Rabu, 16 Oktober 2019

Bagaimana Ketika Resign Bukan yang Menjadi Pilihan?


pixabay.com




Memutuskan untuk resign setelah sekian tahun lamanya bekerja, nyatanya sanggup membuat seseorang berada di posisi yang sulit. Salah satu teman baik pernah berkata "Mbak, ojo kesusu resign, yen durung duwe aktivitas liyo. Mengko biso jetleg." Yang tak memahami bahasa ini, baiklah akan saya terjemahkan.😂 Artinya "Mbak, jangan terburu-buru resign, kalau belum punya aktivitas baru. Bisa jetleg nanti."





Ya, wajarlah demikian. Sebab dengan resign, seseorang harus rela menerima resiko kehilangan penghasilan, kesibukan, serta keseruan dunia kerja lainnya. Untuk itu jika benar-benar memutuskan resign, segala sesuatunya memang harus dipersiapkan sedini mungkin. Terutama mental menghadapi tekanan. Tak jarang juga harus ikhlas menerima komentar nyinyir dari bisik-bisik tetangga atau saudara. Maklumlah jika di zaman sekarang, wanita pekerja serasa jauh lebih terhormat, dibanding yang memilih menjadi ibu rumah tangga biasa.





Sehingga bukan hal yang aneh lagi, ketika seseorang terutama perempuan, ada yang terus bertahan dengan pekerjaannya. Ia sanggup kehilangan kesenangan dirinya, demi keluarga dan orang-orang yang sangat ia cintai. Juga tetap ikhlas menerima turunnya kondisi kesehatan, akibat bekerja terlalu keras tanpa mempedulikan fisiknya.





Entahlah. Pada dasarnya setiap orang memiliki pola pikir, keinginan, dan harapan yang berbeda-beda. Ia juga  berhak memutuskan kehidupannya sendiri, tanpa campur tangan orang lain. Sedangkan orang lain hanya bisa memberikan saran dan nasehat, namun tak boleh memaksakan kehendak.





pixabay.com




Beban Keluarga Ada di Pundak Saya.





Seorang teman wanita  mengajak berdiskusi tentang keputusan resign yang saya ambil. Singkat ceita ia berkata, bahwa untuk saat ini, si teman belum berani mengikuti jejak yang sama. Padahal kondisi hatinya sudah sangat menginginkan resign.  Sebab ia mulai merasa bersalah terhadap sang anak, yang hampir setiap hari ditinggalkan, demi sebuah pekerjaan. Usut punya usut, ternyata kondisi perekonomian keluarga, yang membuatnya harus bertahan. Dengan kondisi pasangan yang berpenghasilan tak tetap, alhasil ia pun harus rela bekerja dengan harapan, penghasilan tetapnya, akan mampu mencukupi semua kebutuhan. Hal ini juga yang menjadi alasan seorang single parent tetap bertahan dengan pekerjaannya. Tak lain untuk tercukupinya semua kebutuhan. Sehingga wajar saja jika orang-orang seperti ini, masih harus terus bekerja, sebab beban berat keluarga ada di pundaknya.





Idealisme.





Beberapa orang ada yang memiliki idealisme tinggi, terhadap sebuah pekerjaan.  Baginya pekerjaan adalah status sosial, yang sanggup mengubah pandangan orang lain terhadap dirinya. Seperti yang pernah saya dengar dari kisah seorang teman. Pada saat memutuskan resign, dalam sekejap ia sudah menjadi bahan olok-olok para tetangga dan saudara. Ada yang mengatakan, sayang sekali menempuh ilmu setinggi mungkin, tapi ujung-ujungnya ke dapur juga. Ada pula yang membanding-bandingkan dengan orang lain, yang terlihat lebih keren dengan seragam kerjanya. Alhasil meskipun banyak faktor yang menjadi alasan seseorang untuk bisa resign, tapi tak kunjung ia lakukan. Demi sebuah pengakuan dan idealisme, bahwa bekerja adalah salah satu cara menunjukkan status sosial.






pixabay.com





Saya Masih Bisa Mengatur Waktu.





Mengatur waktu dengan baik, adalah salah satu aktivitas yang sangat sulit dilakukan. Kecuali bagi orang-orang yang terbiasa. Padahal Allah Swt sendiri telah mengingatkan manusia, tentang pentingnya mengatur waktu.





Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).





Nah, bagi seseorang terutama wanita, yang memiliki manajemen waktu sangat berantakan, jelas pada akhirnya merasa kesulitan. Ia akan kebingungan mengatur waktu, antara kesibukan di kantor, dan mengurus keluarga. Pastilah ada salah satu yang akan menjadi korban. Dan sungguh, seringkali keluarga yang tak terurus. Inilah yang akhirnya menyebabkan seseorang mengambil langkah resign dari pekerjaan. Namun beda halnya jika telah terbiasa mengatur waktu. Ia akan terbiasa melakukan segala sesuatunya dengan rapi dan terorganisir. Sehingga tahu kapan waktunya bekerja, dan bila mana harus mengurus keluarga. Terlebih jika ia juga sudah mengajarkan anak-anaknya, untuk ikut belajar mengatur waktu. Alhasil ia tak akan pernah berpikir untuk mengakhiri karirnya secepat mungkin.





pixabay.com




Tenang, Ada Bala Bantuan.





Pernahkah Anda perhatikan, bahwa fenomena yang terjadi saat ini adalah, banyaknya orangtua pekerja, yang menitipkan anak-anaknya pada kakek neneknya? Mengingat sulitnya mencari asisten rumah tangga yang jujur dan kompeten sekarang ini, membuat beberapa orangtua berpikir, lebih baik menitipkan sang anak pada kakek neneknya. Dengan dalih agar kakek neneknya terhibur dengan kehadiran cucu di rumah serta alasan kemanan, jelas hal ini membuat orangtua tetap bisa bekerja, dan tak perlu mengajukan resign. Namun bagi orang yang memahami, bahwa tak pantas rasanya membebani orangtua lagi, dengan tugas menjaga cucu, maka ia akan lebih memilih resign demi mengurus anak-anaknya.





Masih Ada Tanggung Jawab Hutang.





Masih memiliki kewajiban membayar hutang, juga menjadi salah satu alasan seseorang, mengurungkan niatnya untuk resign. Terlebih jika hutang tersebut dalam jumlah besar yang ia gunakan untuk membeli rumah atau mobil. Pastilah sejauh ini ia selalu berhitung untung ruginya, jika ia mengajukan resign atau tidak. Setidaknya ia akan berpikir, cukupkah penghasilan dari pasangan saja, untuk memenuhi kebutuhan sekaligus membayar hutang? Jika tidak, pastilah ia akan mempertahankan pekerjaan dengan segala resikonya.





Terbentur Usia dan Kriteria.





Bagi seseorang yang bekerja di perusahaan dan kebetulan sedang dalam masalah, otomatis ia akan mencari peluang di tempat lain, dan sedapat mungkin segera angkat kaki dari pekerjaan lamanya. Tetapi faktanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Sudah menjadi ketentuan sejak lama, bahwa sebuah perusahaan, pasti mencari karyawan dengan kriteria lulusan terbaru, usia muda, enerjik, serta memiliki kemampuan di atas rata-rata. Nah, inilah yang menjadi kendala tersendiri, bagi orang-orang yang ingin berpindah pekerjaan, namun terbentur kriteria tersebut. Sehingga mau tak mau ia akan terus bertahan dengan pekerjaan lamanya.





pixabay.com




Saya Tak Tertarik Keluar dari Zona Nyaman.





Sudah bukan rahasia lagi, jika berbisnis menawarkan surga dunia, melebihi penghasilan yang didapat seorang pekerja kantoran. Terlebih bisnis yang berbasis Multi Level Marketing atau MLM. Penghasilan dan bonus hasil bisnisnya sangat fantastis, sehingga beberapa di antaranya mampu mencapai kekayaan berlimpah. Bagi yang sudah jenuh dengan rutinitas pekerjaan kantor, dan ingin terbebas darinya, ia akan melirik bisnis sebagai lahan baru untuk mencari penghasilan. Namun bagi yang merasa sulit move on, tak berbakat, atau tak menyukai bisnis, sudah tentu akan memilih lebih baik bertahan di zona nyamannya. Bekerja di kantor dengan aktivitas rutin yang monoton.









