Jumat, 13 September 2019

Ketika Pertama Kali Menulis Fiksi


pixabay.com








Melakukan aktivitas menulis, membuat saya pada akhirnya mempelajari beberapa ilmu yang terkandung di dalamnya. Katakan seperti genre atau jenis tulisan,  yang secara garis besar  terdiri dari fiksi dan non fiksi. Mengingat awal bergabung di komunitas mendapat tugas menulis non fiksi, alhasil hingga sekarang saya lebih fokus untuk memilih genre ini.





Namun ketika akhirnya mencoba memberikan kontribusi bagi pembuatan buku antalogi, dan jenis tulisan yang harus dibuat adalah fiksi, mau tidak mau saya membuatnya. Meskipun kurang percaya diri, alhamdulillah tulisan fiksi itu jadi juga, dan masuk dalam salah satu karya di buku antalogi tersebut.





Berawal dari itu, seketika saya terpikir untuk mencari ilmu tentang menulis genre fiksi. Agar pengetahuan tentang menulis semakin bertambah. Biarpun pada akhirnya tetap harus  memilih satu diantaranya dan fokus menjalaninya.





Lalu, setelah lelah mencari-cari komunitas menulis genre fiksi yang pas di hati, akhirnya saya menemukannya. Mempelajari materinya,  dan berusaha sekuat tenaga melakukan tugas yang diberikan sang mentor. Namun harus saya akui. Tugas menulis fiksi ternyata tak mudah,  bagi saya yang lebih nyaman menulis non fiksi. Setidaknya ada beberapa hal yang saya cermati tentang menulis fiksi ini.





Menabung ide.





pixabay.com




Menabung ide merupakan satu hal wajib ketika menulis fiksi. Bahkan tak hanya satu. Ide tersebut diharapkan  bisa berkesinambungan, untuk mendapatkan cerita yang menarik, dan membuat penasaran pembaca. Dan sungguh hal ini sangatlah tak mudah,  bagi saya yang cenderung berpikir penuh kepastian. πŸ˜‚





Mampu berimajinasi.





pixabay.com




Menurut saya, untuk bisa  menulis sebuah fiksi, harus memiliki daya imajinasi tingkat tinggi. Dan itu tak akan didapatkan dengan mudah, ketika saya tak mempelajari lingkungan sekitar,  atau banyak membaca sebagai sumber inspirasi. Bukankah banyak karya fiksi yang  terinspirasi dari kisah nyata seseorang?





Memahami bagian-bagian tulisan dan cara mengolahnya.





Ini pula yang membuat saya terserang sakit kepala membayangkannya. Halaaahh kok jadi lebayπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.  Sebab ketika menulis fiksi,  saya harus membuat alur yang menyatu sepanjang cerita. Belum lagi harus menciptakan karakter yang hidup dari sang  tokoh dalam cerita. Juga membuat cerita semakin hidup dengan konflik-konflik seru,  serta kejutan akhir yang tak mudah tertebak. Dan teknik menulis fiksi lainnya. Alhasil menjadi tantangan tersendiri ketika mencoba menuliskannya kawans.😁





Konsentrasi penuh.





pixabay.com




Sharing dengan salah satu teman baik,  yang beberapa kali membuat tulisan fiksi dengan apiknya, saya mendapatkan  satu resep sederhana. Bahwa menulis fiksi membutuhkan waktu spesial,  dan konsentrasi luar biasa, genks. Sebab jika tak diwujudkan langsung dalam satu tulisan,  alias menulis dengan cara mencicil, dikhawatirkan akan kehilangan alur ceritanya karena lupaπŸ˜‚. Kalau sudah begini, yakin deh tulisan fiksi tersebut gagal total dan ke laut ajaπŸ˜….





Yah, bagi saya pribadi menulis fiksi sungguh tak mudah. Namun bagi teman lain, bisa jadi terasa sangat ringan. Demikianlah. Setiap pribadi memiliki kemampuan dan ciri khas masing-masing. Meskipun akhirnya harus memilih dan fokus menjalankannya, saya tetap bertekad untuk bisa menulis fiksi. Tantangan ada bukan untuk dihindari. Tetapi ada baiknya dilakukan. Setidaknya sudah pernah mencoba,  dan merasakan sensasinya. Bukan begitu gaeeess? πŸ˜‰


Yuk Lanjut

Rabu, 04 September 2019

Fakta Penipuan Merajalela, Sudah Siapkah Langkah untuk Mengantisipasinya?






Beberapa hari lalu, saya hampir saja menjadi korban penipuan seseorang. Ceritanya hari itu saya sedang memesan makanan lewat bantuan ojek online. Menurut penuturan bang ojek, makanan yang saya pesan harus menunggu lama,  karena  antriannya cukup panjang. Alhasil saya pun harus rela menunggu hingga pesanan datang.





Tiba-tiba
telepon genggam saya berdering. Terlihat nomer tak dikenal. Sebenarnya sudah
menjadi kebiasaan saya,  untuk tak mengangkat telepon dari angka misterius
seperti itu. Tetapi karena teringat sedang menunggu pesanan makanan, otomatis
otak saya berkata,  jika ini pasti dari abang ojek untuk menginfokan
pesanan.





