, 23 November 2017

Kesatria hati (Episode Sebelas)


"Kalian berdua lekas ke rumah sakit. Dokter ingin berbicara dengan kalian.” Suara ayah Ningsih di seberang telepon membuat mereka berdua segera bergegas ke rumah sakit.

Selama perjalanan mereka  berdua saling membisu. Tetapi dalam hati mereka terlantun doa,  agar Satria segera pulih,  dan bisa berkumpul lagi dengan keluarga. 

Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit. Ayah dan ibu Ningsih terlihat duduk terdiam di depan ruang perawatan Satria. 

“Ayah, Ibu.......” Ningsih menangis, memeluk orangtuanya tak mampu berkata-kata.

“Anakku, bersabarlah. Ini ujian untukmu, Nak. Berdoalah untuk Satria.” Sang ibu pun ikut menangis.

“Ibu, Ningsih yang bersalah, Bu. Maafkan Ningsih."

“Nak, lebih baik kamu sekarang melihat kondisi Satria. Berdoalah semoga ada keajaiban.” Ibu memberi nasehat pada Ningsih, sembari membimbing putrinya ini melihat kondisi Satria dari luar kamar.

Ningsih  tersedu-sedu melihat kondisi Satria. Ia melihat putra kesayangannnya itu terbujur kaku. Tak bergerak sedikitpun. Matanya terpejam, namun bibir kecilnya menyunggingkan senyuman. 

Rahmat mendekat, lalu ia memeluk Ningsih erat. 
“Doakan yang terbaik untuk anak kita,  Sayang.” Tak terasa butiran air matanya menetes deras.

“Oh iya. Aku belum memberi tahu ibuku tentang kondisi Satria. Tunggu sebentar.” Rahmat melepaskan pelukan Ningsih  dan berjalan agak menjauh. 

**

“Assalamualaikum...ibu..... ibu dimana?” Rahmat menghubungi ibunya lewat telepon genggam.

“Waalaikumsalam. Ibu masih di rumah pamanmu, Nak. Pamanmu belum sembuh dari sakitnya. Tetapi alhamdullillah sudah agak membaik. Bagaimana kabarmu, Nak? Bagaimana cucu ibu? Pasti sekarang sudah bertambah besar, gagah dan pintar sepertimu ya, Nak? Ibu jadi ingat masa kecilmu.” Ibunya bertanya tanpa merasa curiga. 

“Ibu, maafkan Rahmat. Satria dirawat di rumah sakit, Bu. Dan sekarang kondisinya kritis. Maafkan Rahmat, Bu yang baru memberitahu ibu saat ini. Sebab Rahmat tak ingin membuat ibu cemas lagi,  setelah kabar sakitnya paman.” 

“Apaaaaaa??? Mengapa bisa begituuuu??? Kalian betul-betul ceroboh!!! Awas, ya. Jangan sampai terjadi apa-apa dengan cucu kesayangan ibu!!! Ibu tidak akan memaafkan kalian!!! Ibunya berteriak keras. 

“Ibu, kami mohon. Doakan Satria ya, Bu. Kami berharap doa Ibu.” Rahmat memohon. 

Tepukan halus di pundaknya menyadarkan Rahmat. Ternyata dokter memanggilnya.

“Ibu, nanti Rahmat telepon lagi ya. Assalamualaikum.”
‘Rahmat............. Rahmat.............!!! Ibu belum selesai bicara denganmu!!! Tetapi tut...tut....tut...

Telepon itu pun terputus. 

**

“Pak Rahmat, kami mohon maaf. Kami para dokter sudah berusaha semaksimal mungkin,  untuk membantu penyembuhan anak bapak. Tetapi kondisi anak bapak sudah terlalu kritis. Benturan di kepalanya terlalu keras untuk anak sekecil itu. Hanya keajaiban dari Allah yang mampu menyembuhkannya.” Suara dokter itu bagaikan petir menyambar, di telinga Rahmat dan Ningsih.

“Apa yang dokter katakan?? Itu tidak benar, bukan? Tidak....Satria tidak mungkin  meninggalkan kami, Dok! Kami sangat menyayanginya. Katakan kalau dokter masih mampu menyelamatkannya.” Ningsih gemetar dan mulai panik.

“Kami hanya manusia, Bu. Kami mempunyai keterbatasan. Hanya Allah yang mahakuasa menyembuhkan, Bu. Jadi mungkin sebaiknya bapak dan ibu, menemani putranya di saat-saat terakhirnya . Dan ikhlaskan ia pergi.” Dokter pun tak mampu berkata apa-apa lagi. 

Tubuh Ningsih terasa lemas. Rahmat memeluknya dan mengajaknya menemani Satria. Berempat bersama ayah dan ibu Ningsih memasuki ruangan tempat Satria dirawat.

"Satriaaaaa..... Satria anak ibuuu....bangun Nak....bangunlah Nak...ini ibu disini datang menjemputmu, Sayang....ayo, Nak...Kita pulang ke rumah sama-sama...Lihatlah... Ayah,  kakek,  nenek juga datang... Mereka ingin bermain bersamamu, Nak...." Ningsih menangis sambil memeluk Satria. 

"Dengar, Nak. Engkau harus dengarkan ibu. Bangunlah!!! Buka matamu!!! Ningsih menggenggam tangan Satria. Air matanya deras mengalir membasahi pipinya. Dan di sudut ruangan Rahmat menangis tak kuasa menahan haru dan penyesalan menyaksikan pemandangan ibu dan anak itu. 

Ayah dan ibu Ningsih mencoba menenangkan. 

"Ningsih anakku, doakan Satria. Kau harus siap melepasnya pergi. Kasihan Satria." 

"Tidak, Bu. Aku tak mau Satria pergi. Aku menyesal, Bu. Aku tak ingin melihatnya pergi." Ningsih menangis.

Entahlah. Tiba-tiba Ningsih merasa tangan Satria yang digenggamnya bergerak perlahan. Ningsih terkejut. Ia melihat sekilas bahwa mata Satria sedikit terbuka. Benar mata mungil itu terbuka.

"Maaassss, lihat Satria bangun!!!" Ningsih memanggil suaminya.

Ningsih melihat mata itu memandangnya sebetar, lalu beralih kepada suaminya dan orangtuanya.

"Satria anakku. Ini ibu, Nak." Ningsih mencium tangan mungil itu.

Tetapi mata mungil itu tertutup lagi. Dan tiba-tiba terdengar suara mirip peluit panjang. Itu berasal dari alat deteksi detak jantung di samping tempat tidur Satria. Dan alat itu telah menunjukkan garis lurus melintang panjang.

"Satria...!!!! Satria anakku!!!!! Satria!!!! Ningsih mengguncang tubuh kecil itu. Dan tubuh itu tak bergerak lagi.
Yuk Lanjut

Rabu, 22 November 2017

Kesatria Hati (Episode Sepuluh)


"Pak Rahmat, saya mohon maaf. Kondisi Satria saat ini sangat kritis. Ia kehilangan banyak darah. Kita hanya bisa mengharapkan datangnya keajaiban." Dokter yang memeriksa Satria memberi penjelasan pada Rahmat.

"Dokter, benarkah yang anda katakan? Maksud anda, Satria tak dapat diselamatkan lagi?" Mata Rahmat memandang dokter itu dengan tatapan nanar.

"Kita doakan yang terbaik ya, Pak." Dokter tak mampu berkata-kata lagi.

Tubuh Rahmat semakin lemas. Ia berjalan menuju ruang perawatan Satria. Rahmat merasa sedih karena ia hanya dapat memandang Satria dari balik kaca. Tak bisa memeluknya, bahkan memberikan semangat pada Satria untuk bisa bertahan.