Keputusan untuk resign atau tidak sekalipun, bukan jaminan seseorang dapat mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya. Maka yang terbaik adalah, tetapkan tujuan, dan fokus pada langkah untuk mencapainya. Selebihnya berdoa memohon yang terbaik pada Yang Mahakuasa.


Yuk Lanjut

Selasa, 15 Oktober 2019

Sudah Berniat Resign tetapi Masih Dilema? Yuk Pikirkan Sekali Lagi


pixabay.com




Teringat kembali waktu itu saya sudah berniat mengajukan resign. Keinginan ini begitu membuncah. Apalagi entahlah mengapa, beberapa hari belakangan, si putri semata wayang, tiba-tiba saja sering melayangkan protes, bahwa saya sudah tak boleh bekerja. Saya harus selalu menemaninya. Bermain dan belajar bersama. Teringat kembali pada saat istirahat kantor, betapa bahagianya wajah imut itu, menyambut saya yang menjemputnya pulang sekolah. Saya pun jadi berpikir, apakah memang harus benar-benar resign demi memenuhi permintaannya. Tetapi pada akhirnya dengan banyak pertimbangan, saya pun memantapkan hati mengajukan resign.





Sebagai langkah awal saya mencoba berbicara dari hati ke hati dengan atasan. Mengutarakan semua yang menjadi alasan. Mencoba melihat bagaimana  reaksinya. Dan sungguh tak disangka. Si atasan diam seribu bahasa. Tak satu pun keluar respon sebagai bentuk komunikasi dua arah.





Sejak hari itu segala perasaan bercampur aduk. Beberapa pertanyaan terlintas dalam pikiran. Mencoba menggoda untuk mengurungkan niat ini. Suara-suara dalam hati berkata "Sudahlah urungkan saja. Tak akan ada yang memperhatikan niat konyolmu itu." Tapi sisi hati yang lain berkata "Ayo, jangan mudah galau! Kuatkan hati! Ingat niat  awalmu!"





Hmmm pusing juga akhirnya. Bayangkan saja ketika ada satu niat, namun tak ada yang mendukungnya. Jangankan mendukung. Merespon saja tidak! Hingga saya tiba pada satu kesimpulan. Pokoknya saya harus luruskan niat, bulatkan tekad, berusaha, jalankan dan berdoa. Selebihnya adalah campur tangan Yang Mahakuasa.





Saya mencoba mengingat kembali sebuah pesan dari teman baik. Si teman berkata yang pada intinya, apakah yang menjadi tujuan hidup saat ini. Jika tujuan tersebut bisa dicapai dengan resign, lakukan saja. Namun jika tujuan hidup bisa dicapai tanpa melalui resign, ya tetap bertahan.





Setelah melalui perenungan yang panjang, akhirnya hati kembali memantapkan diri, untuk melanjutkan proses resign ini. Surat resign pun telah meluncur. Sambil menunggu, saya pun bekerja seperti biasa, dan menyerahkan segala urusan resign ini pada Allah SWT. Mencoba meyakinkan diri, bahwa semua akan berjalan sesuai kehendakNya.





Dua hari kemudian terjadi sesuatu, yang sanggup membuat saya dilema terkait keputusan resign ini.    Saya jadi berpikir keras. Apakah benar resign yang saya inginkan saat ini? Sudah yakinkah saya dengan keputusan berat ini? Jangan-jangan saya menyesal di kemudian hari.





Entahlah. Yang jelas dalam beberapa hari itu saya menjadi resah karenanya. Apakah saya harus berpikir ulang tentang keputusan ini.





pixabay.com








Atasan Mulai Perhatian





Setelah sekian lama  tak merespon niat saya, hari itu atasan secara tiba-tiba memanggil untuk berbicara. Wah, akhirnya! Pasti beliau langsung menyetujui keputusan saya. Begitulah yang ada dalam pikiran. Mengingat saya bukan lagi termasuk dalam karyawan dengan usia produktif. Pastilah keputusan resign ini beliau setujui. Namun ternyata  sepenuhnya saya salah. Atasan mencoba mengganggu keteguhan hati. Mencoba mengingatkan kembali prestasi yang pernah saya raih, dan membeberkan hasil kinerja. Tak hanya itu. Atasan juga berjanji akan memberikan jenjang karir lebih. Bahkan atasan juga mengingatkan tentang penghasilan, yang selama ini mampu memenuhi kebutuhan saya, akan otomatis hilang. Jujur saja siapa sih yang tidak galau jika sudah begini?





pixabay.com




Bisakah Saya Hidup Tanpa Penghasilan?









