pixabay.com








Melakukan aktivitas menulis, membuat saya pada akhirnya mempelajari beberapa ilmu yang terkandung di dalamnya. Katakan seperti genre atau jenis tulisan,  yang secara garis besar  terdiri dari fiksi dan non fiksi. Mengingat awal bergabung di komunitas mendapat tugas menulis non fiksi, alhasil hingga sekarang saya lebih fokus untuk memilih genre ini.





Namun ketika akhirnya mencoba memberikan kontribusi bagi pembuatan buku antalogi, dan jenis tulisan yang harus dibuat adalah fiksi, mau tidak mau saya membuatnya. Meskipun kurang percaya diri, alhamdulillah tulisan fiksi itu jadi juga, dan masuk dalam salah satu karya di buku antalogi tersebut.





Berawal dari itu, seketika saya terpikir untuk mencari ilmu tentang menulis genre fiksi. Agar pengetahuan tentang menulis semakin bertambah. Biarpun pada akhirnya tetap harus  memilih satu diantaranya dan fokus menjalaninya.





Lalu, setelah lelah mencari-cari komunitas menulis genre fiksi yang pas di hati, akhirnya saya menemukannya. Mempelajari materinya,  dan berusaha sekuat tenaga melakukan tugas yang diberikan sang mentor. Namun harus saya akui. Tugas menulis fiksi ternyata tak mudah,  bagi saya yang lebih nyaman menulis non fiksi. Setidaknya ada beberapa hal yang saya cermati tentang menulis fiksi ini.





Menabung ide.





pixabay.com




Menabung ide merupakan satu hal wajib ketika menulis fiksi. Bahkan tak hanya satu. Ide tersebut diharapkan  bisa berkesinambungan, untuk mendapatkan cerita yang menarik, dan membuat penasaran pembaca. Dan sungguh hal ini sangatlah tak mudah,  bagi saya yang cenderung berpikir penuh kepastian. 😂





Mampu berimajinasi.





pixabay.com




Menurut saya, untuk bisa  menulis sebuah fiksi, harus memiliki daya imajinasi tingkat tinggi. Dan itu tak akan didapatkan dengan mudah, ketika saya tak mempelajari lingkungan sekitar,  atau banyak membaca sebagai sumber inspirasi. Bukankah banyak karya fiksi yang  terinspirasi dari kisah nyata seseorang?





Memahami bagian-bagian tulisan dan cara mengolahnya.





Ini pula yang membuat saya terserang sakit kepala membayangkannya. Halaaahh kok jadi lebay😂😂😂.  Sebab ketika menulis fiksi,  saya harus membuat alur yang menyatu sepanjang cerita. Belum lagi harus menciptakan karakter yang hidup dari sang  tokoh dalam cerita. Juga membuat cerita semakin hidup dengan konflik-konflik seru,  serta kejutan akhir yang tak mudah tertebak. Dan teknik menulis fiksi lainnya. Alhasil menjadi tantangan tersendiri ketika mencoba menuliskannya kawans.😁





Konsentrasi penuh.





pixabay.com




Sharing dengan salah satu teman baik,  yang beberapa kali membuat tulisan fiksi dengan apiknya, saya mendapatkan  satu resep sederhana. Bahwa menulis fiksi membutuhkan waktu spesial,  dan konsentrasi luar biasa, genks. Sebab jika tak diwujudkan langsung dalam satu tulisan,  alias menulis dengan cara mencicil, dikhawatirkan akan kehilangan alur ceritanya karena lupa😂. Kalau sudah begini, yakin deh tulisan fiksi tersebut gagal total dan ke laut aja😅.





Yah, bagi saya pribadi menulis fiksi sungguh tak mudah. Namun bagi teman lain, bisa jadi terasa sangat ringan. Demikianlah. Setiap pribadi memiliki kemampuan dan ciri khas masing-masing. Meskipun akhirnya harus memilih dan fokus menjalankannya, saya tetap bertekad untuk bisa menulis fiksi. Tantangan ada bukan untuk dihindari. Tetapi ada baiknya dilakukan. Setidaknya sudah pernah mencoba,  dan merasakan sensasinya. Bukan begitu gaeeess? 😉


24 Komentar

  1. Setuju Mbak. Belajar itu tidak ada kata berhenti, terus maju jalan. Kalau sudah merasa bisa, maka yang ada adalah stagnan, ketrampilan kita tidak akan bertambah. Semangat Mbak, pasti bisa menulisa fiksi. Sukses selalu ya.