Ia terkejut ketika ada tepukan halus mendarat di bahunya. Ia menoleh. Terlihat olehnya orangtua Ningsih sudah ada di belakangnya. Dengan segera ia memeluk erat ayah ibu Ningsih dan menangis.

"Ayah, ibu. Maafkan kami. Kami tak mampu menjaga cucu ayah ibu dengan baik. Maafkan kami." Rahmat menangis.

"Anakku, bersabarlah. Jangan menyalahkan diri sendiri. Ini semua musibah dan ujian, Nak. Bersabarlah. Semoga Allah memberikan kesembuhan untuk Satria." Sang ayah mencoba menenangkan Rahmat.

"Aamiin. Doakan Satria ya, Ayah. Doakan Satria ya, Bu. Tetapi darimana ibu tahu masalah ini?" tanya Rahmat sambil melepaskan pelukannya.

"Iya, Nak. Kami selalu mendoakan yang terbaik untuk cucu kami. Tadi Sumi menghubungi kami. Dan kami pun segera berangkat kemari. Tetapi  kemana Ningsih? Apa ia belum tahu kejadian ini?" Ibu bertanya.

"Ningsih belum bisa dihubungi, Bu. Sepertinya ia ada pertemuan tadi. Telepon genggamnya dimatikan." Rahmat menjawab.

"Kalau begitu, nak Rahmat pulang saja dulu. Istirahat. Siapa tahu juga Ningsih pulang ke rumah, dan tidak tahu apa yang terjadi. Kami berdua akan menjaga Satria di sini. Oh iya, jangan lupa untuk memberi tahu ibumu ya, Nak. Minta beliau untuk ikut mendoakan Satria." 

"Tapi, Bu...." Rahmat merasa kasihan dengan kedua mertuanya yang sudah lanjut usia ini.

"Sudah, Nak. Tidak apa-apa. Kami akan menjaga Satria. Pulanglah." Mata teduh ibu Ningsih meyakinkannya.

"Baiklah, Bu. Ibu Rahmat ada di luar kota menjenguk paman yang sedang sakit. Nanti coba Rahmat hubungi. Ayah ibu hati-hati ya. Terimakasih banyak." Sekali lagi Rahmat memeluk ayah ibunya.

**

"Maaaaaasss, mana Satria?? Apa yang terjadi dengannya???" Ningsih mengguncang tubuh Rahmat.

"Satria dirawat di rumah sakit. Kondisinya kritis karena kehilangan banyak darah." Rahmat terduduk lemas.

"Apaaaa?? Mengapa bisa terjadi?" Ningsih setengah berteriak.

Lalu Rahmat mulai menceritakan seluruh  kejadian itu.

"Sayang, kau tadi kemana saja? Ibu Eri berkali-kali menghubungimu tak bisa. Telepon genggammu tidak aktif. Aku juga terus meneleponmu,  tapi juga tak berhasil." 

"Aku tadi memimpin rapat penting, Mas. Jadinya telepon sengaja aku matikan." kata Ningsih yang tak lama kemudian berdiri dan berteriak memanggil Sumi.


"Sumiiiiiii....!!!!! Sumiiiiiii....!!!!! 

Sumi mendekat. Berjalan perlahan dengan wajah ketakutan.

Ningsih pun semakin kesal dan murka terhadap Sumi.

"Apa yang kau lakukan pada anakku!!!! Kenapa kau lalai menjaganya????? Kau sudah aku beri kesempatan mendapatkan penghasilan di sini. Aku sudah banyak memberimu uang untuk menjaga anakku!!! Tapi apa yang kau lakukan??? Kau celakakan anakku!!!! Kau tidak berhak melukainya!!! Mengapa kau lakukan???" Ningsih mendekat dan ingin menghajar Sumi.

Tetapi...

"Ningsih, stooooppp!!! Hentikan!!!! Jangan kau salahkan Sumi. Ia tak sepenuhnya bersalah!!! Kaulah yang paling bertanggung jawab dengan masalah ini!!!!" Rahmat mulai emosi melihat sikap Ningsih.

"Kok, jadi menyalahkan aku, Mas??? Bukankah Sumi yang harus menjaga anak kita selama kita bekerja?? Kita membayarnya untuk hal itu, Mas!!!" Ningsih tak percaya Rahmat menyalahkannya

"Satria anak kita. Anakmu dan anakku. Bukan anak Sumi. Kita orangtuanya. Kitalah yang paling utama untuk menjaganya. Bukan dia!! Jadi jangan kau salahkan dia!" 

Ningsih semakin tak mengerti dengan sikap Rahmat.

"Tapi, Maaassss???" 

Rahmat tak menggubris apa kata Ningsih.

"Bukankah pernah kukatakan padamu, mengapa kau tak berhenti bekerja saja demi menjaga anak kita? Keberhasilan seorang wanita, adalah jika ia mampu mendidik dan merawat anaknya  dengan baik. Tetapi apa yang kau lakukan? Kau masih saja berat dengan karirmu!! Kau takut semua orang tidak menghargaimu lagi, jika berubah peran sebagai ibu rumah tangga biasa! Kau takut akan berkurangnya rezeki kita!" Rahmat berteriak.

"Padahal Allah yang menjamin rezeki kita. Setinggi-tingginya mengejar karir tetapi jika Allah tidak berkehendak, kau tak akan bisa meraihnya! Dan inilah hasilnya! Satria menjadi korban keegoisan kita sebagai orangtuanya!" Apa kau mengerti?" Rahmat mengguncang tubuh Ningsih.

Hening seketika dalam ruangan itu. Kedua manusia itu terisak. Menyesali apa yang telah terjadi dengan buah hati yang baru saja mereka miliki.

Seketika terdengar suara Rahmat.

"Sumi, mungkin ada baiknya jika engkau pergi dari sini. Aku akan berikan gaji terakhirmu." Rahmat segera berlalu, masuk dalam kamar, dan beberapa saat kemudian keluar dari kamar membawa sebuah amplop.

"Ini bawalah. Pergilah dari sini. Dan maafkan kami berdua." Rahmat memberikan amplop itu.

"Terimakasih, Pak. Maafkan saya, pak. Maafkan saya, Bu." Sumi menerima amplop itu, menangis dan segera berlalu dari ruangan itu.

Dalam keheningan, tiba-tiba saja telepon genggam Rahmat berdering.

"Assalamualaikum. Nak Rahmat dan Ningsih, tolong cepat kemari. Satria memerlukan kalian." Suara ayah Ningsih dari seberang sana mengagetkan Rahmat.

"Ayah, apa yang terjadi???"
Yuk Lanjut

Kesatria Hati (Episode Sembilan)


"Mas, ini Sumi. Baby sitter yang akan menjaga Satria selama kita bekerja. Ibu Hasan yang merekomendasikan. Ia akan bekerja mulai hari ini. Setiap hari ia akan datang, dan pulang jika kita sudah kembali dari kantor." Ningsih berkata sambil lalu.

"Sayang, mengapa tak kau bicarakan dulu denganku? Apa kau sudah mempelajari dulu asal-usulnya? Bagaimana dengan  kinerjanya? Apakah ia orang yang sabar menghadapi anak kecil??" ujar Rahmat sedikit kesal.

"Kita tak punya banyak waktu, Mas. Ayah ibu kemarin juga menghubungiku, jika mereka dalam beberapa hari ini tak bisa kemari. Jadi sebaiknya kita bisa mencari solusi lebih cepat." Ningsih berkata sambil terburu-buru bersiap ke kantor.

Sebelumnya Ningsih berpesan pada Sumi.

"Sumi, jaga Satria baik-baik ya! Jangan lengah!" Ningsih bergegas, mencium tangan Rahmat dan segera menghilang menuju kantor.

Rahmat pun hanya dapat menggelengkan kepala.