Bekerja adalah salah satu cara untuk mendapatkan penghasilan. Tak dapat dipungkiri. Penghasilan yang didapat secara rutin setiap bulan, adalah satu kepastian yang akan dapat menjamin seluruh kebutuhan. Tak hanya kebutuhan sehari-hari saja. Bahkan kesenangan juga dapat terpenuhi dari penghasilan tersebut. Katakanlah seperti biaya untuk menjalankan hobi, mengikuti pelatihan, atau berjalan-jalan. Nah ketika resign, otomatis penghasilan bulanan tersebut akan lenyap. Bisa jadi setelah itu, saya tak memegang uang sama sekali. Hikks. Meskipun berkali-kali saya meyakinkan diri, bahwa rezeki datang dari Allah, bukan karena bekerja, tetapi membayangkan saya sudah tak berpenghasilan akibat resign, cukup membawa kekhawatiran di dalam hati.





pixabay.com




Bagaimana Cara Saya Habiskan Waktu Pengganti Bekerja?









Jika melihat point ini, saya jadi teringat kembali, bagaimana kehidupan sebelum mendapatkan pekerjaan tetap. Hanya berdiam diri di rumah, melakukan aktivitas di seperti bersih-bersih, atau pekerjaan rumah lainnya. Sungguh sangat membosankan. Apalagi kalau tak memiliki ketrampilan apapun. Ketika bekerja, saya telah terbiasa melakukan aktivitas sesuai jadwal dalam sehari penuh. Pulang kerja langsung meneruskan aktivitas mengurus keluarga. Meskipun ketika resign hanya terjadi pengurangan aktivitas yaitu pekerjaan di kantor, jujur saya sempat merasa gundah. Selain mengurus keluarga, apa yang akan saya lakukan, untuk mengisi waktu di rumah, sebagai pengganti bekerja di kantor? Maklumlah. Sebab setelah terbiasa sibuk, semuanya akan berubah, pasca empat belas tahun lamanya berkutat dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya.





pixabay.com




Dua Sisi Mata Uang dalam Keluarga.









Entah mengapa jika di zaman sekarang, penghasilan dalam satu bulan masih saja belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan ketika terdapat dua orang yang bekerja yaitu suami isteri. Inilah yang terkadang membuat seorang isteri, yang semula hanya ibu rumah tangga biasa, pada akhirnya memiliki niat untuk bekerja juga di luar rumah sebagai karyawan. Semua ia lakukan dengan tujuan membantu suami mencari penghasilan. Nah di satu sisi saya memiliki suami yang alhamdulillah berpenghasilan tetap. Namun di sisi lain, ketika memutuskan resign dan kehilangan pendapatan, masih bisakah semua kebutuhan terpenuhi, hanya dari penghasilan suami? Mengingat semakin tak menentunya kondisi perekonomian, dan meningkatnya kebutuhan beserta nominalnya.





pixabay.com





Kok Sepertinya Saya Kurang Bersyukur?









Selama empat belas tahun ini, saya bekerja di perusahaan yang alhamdulillah memberikan banyak sekali keuntungan. Kebutuhan seperti kesehatan, asuransi, tabungan, standar kelayakan penghasilan, semua tercukupi dari perusahaan. Sharing dengan salah satu teman yang bercerita, bahwa rata-rata saat ini seorang karyawan bekerja menggunakan sistem kontrak. Kontrak selesai ya berakhirlah sudah. Harus mencari pekerjaan di tempat lain. Menyimak ceritanya membuat saya merasa bersalah. Apakah saya masih kurang bersyukur dengan pekerjaan ini? Sehingga harus memutuskan mengundurkan diri. Entahlah. Hal ini pula yang sempat menjadikan saya dilema mengambil keputusan resign ini.





pixabay.com




Jangan-jangan Saya Cuma Emosi.