    BalasHapus
  2. Saya suka fiksi, karena bisa menjadi media untuk menyampaikan pesan dalam rupa cerita. Kayak pesan terselubung gitu...

    BalasHapus
  3. Betul sekali kakak. Menulis fiksi itu kita harus mempunyai imajinasi yang tinggi atau dengan kata lain, suka ngayal lah ya.

    Hehehe

    BalasHapus
  4. Saya asudah pernah merasakan keduanya, menulis fiksi dan non fiksi. Sampai sekarang masih belum menentukan untuk fokus untuk memilih yang mana. Sekarang masih menjalani keduanya sih, masih mencari yang benar-benar pas hihihi

    BalasHapus
  5. kalo fiksinya masih cerpen atau cernak saya masih sanggup, kalo udah novel saya angkat bendera putih, wkwk. dari dulu suka bacanya aja tapi kalo untuk menuliskannya keknya butuh puluhan kali berpikir untuk menulis novel, heheh. makanya suka salut sama yang bisa bikin novel tuh, kereeeen!

    BalasHapus
  6. Setujuuu tantangan ada bukan untuk dihindari. Tetapi ada baiknya dilakukan.
    Aku dulu awalnya nulis non fiksi..ikutan lomba mengarang jaman SD, SMP ..menang.
    Terus ke fiksi, Cerpen sempat dimuat di Kompas Anak dan Nova
    Terus ketika umur menua kok susah rasanya nulis yang manis, romantis, galau..begitu huhuhu
    Jadi banyakan non fiksi sekarang ini.
    Ayo semangat Mbak, coba semua:)

    BalasHapus
  7. Menabung ide.. Bagus banget nih . Jadi kalau pas macet , bisa mbuka mbuka tabungan ide yaa. Saya juga sedang mau konsisten nulis di blog nih mba'. Kadang kalau sudah ketumpuk pekerjaan, momong anak, nulis jadi seperti di awang awang

    BalasHapus
  8. Keren mb nabung ide buat bisa nulis. Setuju butuh konsentrasi agar tulisan kita berkualitas. Sukses ya mba

    BalasHapus
  9. Menulis fiksi itu asyik, Mbak. Saya dulu memulainya dengan menulis fiksi mini, lalu mulai meningkat ke cerpen, dan akhirnya bisa menulis novel. Yaa walaupun masih ada kurang di sana-sini.
    Memang banyak tantangannya. Sampai sekarang saya selalu kagum pada mereka yg bisa menuangkan ide ke dalam tulisan fiksi, terutama fiksi sejarah. Wahh, kudu pinter mengolah antara data dan rekaan, tuh.

    BalasHapus
  10. Iyaa ya mbak, kalau mau menulis fiksi harus bisa dan punya imajinasi yang tinggi 😊

    BalasHapus
  11. Saya juga suka mba nulis fiksi. Buat tempat hayalan hayalan saya juga sih sebenernya heheh

    BalasHapus
  12. Wah mantap tuh kalau bisa diseriusin😁

    BalasHapus
  13. Beneerrr...dan tak semua orang bisa termasuk saya😁

    BalasHapus
  14. Haha..jadi inget pernah ditantang bikin cerbung..pusing saya😂

    BalasHapus
  15. Iya mbak harus belajar twrus nih😁

    BalasHapus
  16. Itulah tantangan menulis bagi para emak...kalau bisa malah keren banget tuh

    BalasHapus
  17. Kalau mbak Dian sudah master menulis ini..iya mbak saya semangat coba semua
    💪💪💪

    BalasHapus
  18. Hahaha...iya...saya juga masih kurang pede nulis cerpen...apalagi cerbung novel dan sejenisnya😂

    BalasHapus
  19. Iya betul mbak...memang pada akhirnya harus memilih mau fokus dimana...tetapi untuk belajar harus bisa semuanya😁

    BalasHapus
  20. Betul...pesan tersirat..keren banget tuh kalau bisa fokus dan berhasil di genre fiksi

    BalasHapus
  21. Wilen Fatetha24 April 2020 19.17

    Betul mbak, sy baru2 ini ingin belajar nulis, bagi2 ilmunya mbak,, gmn caranya bisa nulis dengan baik seperti mbak.

    BalasHapus
  22. Like!! Thank you for publishing this awesome article.

    BalasHapus