**

Waktu demi waktu berlalu. Tak terasa sudah delapan bulan Sumi bekerja sebagai baby sitter di rumah Ningsih. Dan selama ini belum ada masalah yang terjadi terkait penjagaan Satria. Dan Ningsih pun  semakin bergantung kepada Sumi.

Namun tanpa Ningsih sadari, sudah beberapa hari ini Sumi tidak fokus bekerja. Ternyata ini semua diakibatkan Sumi yang sedang menjalani hubungan dengan seorang pria. Setiap hari ia menelepon kekasihnya dan sebaliknya. Sumi saat ini juga terlalu asyik memantau media sosial. Sehingga ia sering lalai dengan tugasnya menjaga Satria. 

Hingga pada akhirnya........

**

Entah mengapa hari itu Rahmat seperti tidak konsentrasi bekerja. Pikirannya selalu tertuju pada Satria di rumah. Hatinya menjadi cemas memikirkan Satria. Ada apa gerangan? 

Pyaaarrrr.......

Gelas minum yang sedang ia bawa tiba-tiba terjatuh dan pecah.

"Astaghfirullah....ada apa ini?" Ia bertanya dalam hati.

Seolah menjawab pertanyaannya, ia terkejut ketika telepon genggamnya berbunyi.

"Assalamualaikum, pak Rahmat. Ini ibu Eri." Suara di seberang telepon memberi salam.

"Waalaikumsalam...eh, iya Ibu Eri. Maaf ada apa?" 

"Begini, Pak. Dari tadi saya menghubungi Ibu Ningsih tidak bisa. Sepertinya telepon genggamnya dimatikan. Apa pak Rahmat bisa pulang ke rumah sekarang?" tanya ibu Eri.

"Maaf, Bu. Ibu meminta saya pulang ke rumah? Ada apa, Bu?"Rahmat bertanya tak mengerti.

"Pak Rahmat pulang saja dulu ya. Terimakasih. Assalamualaikum." Ibu Eri segera menutup teleponnya.

Tanpa berlama-lama lagi, Rahmat segera meluncur ke rumah.

**

Sesampai di rumah, ia terkejut melihat Sumi duduk di pojok ruang tamu sambil menangis. Ia juga melihat ibu Eri duduk di lantai ruang tengah sambil memeluk anak kecil.

"Astaghfirullah, Satria kenapa kamu, Nak?"Rahmat berlari langsung mengambil Satria dari pelukan ibu Eri.

"Sumiiiiiii, ada apa dengan Satria? Sumiiiiiii......!!!!!"Rahmat panik memanggil Sumi.

"Pak Rahmat, coba bapak duduk dulu. Sumi, tolong ambilkan bapak air minum hangat." Ibu Eri menyuruh Sumi.

"Bu Eri, ini Satria kenapa, Bu?" Rahmat masih menggendong Satria yang dari mulut dan hidungnya keluar darah.

"Sumi tadi bercerita kepada saya. Satria terjatuh.  Tadi Satria naik ke atas kursi tanpa sepengetahuan Sumi, yang sedang menerima telepon dari seseorang. Mungkin saat itu ia mencoba turun sendiri. Padahal anak sekecil itu kan belum tahu cara untuk turun sendiri dari kursi, Pak." Ibu Eri pelan-pelan menjelaskan kejadian tadi siang kepada Rahmat. 

"Astaghfirullah...." Rahmat menangis sambil memeluk Satria.

"Pak, mungkin sebaiknya Satria cepat dibawa ke rumah sakit biar segera mendapat pertolongan." Ibu Eri pun memberi saran.

"Baiklah, Bu. Terimakasih atas perhatiannya. Saya akan segera ke rumah sakit."

"Bagaimana dengan Bu Ningsih, pak? Apa coba saya hubungi lagi?" Ibu Eri bertanya.

"Tidak usah, Bu. Nanti malah merepotkan ibu. Saya sendiri yang akan menghubungi Ningsih." Rahmat tak ingin lebih merepotkan tetangga yang baik hati ini.

Dan dalam sekejap Rahmat pun meluncur ke rumah sakit.

Yuk Lanjut

Selasa, 21 November 2017

Kesatria Hati (Episode Delapan)


Malam harinya Rahmat mengantar Ningsih ke dokter. Dokter menyarankan Ningsih melakukan serangkaian pemeriksaan,  untuk memastikan penyakitnya. Dan esok harinya mereka kembali lagi ke dokter itu untuk mengetahui hasilnya.

"Pak Rahmat dan bu Ningsih, hasil pemeriksaannya sudah dapat diketahui. Alhamdulillah tidak ada penyakit , atau gangguan kesehatan yang cukup berbahaya." Dokter tersebut memandang mereka berdua cukup lama sembari tersenyum.

Rahmat dan Ningsih semakin penasaran. Tak ingin membuat mereka menunggu lebih lama,  akhirnya sang dokter membuka suara.

"Dari tes urine menyatakan bahwa Ibu Ningsih positif hamil.  Selamat ya." Dokter tersebut tersenyum sambil menjabat tangan Rahmat.

Rahmat dan Ningsih seolah tak percaya dengan pendengarannya. Terlebih dari hasil tes yang terpampang di hadapan mereka. Mereka  berdua saling pandang. 

"Benarkah yang dokter katakan? Benarkah isteri saya hamil? Saya tak percaya. Kami sudah lama tak berharap tentang hal ini. Sebab usaha yang kami lakukan sepuluh tahun ini selalu gagal." Rahmat terharu.

"Tak ada yang tak mungkin jika Allah sudah berkehendak,  pak Rahmat. Termasuk yang terjadi dengan anda berdua saat ini. Jadi berbahagialah. Dan saran saya sesegera mungkin ke dokter kandungan, agar ibu Ningsih bisa ditangani lebih lanjut." Dokter baik hati itu berkata sambil tersenyum.

"Alhamdulillah. Baiklah. Terimakasih dokter." Rahmat menjabat erat tangan sang dokter. Dan keduanya segera berlalu untuk bertemu dan berkonsultasi dengan dokter kandungan.

**

"Sayang, alhamdulilah akhirnya Allah mengabulkan doa kita. Allah akan memberikan kita seorang anak." Kedua insan manusia itu berbincang sambil berpelukan erat. 

"Semoga kita bisa menjaga amanah ini dengan baik. Kita akan merawatnya, mendidiknya sesuai ajaran agama, dan memberikan semua kebutuhannya. Semoga anak ini akan menjadi kebanggaan kita dan keluarga, Sayang."

"Aamiin. Insya Allah, Mas." Ningsih berkata lirih dalam pelukan Rahmat. Ia masih tak percaya di dalam rahimnya telah tumbuh benih buah cinta mereka.

Orangtua mereka juga merasa sangat bahagia dengan kehamilan Ningsih ini. Terlebih ibu Rahmat yang sangat antusias dengan berita ini. Berkali-kali ia menasehati Ningsih ini dan itu. Terkadang Ningsih merasa risih. Tetapi ia menyadari itulah bentuk kebahagiaan ibu mertuanya.

**

Masa sembilan bulan kehamilan dilewati Ningsih dengan perjuangan, pengorbanan, rasa lelah sekaligus bahagia. Beruntunglah selama mengandung sang buah hati, ia masih sanggup untuk beraktivitas. 

Terkadang Rahmat sangat heran dengan kondisi sang isteri,  yang ia nilai sangat kuat menjalani kehamilannya. Setiap saat ia berdoa agar Ningsih dapat melewati semua ini. Selalu sehat hingga tiba waktunya melahirkan nanti. Dan tanpa terasa waktu untuk melahirkan pun semakin dekat.

**

"Maaassss.....Maaaaaasss....tolong akuuuu!!!!" Ningsih berteriak dari ruang keluarga. 