Setiap manusia pasti memiliki emosi, ketika menghadapi sesuatu yang kurang pas di hati. Dan mayoritas hasil dari emosi tersebut adalah, tidak terkontrolnya logika dan akal sehat, sehingga mudah bahkan sedikit kacau dalam mengambil keputusan. Sebelum mengambil keputusan resign, saya memang sempat merasakan bahwa beban kerja semakin bertambah berat. Kondisi perusahaan juga sedang mengalami ujian yang belum ada solusinya. Sehingga keputusan resign ini banyak yang menganggap, bahwa sebenarnya saya hanya emosi dengan semakin beratnya pekerjaan. Benarkah demikian? Ini juga yang sempat terlintas dalam pemikiran.





Seperti dalam tulisan sebelumnya, saya pernah berpendapat bahwa resign bukan perkara mudah. Terlebih bila pikiran sudah dihantui dilema. Pada akhirnya semua harus kembali dan fokus kepada tujuan utama dalam hidup. Setelah itu mengkaji lebih dalam lagi, apakah tujuan hidup itu bisa dicapai dengan resign dari pekerjaan, ataukah tetap bertahan.


Yuk Lanjut

Senin, 14 Oktober 2019

Resign Bukan Perkara Mudah, Inilah Sepuluh Hal yang Menjadi Alasan










Entah mengapa tiba- tiba saja terlintas dalam  pikiran, jika saya ingin resign dari perusahaan. Perjalanan karir selama 14 tahun lamanya, dalam sekejap menjadi sesuatu yang tak menarik lagi utuk dilanjutkan. Dan ketika saya berkonsultasi kepada orangtua dan beberapa sahabat tentang rencana konyol ini, pada dasarnya banyak yang mempertanyakan. Ada yang menyayangkan, tak sedikit pula yang merayu untuk mengurungkan. Ada juga yang memikirkan bagaimana saya akan menjalani hari tanpa bekerja. Bahkan perusahaan juga mencoba untuk tak merespon hal ini.









Saya mencoba memaklumi tentang reaksi yang terjadi. Wajar saja banyak orang menyayangkan. Semuanya akan berakhir setelah 14 tahun lamanya. Penghasilan, status sosial, keseruan bekerja, kesempatan menambah ilmu, peluang memperbanyak teman, dan pencapaian puncak karir. Bahkan dikejar jadwal finger tepat waktu di pagi hari, dan berebut kembali di sore hari, menjadi keseruan tersendiri ketika bekerja.









Entahlah. Tetapi semakin lama, keinginan untuk resign semakin kuat. Terlebih ketika menyaksikan satu per satu teman baik, juga melakukan hal yang sama. Tentunya dengan berbagai alasan yang menyesuaikan kondisi masing-masing.









Akhirnya setelah banyak melalui sesi sharing dan mempelajarinya, ada beberapa hal yang melatarbelakangi seseorang ketika mengambil keputusan resign dari sebuah perusahaan. Dan semuanya bukan merupakan hal yang mudah.













Jenjang Karir Saya ke Arah Mana Ya?






Sejak awal bekerja di suatu instansi atau perusahaan, pasti memiliki tujuan pancapaian jenjang karir setingi-tingginya. Bagi beberapa orang, kesuksesan diukur dari keberhasilannya mencapai level tertinggi yang ada di tempat ia bekerja. Contoh jika ia bisa diangkat sebagai direktur atau manager utama. Jadi apabila seseorang belum sanggup mencapai tingkat jabatan tertinggi, bisa jadi itulah yang menyebabkannya perlahan mulai berpikir, untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Ia akan merasakan tekanan yang luar biasa, ketika jenjang karirnya hanya jalan di tempat tanpa ada peningkatan.









pixabay.com








Saya Mulai Stress.





Semakin lama bekerja, tentunya akan membuat beban tugas dan tanggung jawab dalam perusahaan semakin meningkat. Alhasil pikiran dan tubuh sudah mulai merasakan kelelahan secara perlahan. Serangan stress juga akan  terus bertambah dari waktu ke waktu. Apalagi jika beban pekerjaan yang semakin berat ini, tak diimbangi dengan penghasilan yang sesuai. Besaran  penghasilan masih saja berkisar pada angka yang sama. Jika sudah begini, masih mungkinkah seseorang mempertahankan pekerjaannya?