Namun
saya terkejut, ketika menerima telepon tersebut, ternyata bukan dari abang
ojek. Seseorang berkata dari seberang sana,  jika saya menerima sejumlah
saldo uang, karena saya aktif memakai sebuah aplikasi pembayaran.





Saya
ikuti terus arah pembicaraan. Hingga  pada akhirnya si misterius ini
memberikan pilihan. Apakah hadiah saldo tersebut,  dimasukkan langsung ke
aplikasi,  ataukah diterimakan dalam bentuk tunai di rekening bank.





Syukur
alhamdulillah. Seketika saya langsung tersadar,  jika ini adalah penipuan.
Telepon langsung saya tutup. Si penipu mencoba menghubungi berkali-kali. Tetapi
saya pun tak menggubrisnya sama sekali. Dan alhasil saya bersyukur, bahwa Yang
Maha kuasa masih melindungi.





Melihat
beberapa kejadian kejahatan,  yang marak terjadi akhir-akhir ini, ternasuk
salah satunya adalah penipuan, jujur membuat kita sering merasa ngeri
dibuatnya. Segala cara kejahatan dilakukan seseorang,  demi nafsu
memperkaya diri,  atau motif lain di baliknya. Sehingga tak ada cara
lain,  selain kita wajib berhati-hati,  terhadap segala bentuk
kejahatan yang beredar di muka bumi.





Waspada.





Entah mengapa jika sekarang ini, saya sulit sekali membedakan,  antara orang yang benar-benar membutuhkan bantuan,  dengan orang  bermaksud tidak baik kepada kita. Sehingga alhasil saya mulai  bersikap waspada. Tentunya dengan harapan,  jangan sampai bentuk waspada ini,  mengarah kepada dugaan berprasangka buruk pada orang lain. Inginnya sih selalu berprasangka baik. Tetapi jika menyangkut keamanan diri sendiri dan keluarga,  bukankah waspada menjadi satu cara menghindari kejahatan?









Hindari konfrontasi.





Ketika
sudah terjebak dalam tindak kejahatan penipuan seperti cerita di atas, maka
sebaiknya hindari konfrontasi dengan si pelaku. Sebab biasanya,  ketika
rencana kejahatan  tercium oleh calon korban, mereka berkelit semampunya untuk
menutupi kejahatannya. Entah dengan mengeluarkan kata-kata kotor,  atau
memutar balikkan fakta. Maka lebih baik hindari konfrontasi. Tutup telepon dan
jangan pernah mengangkatnya jika terdapat nomer misterius. Tanamkan dalam
pikiran, jika orang lain membutuhkan komunikasi dengan kita, ia akan
menjelaskan siapa dirinya dan untik apa menghubungi.





Pelajari modus.





Maraknya
kejahatan saat ini,  juga tak lepas dari beragamnya modus yang digunakan
oleh si pelaku. Ada kalanya modus tersebut sama, tetapi bisa jadi mereka
membuat trik baru,  agar calon korban tak menyadari. Jadi ada baiknya
untuk  mempelajari modus-modus tersebut,  agar bisa mengantisipasi
terjadinya penipuan.





Saling mengingatkan.





Menjadi
korban penipuan tentunya bukan harapan semua orang.  Untuk itu penting
sekali upaya saling mengingatkan. Seperti menceritakan kejadian
kejahatan,  yang terjadi di lingkungan rumah kepada orang lain. Agar 
menjadi pembelajaran supaya tetap waspada dan berhati-hati.





Jangan mudah tergiur.





Mayoritas
penipuan menggunakan modus berupa janji-janji menggiurkan agar kita tertarik,
dan tak sadar terjebak dalam permainan si pelaku. Untuk itu jangan biarkan
pikiran kosong,  dan menerima saja segala hal tak masuk akal yang
disampaikan. Berpikirlah dengan logika dan akal sehat,  agar tak terbawa
arus tipu daya mereka.





Selalu berdoa.





Jangan
lupa selalu berdoa. Memohon perlindungan kepada Yang Mahakuasa, agar terhindar
dari segala bentuk kejahatan dan penipuan. Sebab segala sesuatu yang terjadi
semua hanya atas izinNya. Bagaimanapun si pelaku berencana melakukan niat
jahatnya, namun jika Sang Mahakuasa tidak berkehendak, maka semuanya tak akan
terjadi. Jadi pastikan kekuatan doa selalu ada dalam setiap aktivitas, ya.





Suatu
tindak kejahatan terjadi,  bukan hanya karena niat si pelaku. Tetapi juga
adanya kesempatan untuk melakukannya. Waspadalah, berhati-hati, jangan
lengah,  dan selalu berdoa agar tak ada kejadian buruk  menimpa hidup
kita.


Yuk Lanjut

8 Manfaat Ngeblog bagi Ibu Rumah Tangga, No 8 Asyik Banget

                                                                               Pexels Menekuni dunia menulis di media blog sejak lima tahun ...