"Iya, Sayang. Jangan berteriak seperti itu. Aku mendengar panggilanmu. Ada apa?" Dengan santainya Rahmat keluar dari kamar tidur mereka.

"Maaassss, lihat....air ketubannya pecah. Sepertinya aku mau melahirkan, Mas. Tolong aku!!! Perutku sakiiittt!!!!" Ningsih mencengkeram tangan Rahmat.

"Astaghfirullah. Ayo, Sayang kita ke rumah sakit!!!!" Rahmat juga mulai panik.

Mereka pun tergesa-gesa berangkat ke rumah sakit. Sebelumnya mereka tak lupa menghubungi orangtua masing-masing,  untuk mendoakan kelancaran proses melahirkan Ningsih. 

Beberapa jam berlalu. Semua menunggu dengan cemas. Akhirnya tujuh jam kemudian, dokter keluar dari ruang bersalin dan berkata " Selamat pak Rahmat. Isteri anda baru saja melahirkan seorang anak laki-laki."

Tubuh Rahmat terasa lemas. Dan tiba-tiba saja ia tersungkur. Ia bersujud. Bersyukur kepada Allah atas apa yang telah terjadi. 

Tak lama kemudian ia sudah bertemu dengan Ningsih,  dan anak laki-laki yang sangat ia cintai. Anak itu pun mereka beri nama Satria.

**

Waktu terus berlalu. Alangkah bahagianya mereka berdua menjalani kehidupan rumah tangga, yang saat ini semakin lengkap dengan kehadiran Satria. Orangtua mereka pun berlomba membanggakan cucu mereka. Cucu laki-laki pertama yang akan menjadi generasi penerus keluarga.

Selama tiga bulan masa cuti melahirkan, Ningsih banyak belajar tentang cara merawat bayi. Ia  pun berusaha memberikan ASI untuk anak laki-lakinya ini. Dan Rahmat sangat mendukung upaya Ningsih ini. Ada kalanya Rahmat merasa kasihan dengan Ningsih,  yang terlihat lelah mengurus bayi. Tetapi itulah kehidupan yang harus mereka jalani dan nikmati saat ini.

**

Tiga bulan telah berlalu. Tibalah waktu bagi Ningsih untuk kembali beraktivitas di kantor. Selama itu pula orangtua mereka datang silih berganti menemani Satria, hingga Rahmat dan Ningsih pulang ke rumah.

Suatu malam Rahmat memanggil Ningsih untuk berbincang bersama.

"Sayang, kemarilah. Aku ingin berbicara denganmu."

"Iya, Mas" Ningsih mendekat sambil menggendong Satria. Terlihat Satria tertidur dalam pelukan bundanya.

"Sayang, beberapa hari ini aku berpikir. Semakin lama aku kasihan dengan orangtua kita, yang setiap hari menemani Satria silih berganti. Apa tidak sebaiknya engkau berhenti bekerja saja, untuk merawat anak kita?" Rahmat menatap mata Ningsih.

"Maksudnya engkau melarang aku bekerja, Mas? Kalau aku tidak bekerja, bagaimana dengan pencapaian karir yang telah aku tempuh dengan susah payah ini? Lalu bagaimana dengan kondisi ekonomi kita nanti? Aku takut keuangan keluarga kita tidak cukup, untuk memenuhi semua kebutuhan jika aku berhenti bekerja, Mas." Ningsih mencoba memberi argumennya.

"Sayang, aku menyarankanmu berhenti bekerja demi merawat anak kita. Aku sangat paham dengan semua pencapaianmu selama ini. Bahwa puncak karir yang kau dapatkan, adalah buah hasil kerja kerasmu. Tetapi pahamilah bahwa puncak karir tertinggi seorang wanita adalah,  jika ia berhasil mendidik anaknya, menjadi manusia yang bermanfaat bagi agama dan sesama."

Ningsih terdiam.

"Jangan pernah ragu dengan rezeki kita, Sayang. Rezeki itu pemberian dari Allah. Bukan karena kita bekerja. Jadi andaikata engkau berhenti bekerja, jangan takut dengan berkurangnya rezeki. Aku yakin rezeki yang selama ini kau dapatkan, akan berpindah kepadaku. Asalkan engkau berhenti bekerja, dengan niat tulus ikhlas merawat anak kita." Rahmat panjang lebar menasehati Ningsih.

"Sayang, jangan lupa. Kita telah memohon sekian lama untuk bisa mendapatkan keturunan. Allah telah mengabulkannya. Sehingga seyogyanga kita juga menjaga amanah ini dengan baik."

"Entahlah, Mas. Aku belum bisa memikirkannya saat ini. Satu-satunya jalan keluar dari masalah ini kalau menurutku,  adalah kita mencari seorang baby sitter untuk menjaga Satria." Terlihat sekali Ningsih belum bisa mengikhlaskan hidupnya untuk merawat Satria di rumah.

Dan Rahmat sungguh terkejut mendapati kenyataan, bahwa keesokan harinya Ningsih telah mendapatkan seorang baby sitter bernama Sumi, setelah mendapat rekomendasi dari seorang tetangga.
Yuk Lanjut

Senin, 20 November 2017

Kesatria Hati ( Episode Tujuh )


Keesokan harinya Ningsih sengaja tidak beraktivitas. Ia ingin menyendiri sejenak,  dan menenangkan diri dengan mengunjungi kedua orangtuanya.

Rumah orangtua Ningsih berjarak sepuluh kilometer dari tempat tinggalnya. Memerlukan waktu sekitar satu jam untuk menempuhnya. Terkadang Ningsih menyesal mengapa jarang sekali berkunjung. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh untuk ditempuh.

Tak lama kemudian ia sudah sampai di rumah, disambut hangat oleh ayah ibunya. Seketika ia bersimpuh di kedua kaki orangtuanya.

"Ayah, Ibu.. Ningsih kangen..." Ningsih memeluk erat kaki kedua orangtuanya.

"Anakku Ningsih, berdirilah Nak. Ayo sini duduklah bersama kami." Suara lembut sang ayah yang sangat dirindukannya.

Ningsih pun berdiri dan duduk sambil merangkul ayah ibunya.
"Ayah ibu bagaimana kabarnya? Ningsih selalu mendoakan agar ayah ibu selalu sehat." Ia berkata sambil mencium keduanya.

"Ayah ibu baik-baik saja, Nduk. Kamu dan Rahmat sendiri bagaimana? Lama sekali tidak mengunjungi kami. Mengapa kau kesini sendirian? Mengapa Rahmat tidak ikut bersamamu? Ibunya menatapnya lembut.

"Alhamdulillah, Bu. Kami berdua baik. Mas Rahmat tidak ikut. Ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Mas Rahmat titip salam untuk ayah dan ibu."

Sejenak keheningan melanda. Sambil masih merangkul ayah ibunya tiba-tiba Ningsih  menangis.

"Nduk, apa yang terjadi? Mengapa kau menangis, Nak? Ayo ceritakan pada ibu." Ibu membelai tangan Ningsih.

"Ibu, Ningsih tak tahan lagi. Ningsih sudah berusaha membahagiakan mas Rahmat. Tapi Ningsih gagal, Bu. Ningsih ingin sekali bercerai." Ningsih memulai kisahnya.

"Astaghfirullah, Nduk. Mengapa engkau berkata seperti itu? Bercerai itu sesuatu yang tidak baik, Nak."

"Iya, Bu Ningsih tahu. Tetapi Ningsih bingung. Ningsih sudah tak bisa menerima setiap orang yang memojokkanku, Bu. Semua orang selalu berkata, bahwa Ningsih satu-satunya penyebab mas Rahmat tidak punya keturunan. Padahal kondisi kami sehat-sehat saja, Bu." Ningsih menghela nafas.