Perusahaan dan Kebijakannya.









Perusahaan adalah tempat seseorang mencari penghasilan dan aktualisasi diri.  Fakta inilah yang menyebabkan perusahaan  membentuk berbagai aturan dan kebijakan, yang harus dipatuhi oleh karyawannya. Ini semua agar karyawan  tetap bekerja sesuai standar yang diharapkan perusahaan. Dan sebagai imbalannya, karyawan akan mendapatkan penghasilan sesuai hasil pekerjaannya. Akan tetapi ada kalanya perusahaan membuat suatu kebijakan, atau peraturan baru serta keputusan, yang bisa jadi tak seperti harapan semua karyawan. Sebagai contoh kebijakan pengurangan pegawai yang kurang berkompeten, demi menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan. Hal  seperti ini jelas akan membuat karyawan kurang bisa menerima keputusan perusahaan. Sehingga bagi karyawan yang termasuk dalam daftar pengurangan tersebut, jelas akhirnya mengambil keputusan resign, dan segera angkat kaki dari perusahaan.









Kurang Penghargaan.





pixabay.com








Tak semua perusahaan atau instansi bersikap obyektif, dalam menilai kinerja karyawannya. Ada yang memberikan penghargaan atas dasar kedekatan hubungan personal, atau seberapa pandai seorang karyawan menjilat atasannya, tanpa melihat prestasi yang diberikan pada perusahaan. Di sisi lain, ada beberapa karyawan yang bekerja sungguh-sungguh dan ikhlas, membawa perusahaan ke arah yang lebih baik. Namun ada kalanya karyawan seperti ini justru dipandang sebelah mata, dan dianggap tak pernah memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan. Jika karyawan tersebut mulai merasakan ketidak nyamanan atas kondisi ini, maka perlahan tapi pasti, ia akan memilih jalan keluar dari perusahaan, untuk mencari tempat lain, yang bisa memberi nilai lebih atas kinerjanya.









Saya Kurang Sehat.






Tak bisa dipungkiri, kesehatan adalah salah satu hal utama, yang harus menjadi prioritas dalam hidup ini. Sebab jika tubuh dalam kondisi sehat dan prima, pastilah akan mudah melakukan apapun, termasuk bekerja. Coba bayangkan saja. Ketika flu yang tergolong penyakit sederhana menyerang tubuh, niscaya penyakit ini akan sanggup mengganggu konsentrasi dalam bekerja. Tubuh akan terasa lelah, pusing dan masih banyak lagi. Otak pun akan mengirim sinyal, jika tubuh membutuhkan istirahat demi pemulihan dari penyakit. Terlebih bagi seseorang yang mengidap penyakit cukup serius. Penyakit yang membutuhkan waktu khusus  untuk memantaunya. Penyakit yang mengharuskan selalu kontrol dalam waktu yang ditentukan dokter. Pada akhirnya, mau tak mau pasti terlintas dalam pikiran, untuk lebih baik mengundurkan diri dari perusahaan dan lebih focus memperhatikan kesehatan, agar siklus pekerjaan tetap berjalan baik, dan tak menganggu profit perusahaan.









Saya sedang Bermasalah dalam Keluarga.









Ada beberapa orang yang tak bisa memilah, antara kepentingan perusahaan dan pribadi. Permasalahan kantor terbawa sampai ke rumah, atau sebaliknya permasalahan di rumah terbawa hingga ke kantor. Terlebih jika terjadi permasalahan dalam keluarga, yang sangat menguras fisik dan pikiran, seperti ketika menghadapi kejadian perceraian. Finally seseorang pun lebih memilih untuk mundur dari perusahaan, agar lebih fokus pada penyelesaian permasalahan pada dirinya. Meskipun tak bisa menjamin, berapa lama permasalahan ini dapat diselesaikan, resign akhirnya menjadi salah satu jalan terbaik, bagi diri sendiri juga perusahaan, agar semua kepentingan bisa berjalan baik.









Saya Ingin Alih Profesi.