"Mulai dari ibunya mas Rahmat sampai teman Ningsih di kantor. Terakhir kali Ningsih pernah mencoba untuk mengadopsi anak. Niat Ningsih baik. Agar menjadi ladang amal kami berdua. Tetapi ibu mas Rahmat tak menyetujuinya. Jadi Ningsih bingung harus bagaimana lagi."

"Nak, bukannya ayah ibu tak mau membantumu. Sekarang engkau sudah menjadi tanggung jawab Rahmat. Cobalah bicarakan baik-baik dulu dengan suamimu. Kami hanya bisa memberimu nasehat dan mendoakanmu, Nak." Sang ayah menasehati.

"Iya, ayah. Ningsih bersyukur mas Rahmat sangat mencintai dan menyayangi Ningsih.  Sampai dengan detik ini mas Rahmat masih membela Ningsih. Hanya saja kondisi di luar yang membuat Ningsih tak tahan.  Ningsih merasa kasihan pada mas Rahmat. Ningsih juga mencintainya. Ningsih tak ingin Mas Rahmat menanggung kesedihan atas semua masalah ini. Untuk itulah Ningsih berpikir mungkin lebih baik saat ini melepaskan mas Rahmat, untuk mencari pengganti yang lebih baik."

"Nduk, itu bukan jalan keluar yang baik. Setiap rumah tangga pasti punya masalahnya sendiri.  Yang harus kamu lakukan adalah menghadapi semuanya berdua. Jangan berjalan sendiri, Nduk. Andalkan pertolongan Allah. Cobalah kalian berdua untuk lebih mendekatkan diri pada Allah." Suara lembut ibunya mencoba memberikan pengertian.

"Sepertinya kalian berdua terlalu menyibukkan diri dengan hal-hal duniawi. Terlalu sibuk mencari uang, sehingga mungkin saja sedikit banyak kalian melupakan Allah. Maka bisa jadi Allah lah yang meninggalkan kalian saat ini. Pada akhirnya permohonan kalian belum ada satupun yang terpenuhi. Tak hanya itu. Kalian jadi mudah bertengkar, salah paham, bahkan merasa tak sejalan." Ayah memberikan nasehatnya panjang lebar.

"Nduk, cobalah untuk lebih santai. Rileks. Jangan mudah terpengaruh perkataan orang lain. Mereka hanya bisa berbicara saja. Lebih mudah menjelek-jelekkan orang lain daripada diri sendiri. Itulah manusia. Jadi jangan mudah emosi,  hanya karena terlalu mendengar pendapat orang lain." Ibu berkata sambil membelai rambut Ningsih yang tidur di pangkuannya.

"Bagaimana jika kalian berdua berlibur bersama? Rilekskan pikiran. Jauhkan semua aktivitas yang biasanya selalu kalian lakukan. Anggap saja bulan madu kedua. Semoga saja membawa manfaat bagi kalian."

"Baiklah, Bu. Akan Ningsih pikirkan. Alhamdulillah, ayah ibu sangat mengerti kondisi Ningsih. Hanya ayah ibu yang mendukung saat ini. Terimakasih ayah,  ibu. Ningsih sangat berharap doa ayah dan ibu. Ningsih menyesal jarang sekali berkunjung.  Bahkan bertanya kesehatan ayah ibu. Maafkan Ningsih." Ningsih menangis sambil memeluk kedua orangtuanya.

"Engkau anak kami yang paling berharga, Nduk. Yakinlah, doa kami selalu menyertaimu. Ingat, teruslah mengingat Allah kapanpun dan di manapun kalian berada. Kami yakin kalian berdua kuat menghadapi cobaan ini." Ayah dan ibu mencium kening Ningsih yang sangat mereka cintai ini.

Dan sore harinya Ningsih kembali ke rumah dengan pikiran dan hati sedikit tenang, setelah mendapat banyak nasehat dari orangtuanya.

*

"Sayang, alhamdulilah engkau sudah pulang dengan selamat. Bagaimana keadaan ayah dan ibu?" Rahmat bertanya pada Ningsih.

"Alhamdulillah. Mereka baik dan sehat, Mas. Mereka berdua titip salam sayang untukmu."

"Alhamdulillah. Nah, sekarang engkau sendiri bagaimana? Sudah merasa lebih baik?" Rahmat mengajak Ningsih duduk.

"Iya, Mas alhamdulilah. Beliau berdua banyak memberi nasehat. Aku sudah jauh lebih tenang sekarang."

Rahmat tersenyum. Merasa bersyukur dengan semua ini.

"Oh, iya Mas. Bagaimana kalau sesekali kita berlibur? Aku lelah memikirkan semua ini. Aku ingin kita berdua rileks sesaat saja." Ningsih bertanya.

"Hmmm engkau ingin berlibur, Sayang? Baiklah akan aku pikirkan. Kita cari waktu yang tepat. Nanti akan kupikirkan kita akan kemana, dan apa yang akan kita lakukan." Rahmat memeluk Ningsih.

"Nah, sekarang kau pasti lelah. Istirahatlah."

**

Dua minggu kemudian Rahmat membawa berita gembira. Salah satu temannya di agen perjalanan menawarkan promosi program liburan ke suatu daerah,  dengan pemandangan pantai yang eksotis. Tanpa pikir panjang, Rahmat menyetujuinya. Dan disepakatilah keberangkatan liburan mereka.

Sesampai di rumah, Rahmat menceritakan hal itu kepada Ningsih. Betapa bahagianya Ningsih mendengar berita itu.
Beberapa hari kemudian mereka mempersiapkan keberangkatannya. Dan esoknya berangkatlah mereka ke tempat tujuan.

Sesampai di sana mereka berusaha menikmati liburan. Tanpa ada dering telepon, atau pertanyaan seputar pekerjaan. Di hari itu mereka hanya ingin berlibur,  dan santai sejenak dari rutinitas.

Dan pada akhirnya liburan itupun berakhir, pertanda mereka harus kembali menjalankan rutinitas.

**

Pagi itu entah mengapa Ningsih terasa sangat lemas. Kepalanya pusing dan seolah berputar. Ada kalanya juga mual. Tak hanya itu. Sudah sejak beberapa hari lalu, ia terserang batuk yang tak kunjung sembuh.

Ingin rasanya pergi ke kantor tetapi rasanya ia tak sanggup untuk berjalan. Rahmat sangat heran dengan kondisi isterinya ini.

"Sayang, apa engkau sakit? Kau tidak apa-apa?" Rahmat menyentuh kening Ningsih.

"Aku tak tahu, Mas. Badanku rasanya lemas sekali. Kepalaku pusing dan sedikit mual. Aku juga batuk tapi tidak sembuh juga."

"Aku buatkan teh hangat untukmu, ya. Sepertinya engkau masuk angin." Rahmat bangkit dari duduknya namun Ningsih mencegahnya.

"Sudah Mas nanti aku buat sendiri saja. Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lemas. Mungkin benar yang engkau katakan. Sepertinya aku masuk angin." Ningsih berkata sambil terus memegang kepalanya.

"Mas berangkat kerja saja, ya. Mungkin aku tidak masuk kerja dulu. Ingin istirahat di rumah saja."

Rahmat merasa kasihan dengan Ningsih.

"Ya, sudah. Aku berangkat ya, Sayang. Jangan lupa hubungi aku kalau ada apa-apa. Kalau memungkinkan nanti kita ke dokter, ya."

Ningsih mencium tangan Rahmat. Rahmat mencium lembut kening Ningsih. Tak lama ia pun berlalu meninggalkan Ningsih.
Yuk Lanjut

Sabtu, 18 November 2017

Kesatria Hati ( Episode Enam )


Rahmat mendekat. Berusaha memegang tangan Ningsih. Tetapi Ningsih menolaknya.

"Jangan sentuh aku, Mas. Aku bukan wanita yang sempurna. Aku tak bisa membahagiakanmu. Aku tak bisa memberikan keturunan untukmu. Sesuatu yang bagi semua orang sangat penting , dan mutlak ada dalam sebuah keluarga!!" Mata Ningsih memerah. Terlihat ia sudah semakin sulit untuk mengendalikan diri.

"Pergilah, Mas. Mungkin sebaiknya engkau mencari wanita lain. Yang lebih sempurna dariku. Yang bisa memberikan keturunan untukmu. Agar semua orang di sekeliling kita bahagia dengan itu!!" Ningsih mendorong tubuh Rahmat.

Rahmat kembali mendekatinya dan memeluknya. Ningsih berusaha memberontak. Tetapi tak bisa. Lengan Rahmat terlalu kuat memeluknya. Ningsih pun akhirnya tersedu dalam pelukan Rahmat.

"Sayang, aku sangat sedih dengan apa yang baru saja kau ucapkan. Engkau menuntutku untuk berpisah denganmu. Sesuatu yang tak disukai Allah dan tak bisa aku lakukan. Apa yang terjadi denganmu? Bukankah sudah sering kukatakan aku bahagia hidup bersamamu, dengan atau tanpa seorang anak. Berapa kali aku katakan kepadamu, seorang anak bukan ukuran mutlak kebahagiaan keluarga. Kalau kita pandai bersyukur, kita pasti bahagia. Entah kau bisa melahirkan seorang anak atau tidak." Panjang lebar Rahmat berusaha memberikan pengertian pada Ningsih.

Ningsih mendorong tubuh Rahmat sekuat tenaga. Pelukan dua orang manusia itupun terlepas. 

"Iya, Mas! Aku percaya denganmu! Aku percaya engkau sangat mencintaiku!  Sampai saat ini aku masih percaya engkau tetap menerima keberadaanku, dengan atau tanpa anak! Tetapi bagaimana dengan orang-orang di sekelilingmu? Bagaimana dengan orang-orang di sekelilingku? Orangtuamu? Teman-temanku? Apa mereka bisa menerima keadaanku?? Tidak, bukan?? Kalau mereka semua bisa menerima,  tidak mungkin mereka selalu menghujatku!!! Dan berkata bahwa aku perempuan yang tidak bisa membuat seorang anak!!! Ningsih sudah tak tahan lagi.

Rahmat mendekatinya. "Sayang...."

Namun Ningsih menyelanya. "Tahukah engkau, apa yang terjadi padaku hari ini? Seharusnya aku bahagia, karena mendapat promosi jabatan."

Rahmat terkejut. "Sayang, kau mendapat kabar bahagia seperti ini, mengapa tak memberitahuku?" Rahmat mendekatinya. Ingin memeluknya lagi.

Tetapi Ningsih berkata "Iya, tetapi semuanya sekarang tak ada artinya. Akibat ulah satu orang. Orang  yang selalu iri hati padaku, namun tak berhasil mengalahkanku. Pak Andi memojokkanku. Dengan tanpa perasaan ia berkata bahwa kehidupanku tak sempurna tanpa adanya anak." 

"Ia berkata bahwa aku tidak bisa membuat seorang anak, karena tidak pernah mencoba bermacam-macam posisi bercinta. Bahkan ia berkata ingin sekali mengajarkanku bagaimana cara membuat anak. Ia sudah mengolok-olok isterimu ini layaknya seorang pelacur!" Ningsih kembali meneteskan air mata.

"Sayang, benarkah yang kau katakan itu?" Rahmat merasa geram dengan perlakuan Andi terhadap isterinya. Ingin rasanya ia menghajar laki-laki itu. Tetapi akal sehatnya dan hati nurani masih mencegahnya.

Rahmat berjalan mendekati Ningsih. Sekali lagi ia peluk isterinya itu. Entahlah. Kondisi ini semakin membuatnya mencintai dan menyayangi Ningsih,  lebih dari sebelumnya.

Dengan masih memeluk Ningsih, Rahmat berkata "Sayang, tahukah engkau? Orang lain di luar sana hanya bisa menghujatmu, berkata hal-hal buruk tentang dirimu. Dan selamanya akan seperti itu. Tetapi apakah mereka memberikan solusi atas permasalahanmu? Aku yakin tidak. Seperti itulah manusia. Tak hanya mereka. Aku juga sering berbuat demikian. Untuk itu aku sering berdoa pada Allah,  untuk melindungiku dari keinginan menghujat orang lain."

Rahmat membelai rambut Ningsih. "Jika mereka hanya mempunyai kemampuan untuk menghujat saja,  tanpa memberikan solusi, lantas untuk apa kau dengarkan? Engkau hanya membuang waktu saja. Engkau menguras pikiranmu,  hanya untuk memikirkan hal tak penting. Semakin engkau mendengarkan hujatan, maka mereka akan semakin leluasa mengulitimu, sampai engkau benar-benar terguncang jiwanya. Dan aku tak mau hal itu terjadi padamu, Sayang."

"Bukankah lebih baik engkau menyerahkan semua bebanmu pada Allah? Ketahuilah Ia adalah sebaik-baik prlindungmu. Ia lebih mempedulikanmu daripada mereka. Bahkan daripada aku sendiri. Jadi berkeluh kesahlah hanya padaNya. Jangan ragukan kasih sayangNya. Apakah engkau memahaminya?"

Ningsih melepaskan diri dari pelukan Rahmat.

"Mas, kalau boleh aku meminta izin padamu. Aku ingin mengunjungi orangtuaku. Aku ingin mencari kedamaian di sana." 

"Aku mengizinkanmu. Tetapi mungkin sebaiknya aku yang mengantarkanmu. Aku khawatir kondisimu seperti ini,  membuatmu tidak fokus berkendara. Aku cemas takut terjadi sesuatu pada dirimu." 

"Mas, aku mohon. Aku ingin berangkat sendiri. Jangan menemaniku. Aku hanya ingin bertemu bertiga saja dengan mereka." Ningsih memohon sambil memeluk lengan Rahmat.

"Hmmmm...Baiklah, tetapi berjanjilah padaku engkau tidak akan berpikir macam-macam selama di perjalanan. Berjanjilah padaku untuk hati-hati dan fokus berkendara. Dan tolong beritahu aku jika engkau sudah sampai di rumah orangtuamu." Rahmat memegang kepala Ningsih menatap matanya meminta kepastian.

"Iya Mas aku janji. Tenanglah. Aku baik-baik saja." Ningsih berusaha tersenyum.

"Baiklah, pergilah esok hari. Agar hatimu tenang. Sekarang ambil wudhu, shalat dan beristirahatlah." 

Ningsih pun berlalu memasuki kamar  tidurnya. Dan Rahmat masih berada di ruangan itu. Terduduk dalam diam.

Dan keesokan harinya, Ningsih pun sudah berada dalam perjalanan menuju rumah orangtuanya.
Yuk Lanjut

Kesatria Hati ( Episode Lima )


Tak terasa waktu sudah memasuki hari Sabtu kembali. Ini tandanya Rahmat dan Ningsih, harus berkunjung ke rumah orangtua Rahmat. 

"Ayo, Sayang kita bersiap-siap. Jangan lupa kalau kita akan memberitahu ibu,  tentang rencana mengadopsi anak." Rahmat berkata sambil merapikan pakaiannya. Ia tidak menyadari bahwa Ningsih terduduk melamun di atas tempat tidur.

"Sayang, kok melamun? Ayo, cepat. Nanti terjebak macet di jalan."

Ningsih mendekati Rahmat dan merangkul lengannya.

"Mas, apakah ibu setuju dengan rencana kita? Aku takut beliau tidak setuju, Mas." Ningsih mulai ragu.