Bukan rahasia lagi jika berbagai macam bisnis, bertaburan di kalangan masyarakat. Rata-rata bisnis tersebut, menawarkan banyak keuntungan, yang jujur sangat menggiurkan. Tak hanya itu, aktivitas bisnis yang sangat fleksibel, dan tak terikat waktu, membuat seseorang mulai beralih profesi, menjadi pebisnis, dan meninggalkan dunia perkantoran. Apalagi kemajuan teknologi yang memudahkan seseorang, menjalankan bisnis hanya dari aktif di media sosial, memaksimalkan penggunaan gadget, serta bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Meskipun pada awalnya harus ekstra berjuang memulainya, tetapi ketika sudah konsisten, alhasil sebuah bisnis mampu memberikan keuntungan dan penghasilan, yang tak kalah berlimpah dari pekerja kantoran dengan penghasilan tetap. Itulah sebabnya saat ini banyak orang mulai berpikir menjalankan bisnis, dibanding bekerja sebagai karyawan perusahaan. 









Sudah Waktunya Mementingkan Keluarga.





pixabay.com









Untuk alasan ini, mayoritas tercetus dari karyawan perempuan, yang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Menjadi karyawan dan ibu rumah tangga di waktu bersamaan, tentu bukanlah pekerjaan mudah. Apabila tak bisa mengatur waktu dengan baik, pastilah ada salah satu tugas dan tanggung jawab yang terbengkalai. Jika pengaturan waktu berjalan baik, dan terbiasa menjalaninya setiap hari, sudah pasti hal ini tak menjadi masalah. Tetapi tak semua wanita mampu menjalani dua peran sekaligus. Nah, ketika dua peran tersebut tak berjalan semestinya, niscaya ia akan memilih prioritas di antara keduanya. Dan bisa jadi ia akan lebih memilih mengundurkan diri sebagai karyawan, dan mengabdikan dirinya sebagai ibu rumah tangga, dengan aktivitas baru mengurus keluarga.









Oh No, Saya Mulai Jenuh.









Ada beberapa karyawan yang dalam kurun waktu lama, sulit sekali mendapatkan penyegaran, atau hal baru dari perusahaan.  Sebagai contoh ketika ia tak pernah mengalami mutasi ke daerah atau divisi lain, atau terus berada dalam jabatannya saat ini. Layaknya kehidupan sehari-hari, yang juga membutuhkan refreshing sejenak dari segala rutinitas, maka dalam bekerja juga membutuhkan penyegaran. Tujuannya tak lain agar pikiran tidak mudah jenuh, dan terasa lebih fresh,   dengan bertemu orang baru, tanggung jawab baru, juga aktivitas yang lebih menantang. Namun ketika perusahaan tak memikirkan hal itu, seseorang bisa berpotensi jenuh dengan pekerjaaannya. Dan resign bisa jadi salah satu tujuan yang akan dilakukannya.









Wah, Sepertinya di Sana Lebih Menarik.









Bagi karyawan usia muda, jenjang karir menjadi tujuan utamanya. Segala hal akan ia lakukan demi pencapaian tertinggi dalam karirnya. Sesuai dengan jiwanya yang masih memiliki idealisme, tentang memandang arti sebuah pekerjaan. Tak hanya jenjang karir, besarnya penghasilan, menjadi tolok ukur keberhasilannya. Ia akan merasa bangga, jika di usia masih sangat muda sudah mampu berpenghasilan sendiri. Terlebih jika pekerjaannya sangat sesuai dengan harapannya. Tetapi ketika ada  perusahaan lain yang menawarkan kompensasi lebih baik, dibanding perusahaan sebelumnya, niscaya ia akan memilih hengkang, dan mencoba peruntungan di tempat baru dibanding tetap bertahan.









Bekerja merupakan salah satu cara seseorang untuk berpenghasilan, menaikkan standar hidup, serta menunjukkan status sosial di kalangan masyarakat. Namun tak selamanya semua harapan bisa tercapai sesuai keinginan. Ketika sudah tak berjalan semestinya, bisa jadi resign adalah solusi terbaik. Tentunya dengan tetap mempersiapkan diri menghadapi resiko, serta solusi pengganti   terbaik pasca keputusan resign.


Yuk Lanjut

8 Manfaat Ngeblog bagi Ibu Rumah Tangga, No 8 Asyik Banget

                                                                               Pexels Menekuni dunia menulis di media blog sejak lima tahun ...