"Aku juga belum tahu, Sayang. Sudah Bismillah saja. Semoga niat baik kita diridhoi Allah SWT. Aamiin." Rahmat mencium kening Ningsih.

Dan beberapa saat kemudian mereka berdua telah sampai di tujuan.

**

"Apa yang baru saja kau katakan, Nak? Engkau akan mengadopsi anak? Tak salah apa yang baru saja ibu dengar?"  Sang ibu membelalakkan matanya.

"Iya, Bu. Kami ada rencana untuk mengadopsi anak. Waktu itu sempat kami temui saat kunjungan ke panti asuhan. Ningsih sangat menyukai anak itu, Bu. Anaknya cantik sekali. Ibu pasti menyukainya." Rahmat memberikan penjelasan kepada ibunya.

"Ningsih boleh suka dengan anak itu, tetapi ibu tidak. Ibu hanya ingin anak yang terlahir dari rahim Ningsih sendiri. Anak kalian sendiri. Bukan anak orang lain. Coba jelaskan pada ibu, bagaimana anak itu sampai dirawat di panti asuhan, dari mana asalnya, siapa orangtuanya, apakah ia dari keturunan orang baik-baik?"

Ningsih pun akhirnya membuka suara. "Anak itu ditemukan oleh pengurus panti di dekat makam, Bu. Di dalam kardus dan terbungkus selimut. Tanpa makanan dan pakaian. Ia anak yang dibuang oleh orangtuanya. Kasihan, Bu. Ningsih ingin mengangkatnya,  dan memperlakukannya seperti anak sendiri." Mata Ningsih mulai berkaca-kaca, namun ia tak ingin ibunya melihat semua itu.

"Apaaaa??? Jadi anak itu tidak jelas asal-usulnya? Kok, kalian masih berani mengambil anak itu? Bagaimana kalau ia keturunan dari seorang penjahat? Atau terlahir dari hubungan gelap. Tidak!! Ibu tak mau itu terjadi. Ibu tak ingin kalian meneruskan niat ini!" Ibu Rahmat sudah tak mampu mengendalikan diri.

Rahmat mendekati ibunya dan memeluknya. 

"Ibu, ayolah jangan seperti ini. Kami kan ingin berbuat baik, Bu. Insya Allah akan jadi ladang amal bagi kami. Kami yakin, pintu rezeki kami akan semakin terbuka lebar. Siapa tahu anak itu nantinya,  yang akan selalu mendoakan ibu setiap saat." Rahmat mencoba merayu ibunya.

"Tidak! Tetapi Kalau kalian memaksa, jangan harap ibu bisa menerimanya!" 

Ningsih tak bisa lagi menahan air matanya. Rahmat melihat hal itu. Tak lama kemudian ia pun mengajak Ningsih pulang,  agar kesedihannya tak berlarut-larut.

"Bu, kami pulang dulu. Kami akan berkunjung lagi minggu depan." Rahmat dan Ningsih mohon pamit sembari mencium tangan sang ibu yang hanya terdiam.

Dan setelah tiba di rumah kembali, Ningsih langsung menuju kamar. Ia ingin sendiri. Tak ingin berbicara dengan siapapun,  termasuk Rahmat suaminya. Ia merasa tak ada yang  mengerti perasaannya. Dan Rahmat pun tak bisa berbuat banyak.

** 

" Selamat atas promosi Anda. Semoga dengan promosi Ini kinerja Anda semakin meningkat, dan mampu membawa perubahan yang lebih baik lagi." Direktur bank  tempatnya bekerja memberikan ucapan selamat. 

Pagi itu secara tak terduga Ningsih mendapat promosi jabatan. Satu kabar bahagia, yang cukup untuk mengobati luka hati Ningsih, yang beberapa hari ini dilanda kesedihan karena permasalahan anak.

Dan sore harinya sebagai rasa syukur,  Ningsih mengajak makan semua teman kantornya. Sembari berbincang santai, mereka menikmati makanan yang tersedia di restoran itu. Tempat makanan favoritnya bersama Rahmat.

Tak lama salah satu teman satu jabatan, yang selalu bersaing dengan Ningsih dan bernama Andi bersuara. 

"Bu Ningsih ini adalah orang yang sangat beruntung. Karirnya bagus, punya suami yang baik dan penyayang." Andi berkata sambil mengunyah makanannya. 

"Oh iya pak Andi. Alhamdulillah." Ningsih tersenyum.

"Tetapi sayang, Bu. Ada yang kurang. Anak." kata Andi.

Ningsih terkejut mendengarnya. Apa maksud Andi ini?

"Iya, Bu. Anak. Sebuah pernikahan itu,  tidak lengkap rasanya jika belum punya anak. Coba tanya teman lain yang sudah punya anak." Andi terus saja berbicara, tanpa menghiraukan perasaan Ningsih.

"Mungkin ibu kurang pandai membuat anak. Sesekali perlu lho mencoba berbagai posisi dalam bercinta. Siapa tahu ada yang berhasil. Bukan begitu? Atau saya ajarkan pada ibu bagaimana caranya. Ibu tinggal menelepon saya kapan waktunya. Hahahahaha......" Andi tertawa terbahak-bahak.

Wajah  Ningsih memerah mendengar kata-kata Andi. Dalam hati ia mengumpat. 

Tak perlu waktu lama, Ningsih berdiri dan menatap Andi.

"Pak Andi, saya memang tidak bisa membuat seorang anak. Yang bisa membuat anak, hanyalah Allah SWT. Kalau pak Andi memang bisa membuat seorang anak, tolong tunjukkan pada saya, bagaimana cara membuat rambutnya. Satu centimeter saja, Pak. Saya tunggu sekarang juga!" Ningsih mulai kehilangan kesabaran.

Suasana makan di meja itu seketika terasa mencekam. Terlebih melihat wajah Ningsih yang biasanya terlihat teduh, kini berubah menakutkan. Tak ingin berlama-lama di sana,  akhirnya Ningsih segera berlalu tanpa berkata apapun.

**

Di dalam mobilnya Ningsih menangis. Hatinya tersayat mendengar hinaan Andi. Andi telah berkata pada semua orang bahwa ia mandul. Andi telah menganggapnya wanita murahan, sampai-sampai ingin mengajarkannya cara bercinta. 

"Ya, Allah mengapa semua ini terjadi? Aku sudah tak tahan lagi!!!"

Beberapa menit kemudian ia sampai kembali ke rumah. Ternyata Rahmat telah lebih dulu datang dan menyapanya.

"Sayang, mengapa kau pulang terlambat? Apa ada meeting tadi di kantor?"

"Mas, mungkin sebaiknya engkau mencari pengganti diriku yang lebih sempurna dariku.  Aku tak bisa membahagiakanmu. Jadi ceraikan saja aku, Mas." Ningsih berkata itu tanpa berpikir.

Rahmat terdiam. 

"Sayang, apa yang kau katakan? Sadarkah engkau dengan apa yang baru saja kau katakan? Engkau memintaku untuk bercerai. Sesuatu hal yang sangat tidak Allah sukai."

Ningsih pun tak mampu menjawabnya. Hanya isak tangis yang terdengar di dalam ruang keluarga itu.

Yuk Lanjut

Jumat, 17 November 2017

Kesatria Hati ( Episode Empat )


Ningsih membuka pintu dengan kasar. Terburu-buru ia memasuki rumah. Tak dihiraukannya Rahmat  yang memanggil namanya.

“Sayang, berhenti!” Rahmat memanggilnya setengah berlari.

Dan akhirnya ia berhasil menangkap tangan Ningsih. Dipeluknya isterinya itu.

“Sayang, maafkan aku. Maafkan ibu. Kami berdua telah menyakiti hatimu.”

Ningsih terus menangis dalam pelukan Rahmat. Hatinya sangat sakit membayangkan ibu mertuanya,  membandingkan dirinya dengan orang lain.

“Mas, aku lelah. Lelah membayangkan jika aku selalu dibandingkan dengan orang lain. Kondisi kita berdua baik-baik saja. Tetapi mengapa ibu selalu beranggapan,  bahwa akulah satu-satunya penyebab engkau tidak bisa memiliki anak.” Ningsih terisak-isak sambil terus memukul dada Rahmat. 

“Iya, sayang. Tolong maafkan aku. Aku tadi juga sudah berusaha memberi pengertian pada ibu. Tetapi cobalah engkau mengerti. Ibu sudah lanjut usia. Aku anak beliau satu-satunya. Wajar jika ibu sangat mendambakan keturunan dari kita.” Rahmat berkata sambil terus memeluk Ningsih.

“Mas pikir aku juga tidak menginginkannya? Aku juga sangat mengharapkannya, Mas! Aku selalu menangis jika ada teman menggendong bayi. Aku selalu iri pada mereka,  yang menceritakan prestasi anaknya masing-masing. Sedangkan aku tidak punya apa-apa untuk diceritakan. Usiaku juga sudah bertambah. Bertambahnya usia juga sangat beresiko untuk hamil  dan melahirkan. Tidakkah kau pahami itu?” Ningsih setengah berteriak.

“Iya, Sayang. Aku mengerti. Sangat mengerti keadaanmu. Sekarang menangislah. Semoga dengan menangis semua bebanmu berkurang.” Ningsih menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Rahmat.

Setelah Ningsih berhasil meredam emosi, Rahmat melepaskan pelukannya.

“Duduklah, Sayang. Tunggu sebentar. Akan aku ambilkan air minum untukmu.” Rahmat membimbing Ningsih duduk,  dan berjalan menuju dapur. Sesaat kemudaian ia kembali sambil membawa segelas air putih. 

“Ini minumlah.” Rahmat memberikan gelas minumnya.
Ningsih mereguk air putih yang dibawa Rahmat. Lalu ia letakkan gelas itu,  dan setengah merebahkan dirinya di kursi. 

Rahmat mengambil duduk di sebelahnya. Memegang tangan Ningsih.

“Sayang, ketahuilah. Aku sangat mencintaimu. Apa adanya. Dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Apakah engkau bisa memberikanku seorang anak ataupun tidak.  Apa engkau tahu hal itu?” 

Ningsih diam saja dan tak menjawab satu pun pertanyaan Rahmat. 

“Seorang anak memang menjadi salah satu yang paling didambakan setiap pasangan. Tetapi tahukah engkau, jika itu bukan sesuatu yang mutlak? Sebenarnya ada atau tidak adanya anak, kita bisa kok untuk tetap bahagia. Jika kita selalu bersyukur dengan apa yang sudah kita terima.” Rahmat berkata sambil terus menggenggam tangan Ningsih.

“Entahlah Mas. Terkadang aku juga bingung. Mengapa ada orang yang begitu mudah diberikan anak. Lihat saja orang-orang yang berselingkuh atau belum terikat pernikahan. Rasanya mudah sekali mendapatkan anak. Kita yang sudah menikah, malah sulit mendapatkan anak. Sampai-sampai aku sering berpikiran kalau Allah tidak adil pada kita.” Ningsih akhirnya bersuara.

“Astaghfirullah, Sayang.  Jangan pernah berkata seperti itu. Jangan menganggap Allah tidak adil pada kita. Faktaya Allah sangat sayang pada kita. Ia pasti menganggap kita belum siap menerima anak. Makanya hingga saat ini kita belum diberikan kesempatan memiliki anak. Jangan iri pada para pendosa. Biarlah itu menjadi urusannya dengan Allah.”

“Bukankah kalau sudah sangat menginginkannya,  itu tandanya kita siap, Mas?” Ningsih bertanya kembali. 

“Hanya Allah yang Mahatahu kondisi kita, Sayang. Percayalah dengan kuasaNya.” Rahmat kembali memeluk Ningsih. 

“Nah, sekarang tenangkan kembali pikiranmu. Kita ambil wudhu dan shalat bersama. Bagaimana?” Rahmat memandang Ningsih. 

“Baiklah, Mas.” Ningsih tersenyum. 

“Oh iya, bagaimana kalau sekali lagi kita memeriksakan diri ke dokter? Semoga usaha kita membuahkan hasil.” Rahmat bertanya kepada Ningsih.

“Sungguh Mas? Baik, aku mau.” Mata Ningsih berkaca-kaca.

“Baiklah.  Sekarang ayo kita shalat bersama.” 

**

“Kondisi ibu Ningsih baik-baik saja, Pak. Tidak ada masalah sama sekali dengan rahimnya. Tidak ada hal yang  menghalangi kesempatan ibu untuk punya anak. Kondisi bapak dari hasil tes juga normal. Tidak ada yang bermasalah. Jadi masih ada kesempatan bagi ibu untuk hamil dan melahirkan.” Dokter kandungan menjelaskan hasil pemeriksaannya pada Rahmat dan Ningsih.

“Lalu mengapa ya Dok kami masih sulit memiliki anak?” Rahmat bertanya kembali.

“Banyak  faktor, Pak. Diantaranya terlalu stress, atau memikirkan masalah yang berat-berat. Coba untuk sedikit rileks. Anda berdua orang yang sibuk dengan pekerjaan, bukan? Saran saya cobalah untuk berlibur beberapa hari.” Dokter baik hati itu memberikan saran.

“Ada cara lain yang bisa dilakukan untuk punya anak. Seperti inseminasi atau bayi tabung. Tetapi tentu biayanya cukup mahal.  Atau mungkin anda berdua mau mempertimbangkannya?” Dokter memberikan sarannya.

“Hmmm, untuk hal itu akan kami pertimbangkan dahulu, Dok. Tetapi mungkin memang kita terlalu lelah bahkan stress.” Rahmat tersenyum.

“Baiklah, saya berikan vitamin untuk ibu ya.” 

Ningsih mengangguk. Beberapa saat kemudian mereka pun meninggalkan ruangan dokter itu. 

**

“Sayang, sudah jelas kan apa kata dokter tadi? Kondisi kita sehat-sehat saja. Hanya masalah waktu saja. Pernahkah terpikirkan olehmu juga jika  mungkin kita berdua terlalu stress?” Rahmat bertanya pada Ningsih setelah mereka tiba kembali di rumah.

“Tidak tahu. Ya, semoga saja dokter tadi berkata benar.” Ningsih menjawab sambil lalu. 

“Sudahlah, Sayang jangan kau pikirkan lagi. Begini. Semalam aku berpikir. Jika engkau sudah ingin sekali punya anak, aku mengizinkanmu untuk mengadopsi anak. Kau menginginkan anak lucu yang ada di panti asuhan itu, bukan?”

Ningsih terkejut mendengarnya. 

“Mas, benarkah yang kau katakan? Engkau setuju kita mengadopsi anak?” Ningsih seolah tak percaya dengan pendengarannya.

“Iya, aku setuju. Kita akan angkat anak itu. Kita akan perlakukan ia sperti anak sendiri. Bagaimana?”Rahmat memandang Ningsih.

Ningsih melihat tatapan tulus dan sungguh-sungguh dari Rahmat. Ia terharu sekali dengan keputusan suaminya. Tak lama kemudian ia berlari ke pelukan Rahmat,  dan menangis haru dalam dekapannya. Dalam hati ia bersyukur pada Allah,  karena memberikan pendamping yang lembut hati seperti Rahmat.



Yuk Lanjut

8 Manfaat Ngeblog bagi Ibu Rumah Tangga, No 8 Asyik Banget

                                                                               Pexels Menekuni dunia menulis di media blog sejak lima tahun ...